Rabu, 15 April 2015

ini alasan sekolah asing menggemari budaya Indonesia.

Karakter sering merujuk kepada ciri khas seseorang. Karakter juga dipahami sebagai perilaku keseharian seseorang yang tergambar  abadi dalam diri sendiri. Gambaran itu berupa sikap tingkah laku setiap hari dalam melakukan aktifitas yang bersifat baik maupun buruk. Karakter ini dihasilkan dari sebuah pembelajaran aktifitas kehidupan  di sekolah, di rumah, di masyarakat dan lingkungan dimana kita berada. Di sekolah Eropa khususnya Belgia, pembentukan karakter sering menggunakan metode pembelajaran seni budaya asing. Seni budaya yang berkembang di Belgia dijadikan materi  pembelajaran  untuk pembentukan karakter tsb. Salah satunya adalah seni budaya Indonesia.



Pada bulan Februari dan Maret lalu 2015, KBRI Brussel, British School of Brussels  (BSB) dan Dharma Wanita  KBRI Brussel telah  mengadakan pembelajaran seni budaya Indonesia. Adapun pelatihnya adalah Ibu Rosa untuk angklung dan Made Agus Wardana untuk gamelan dan kecak. Berjumlah 90 murid tingkat sekolah dasar secara intensif mempelajari seni budaya Indonesia di Aula KBRI Brussel.  Seni Budaya Indonesia menjadi pilihan utama mereka. Menurut Fiona, Direktur Departemen Musik BSB, Seni Budaya Indonesia terutama Angklung, Gamelan dan Kecak sangat tepat dijadikan materi pembelajaran.  Adanya nilai nilai moral dan etika, sopan santun serta menghargai budaya lain menjadi ciri khas budaya Indonesia.   Angklung misalnya, kita diajarkan memainkan dengan nuansa kebersamaan tanpa individu. Masing-masing pemain memegang satu instrumen dengan nada do, re, dans etrusnya.  Kita tidak mungkin main sendiri, tapi kita main secara bersama-sama membentuk harmoni. Nilai itulah yang kita kembangkan, ‘’ ujar Fiona.


Gamelan Bali memiliki jumlah pemain 24 orang dan masing-masing pemain memainkan instrument yang berbeda-beda. Ada yang memainkan bagian melodi, gong, kendang (drum), cengceng (cymbal) dan lain lain. Untuk penabuh pemula, memainkan gamelan Bali butuh waktu lama dalam menguasainya. Kadang-kadang murid menjadi bosan dan tidak suka.  Namun demikian, pada tahap awal murid-murid ini dibekali melatih kesabaran sambil menunggu giliran mendapatkan pelatihan. Satu demi satu murid murid dilatih dengan tempo pelan, sampai akhirnya menguasai tekhnik memukul gamelan yang benar. 

Disinilah, pentingnya seorang guru seni yang sabar. Bagaimana caranya melatih jiwa  atau karakter mereka dalam bermain gamelan. Guru harus memberikan suasana "senang" kepada anak didiknya. Humor segar selalu diselipkan dalam setiap penjelasan.  Ini sangat berguna  untuk menahan konsentrasi mereka supaya terfokus untuk belajar gamelan itu sendiri. Materi seni yang dimainkan adalah tingkat dasar,  sehingga mereka dengan cepat dapat menguasai/membunyikan gamelan bali tersebut. Guru juga harus pandai-pandai membuat anak didiknya agar  menjadi  terkesan dan terhibur dalam pembelajaran tersebut.




Materi seni yang paling disukai oleh murid BSB dalam pembelajaran seni budaya ini adalah tari kecak. Kecak adalah seni tari, musik, drama. Awal-awalnya kalau mereka mendengarkan kata menari, murid yang laki laki terutama selalu bereaksi kurang suka. Setelah diberi penjelasan bahwa kecak adalah sebuah tarian kecak yang memerlukan energi, pendramaan, bersemangat, lucu dan banyak humor disaat itu pula mereka serentak bersemangat.

Dalam kecak, murid dibagi menjadi 3 kelompok. kelompok pertama menyanyikan Cak telu/tiga, kelompok kedua cak besik/satu dan ketiga Cak Pitu/tujuh, ketiga model cak tersebut kalau dinyanyikan bersama akan menghasilkan bunyi cak ritmis yang saling bersahutan. Dengan tempo pelan, jari tangan bergetar, meliuk-liuk seolah-olah suasana api membara atau riak riak air kemudian menggelengkan kepala sambil tersenyum, mata melotot, bahu berjingkrak jingkrak keatas mereka sudah  terhipnotis  dengan ritme Cak Cak Cak PungPung, Cak Cak Byuk Sir. Walaupun bunyi Cak tersebut tidak mengandung arti, hanyalah ritme saja, mereka tetap saja bersemangat sambil menutup kecak dengan bunyi Cak Cak Byuk Sir.  Tepuk tangan tiada henti, pertanda mereka senang dan terkesan dengan apa yang mereka pelajari. Banyak hal yang ditemuinya, didapat dan sudah barang tentu akan terpatri selamanya di dalam hati sanubari murid murid tersebut.


Membina karakter sejak dini
           
            Ada yang patut dibanggakan oleh kita sebagai warga Indonesia. Kebudayaan kita dicintai dan dijadikan pedoman pembentukan karakter anak didik di negeri orang. Kebudayaan yang berakar dari kearifan masa lampau memberikan ketauladanan dalam aspek kehidupan tidak saja di Indonesia bahkan di luar negeri. Kadangkala kita juga ikut sedih. Karena sebagian orang kita sendiri masih menganggap budaya kita kuno dan ketinggalan zaman.


Kegiatan yang dilakukan BSB ini, adalah sebuah bukti kebudayaan Indonesia bukanlah kuno atau ketinggalan zaman. Mereka mengetahui  bahwa musik angklung, musik gamelan dan tarian kecak dapat membuat  mereka senang. Mereka paham akan nilai positif yang muncul berkat pembelajaran seni budaya Indonesia tersebut. Murid-murid  terlihat gembira membangun kecintaan, menyenangi budaya orang lain sehingga karakter mereka terbina dengan baik sejak usia dini. (Ciaaattt-MB)

Senin, 06 April 2015

Menyegarkan Pikiran di Bali Niksoma dan Royal Pita Maha




Bali Niksoma Boutique Beach Resort, Legian

Ombak berbunyi riuh menghempas pesisir pantai yang putih nan indah. Desir angin mengusap  wajah galau menjadi terpukau. Turis-turis menggelar handuk sambil terlentang bebas menghirup udara  segar. Matahari membenamkan dirinya di belakang awan yang melintas pelan di depannya. Seolah-olah membisikkan kepada para turis sudah waktunya istirahat, besok saya akan terbit lagi.





Senja itu, di Restoran Hitana, Hotel Bali Niksoma yang berhadapan langsung dengan Pantai Legian,  para pegawai restoran setia melayani para pelanggan. Pelayanannya sangat baik, sopan dan profesional. Saya duduk ceria menikmati secangkir Cappucino sambil menunggu kedatangan sahabat lama Nyoman Astama yang menjadi GM (General Manager) di Hotel Niksoma. Sesosok sahabat yang profesional di bidangnya, masih tetap bersahaja sambil menyapa ramah kepada siapapun yang melintas di hotel yang dipimpinnya tersebut. Ramah tidak dibuat-buat, murni dari  lubuk hati yang dalam sebagai identitas warga Bali yang selalu mengedapankan etika dan tata krama dalam kehidupan sehari-hari.


Hotel Bali Niksoma, didirikan pada tahun 2003 di atas tanah seluas 1 hektar dengan jumlah 57 kamar. Terletak di daerah Legian, 10 km dari Bandara Ngurah Rai Bali. Desain arsitektur hotel berparas tradisional Bali dikombinasikan dengan wajah modern. Sebagai salah satu hotel yang menjaga open space dengan ketinggian 3 lantai di depan pantai, hotel yang bertipe resort ini dinobatkan sebagai Indonesia Leading Boutique Resort 2014/2015 oleh Indonesia Travel & Tourism Awards. Karyawan hotel berinteraksi dengan turis secara kekeluargaan dengan tidak mengganggu kenyamanan mereka. 


Selang beberapa waktu, hidangan khas crispy duck (bebek goreng) disajikan sangat menarik. Tanpa basa-basi saya langsung saja lahap menyantap bebek goreng garing dengan daging yang sangat lembut. Rasanya sangat enak dibumbui sambal matah ala Bali dengan nasi  putih plus sayur segar lalapan.  Sajian berikutnya adalah Desert Chocolate Lava, yaitu sebuah kue cokelat apabila dinikmati akan keluar lelehan coklatnya. Maka sering disebut dengan cokelat lava meleleh. Yang membuatnya tricky adalah proses pemangggangan. Jika memanggang terlalu matang maka lelehan cokelat tidak akan keluar. Butuh kesungguhan hati untuk menghidangkan chocolate cake ini. Saya jamin para pembaca akan tergoda untuk menikmati di sini. Lelehan lava cokelatnya terasa lezat menggugah selera.


Satu malam berada di hotel ini, terasa sangat nyaman.  Melepas kesibukan setelah beberapa hari saya memiliki urusan berat di mana waktu, kesabaran dan tenaga terkuras habis.  Saya memanjakan diri di kamar Deluxe Room, ruangan dengan luas 38 m2 diramu dengan desain interior nuansa cerah menawan. Memiliki private balcony yang berhadapan langsung ke pantai Legian lengkap dengan  pemandangan taman mungil yang asri. Privasi sangat terjamin, cocok buat menenangkan hati yang sedang penat sepanjang hari. Harga per malamnya bervariasi mulai dari  Rp. 1,8 juta untuk kamar Superior hingga 7 juta untuk villa dengan kolam renang sendiri, tergantung pilihan.  Dengan harga sekian para pembaca akan mendapatkan apa yang dinginkan, yaitu kenyamanan, kepuasan hati dan pelayanan yang sangat ramah.  Saya rekomendasikan bahwa hotel ini adalah pilihan populer. Populer karena pelayanan ramah yang mampu mengundang  para bintang tenar dari dalam dan luar negeri tinggal di sini.  Dan yang terpenting adalah stres akibat kerja keras yang anda lakukan dikantor atau di mana saja, akan hilang dengan sendirinya, dihapus deru ombak pantai Legian yang cantik itu. 


Royal Pita Maha, Ubud Bali

            Terus terang, saya bukanlah traveler yang berkantong tebal. Saya adalah seorang penabuh gamelan Bali yang kebetulan melakukan perjalanan berkesenian kemana-mana. Disela-sela perjalanan itu, saya selalu mewawancarai teman, sahabat hingga maestro seni yang telah berhasil karena kegigihannya bekerja dengan tetap fokus menggali potensi lokal dan menjaga tradisi budaya lokal setempat.  Salah satunya adalah pemilik The Royal Pita Maha, Desa Kedewatan  Ubudyaitu Tjokorda Gde Raka Sukawati. 

Tjok De


            Bercakap siang hari di Dewata Lounge, Restaurant  Royal Pita Maha, tempat dimana kita dapat menikmati keindahan panorama sungai ayung yang menakjubkan.  Sangat asri, alami dikelilingi perbukitan hijau. Dari ketinggian ini, terlihat bangunan vila tradisional berjejer rapi beratap jerami.  Dewata Lounge ini sangat ideal untuk menikmati cocktail di sore hari sambil ngerumpi kesana kemari.

            Dalam pertemuan itu,  Tjok De panggilan akrab Tjokorda Gde Raka Sukawati bercerita tentang Royal Pita Maha yang dirancangnya sendiri.   '' Pada tahun 1999, saya mengawali pembuatan resort ini dengan meditasi, memohon keselamatan dengan upacara adat Bali.  Bertekad ingin mempertahankan arsitektur budaya Bali,  Tjok De membangunnya melalui sebuah konsep filosofis Bali yang disebut Tri Hita Karana, konsep tiga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia lainnya, dan manusia dengan lingkungan untuk mencapai keselamatan dan kedamaian alam semesta.'' ujar Tjok De.

            
Dengan ideliasme sebagai seorang undagi/arsitek Bali, maestro ini mendesain letak bangunan, menata jalan berundag-undag, mempercantik, memoles dengan bunga-bunga tropis, dan mengukir batu-batu paras yang berada di tebing curam.  Alhasil, dengan bantuan 1500 orang pekerja, pada tahun 2004 Hotel The Royal Pita Maha Ubud akhirnya rampung selesai. 

Tiba-tiba saja, Tjok De melalui General Manager Hotel Pande Sutawan menawarkan saya untuk menikmati alam indah swargaloka ini. Dengan perasaan malu tapi mau, pertanda ''ingin banget'' dan  tidak sabar ingin berbaring di  vila yang sangat memukau ini. Lantas, sambil memegang kunci vila no 160 perlahan-lahan melintas  menuju  Royal Pita Maha Pool Villa sambil menenteng ransel berbekal buku-buku perjalanan wisata.  Kamar vila berukuran luas dengan kamar mandi berkonsep spa dengan bathtub berbentuk hati. Vila ini bagaikan surga nyata, eklusif dengan infinity edge pool atau kolam renang tak bertepi menampilkan efek visual air menembus cakrawala, memanjang sampai jauh ke ujung. 



Byuuur ! saya meloncat ke kolam renang dengan kedalaman 1,5 meter. Berenang sepuasnya beberapa kali putaran. Rasanya sejuk, adem, tentram, nyaman dan  tenang. Saya terdiam seribu bahasa. Menutup mata memusatkan pikiran sambil menarik nafas dalam-dalam guna  menetralisir aura negatif dalam tubuh. Melepaskan kecemasan, membuang stress, membuang amarah dan melakukan rileksasi. Suara burung berkicau Indah. Inilah Royal Pita Maha Ubud sebagai  swargaloka nyata yang ada di tanah Bali.



Menyegarkan hati dan pikiran
            
Dimanapun kita berada, tertimpa masalah sudah menjadi hal yang biasa. Setiap waktu, masalah datang silih berganti baik yang besar maupun yang kecil. Ketika kita berada di negeri orang kemudian tertimpa masalah, kita harus siap menghadapinya. Hidup di Eropa itu belum tentu enak. Kita membutuhkan perjuangan yang sangat berat untuk mencari enak itu. Segala sesuatunya mahal. Setiap bulan kita diwajibkan dengan bayar sewa rumah, bayar asuransi kesehatan, bayar transportasi, bayar anak sekolah kalau berkeluarga, bayar ini dan bayar itu, dll. Pedihnya lagi, kalau hidup kita tidak ada jaminan sosial (tunjangan anak-anak) dan uang pensiunan. Sanggupkah  kita bertahan hidup ?  Barangkali, salah satu jawabannya adalah berupaya sekuat mungkin. Jangan takut mencari celah kerja dalam kesempatan ditengah kesempitan. Cerminan diatas adalah riak-riak kehidupan yang saya hadapi di Belgia ini. Untuk itulah, saya sebagai penabuh gamelan yang tinggal di Eropa khususnya di Belgia, berjuang terus kesana kemari, menulis cerita perjalanan sambil menebarkan kesenian tradisional Indonesia demi menghidupi istri dan ketiga anak saya tersayang. 

Dan ketika saya pulang ke Bali akhir bulan Februari 2015 karena orangtua meninggal, saya sangat beruntung mendapat kesempatan  ‘’menyegarkan hati dan pikiran’’ di Hotel Bali Niksoma dan Royal Pita Maha Ubud.  Kedua hotel itu memberikan kekuatan dan energi  baru bagi saya. Semua itu adalah anugerah, disaat kita susah, ada yang memberi ketenangan dan kedamaian. Saya percaya bahwa persahabatan yang telah saya lakukan kepada beliau-beliau tersebut diatas, membuahkan karma yang baik pula. Hidup sayapun menjadi lebih berarti, dan menyegarkan hati saya kembali untuk lebih giat dan kuat menghadapi tantangan kehidupan di Eropa terutama di Belgia ini.

dimuat di kompas : menyegarkan pikiran di bali niksoma dan Royal Pita Maha

Rabu, 01 April 2015

Ketika senyum Indonesia, jadi idola warga Eropa.

Ketika senyum Indonesia, jadi  idola warga Eropa.

Senyuman memiliki daya untuk menarik.  Senyuman pula mempengaruhi suasana hati seseorang. Memang benar bahwa senyuman ramah mampu untuk menarik orang-orang agar mendekat kepada kita. Disaat saya melantunkan gending Rindik Bali di  Stand Indonesia dalam  Pameran Wisata Brussels Holiday Fair 2015, ketika itu pula saya menawarkan senyuman ramah kepada setiap pengunjung pameran.  Wajah sumgringah berkedip  simpatik, menggoda ramah  pengunjung mencairkan suasana asing menjadi akrab.





Sebagai penabuh gamelan, saya memainkan gamelan Rindik Bali dengan lembut dan pelan. Memainkan 2 buah panggul (alat pukul) yang panjang dengan ujung berlapis karet menghasilkan suara lembut tanpa memekik  telinga. Rindik yang berwarna elegan keemasan dengan ukiran artistik style Bali menggunakan bambu sebagai sumber bunyi.  Bunyi halus dan bernuansa alam  pedesaan dengan sawah sawah berundag-undag.  Pengunjung sangat tertarik. Mereka datang berbondong ingin melihat, memainkan, memotret hingga selfie. Bahkan mereka antusias untuk  datang dan belajar khusus gamelan rindik ini. Kebetulan pula, yang mengidolakan rindik ini adalah anak anak muda yang belum pernah mengenal Indonesia.

Dalam buku travel guide, tabloid wisata dan media internet, saya sering membaca kalimat Indonesia bukan saja dikenal karena keindahan alamnya, budayanya tetapi juga karena keramahan penduduknya.  Kalimat diatas untuk sementara waktu  masih dipercayai oleh calon wisatawan. Keramahan itu tidak dibuat-buat, keramahan adalah memang tradisi alami nenek moyang kita.  Sungguh sedih, jika keramahan Indonesia kita hilangkan begitu saja. Kita harus tetap mempertahankannya, karena bermanfaat bagi kita. Dengan memberikan senyuman ramah, berarti kita membuat orang lain senang, dengan begitu kitapun akan ikut senang dan bahagia pula.








Barangkali, inilah salah satu keunikan Indonesia yang mesti terus ditonjolkan dihadapan publik Eropa. Calon wisatawan akan tersentuh hatinya. Munculah cinta kepada negeri kita. Kalau mereka sudah mencintai, tahulah apa yang akan terjadi kemudian. Cinta akan membara  dan saya yakin pasti mereka akan segera mengunjungi keanekaragaman budaya tanah air Indonesia.

Brussels Holiday Fair (BHF)
           
Setiap tahun pemerintah Belgia menyelenggarakan pameran wisata terbesar yang dikenal dengan Salon des Vacances/Vakantiesalon/Brussels Holiday Fair 2015 di kota Brussel Belgia.  Tahun ini, BHF menginjak tahun pelaksanaan ke-57 dan diikuti oleh 700 peserta pameran menempati lahan seluas 44.920 m2.  Sepanjang lima hari kegiatan  dari tanggal 5 – 9 Februari 2015, BHF tercatat dihadiri oleh 97.586 orang pengunjung dan diliput oleh 133  wartawan dari media massa setempat.



Stand Indonesia yang digelar oleh KBRI Brussel menempati lahan seluas 48m2 (dengan empat sisi) di Hall 7, bersama sama dengan peserta lainnya yang menawarkan destinasi jarak jauh (long haul destination). Stand Indonesia mempromosikan dan memasarkan destinasi wisata Indonesia, budaya unik, informasi visa yang bekerjasama dengan operator lokal Belgia Transeurope  dan Garuda Indonesia. Disamping itu tidak ketinggalan promosi Kopi  dengan indikasi geografis Indonesia kepada para pengunjung seperti kopi Gayo, Kintamani, Java Ijen raung, Java Prienger, Toraja dan Robusta Lampung. 



Rabu, 18 Maret 2015

Gamelan Gong Kebyar Bali di Gennevilliers, Perancis


            Sebanyak enam kali pertunjukan dalam 2 hari berturut-turut dari tanggal 12 - 13 Maret 2015,  Puspa Warna sebuah grup gamelan Bali dari Paris Perancis membuat kagum  publik  Perancis di L’espace Aime Cesaire - Kota Gennevilliers, 10 km dari Menara Eiffel Perancis. Publik yang terdiri dari anak-anak, akademisi, pemusik dan  penari profesional serta kalangan umum seakan tiada henti mengumbar senyum kepuasan menyaksikan pertunjukan tersebut. Termasuk didalamnya berbaur akrab Bapak Duta Besar RI untuk Perancis  Dr. Hotmangaradja Pandjaitan, yang berkesempatan hadir dalam kegiatan tersebut. Sangat hebat ! Itulah ungkapan mengesankan Dominique Meyrand, panitia penyelenggara program seni budaya Conservatoire de Gennevilliers terhadap penampilan grup Puspa Warna ini.






            Pertunjukan seni Bali yang bertitel Musique et Danse  Ã  Bali merupakan salah satu program pengenalan musik dunia yang diperkenalkan di sekolah musik ‘’Conservatoire de Gennevilliers’’. Program tersebut ditujukan khusus kepada anak-anak sekolah dasar dan umum yang berjumlah 1000 orang. Disamping anak-anak tersebut memainkan gamelan dalam bentuk workshop, mereka juga diberikan pengetahuan tentang kebudayaan Indonesia yang sekaligus menyaksikan langsung pertunjukan  ‘’Musique et Danse a Bali ‘tersebut.



            Grup Puspa Warna didirikan tahun 2011 oleh Trio Penabuh Gamelan Bali - Paris (Jeremie Abt, Tseng Hsiao Yun dan Théo Mérigeau).  Adapun materi seni yang ditampilkan diantaranya tari Panyembrama, Kebyar Duduk, Rejang, Topeng Bondres, Tabuh Hujan Mas dan Barong Ket.  Tari Panyembrama dan Kebyar Duduk secara bergantian ditarikan oleh Kadek Puspasari dan Ilse Peralta warga Meksiko. Tari Rejang ditarikan oleh anak-anak Indonesia dan Indo-Perancis yang dibina oleh Kadek Puspasari. Topeng Bondres dibawakan oleh I Gede Tapa Sudana, Mas Soegeng dan Made Agus Wardana. Sedangkan Tari Barong ditarikan oleh Made Agus Wardana, Théo Mérigeau dan Christophe Moure.




Topeng Bondres
Bondres sebagai sebagai bagian dari drama tari topeng, menampilkan 3 tokoh unik yaitu tokoh Penasar/Punta (Tapa Sudana) Kartala (Made Agus Wardana) dan tokoh khusus  Kartolo Jawa (Mas Soegeng). Ketiga tokoh tersebut memerankan karakter yang berbeda-beda menggunakan bahasa Bali, Indonesia dan Bahasa Perancis.  Seniman teater Tapa Sudana yang sudah menetap 30 tahun di Perancis memerankan sangat pas  seorang penasar yang menterjemahkan bahasa dan gending Bali ke bahasa Perancis. Publik sangat mudah mengerti dan memahami pesan-pesan moral yang disampaikan. Salah satu pesan tersebut  adalah pentingnya pedoman ajaran etika dharma dalam agama Hindu Bali yang dikenal dengan Tri Kaya Parisudha. ‘’ Pikirkan sesuatu itu dengan Baik, Berkatalah yang baik serta Berbuatlah yang baik ‘’. ujar Tapa Sudana diatas panggung pertunjukan.  




Mas Soegeng, seniman teater yang berdomisili di  Perancis ini memerankan seorang Kartala yang lahir di Jawa dan diberi nama Kartolo. Dengan peran lemah-lembut Kartolo melantunkan Gambang Suling Jawa yang diiringi dengan gamelan Bali. Sedangkan Kartala yang diperankan oleh Made Agus Wardana Seniman Bali yang tinggal di Belgia melantunkan gending Bali dan gerak tari yang mempertunjukan mimik topeng WajahkuWajahmu, dimana wajah topeng tersebut memiliki kemiripan dengan wajah pemakainya. (Ciaaattt-MB)



Jumat, 06 Maret 2015

Kadek Juliana : Pengrajin topeng berbakat alami dari Singapadu



                Beruntunglah mereka yang dibekali bakat atau talenta dalam hidupnya. Bakat yang sudah dibawa sejak lahir itu merupakan faktor bawaan.  Jika didukung dengan ketrampilan, bakat tersebut akan menjadi sebuah kelebihan.  Sebaliknya jika bakat dibiarkan saja tanpa pengarahan dan pendidikan maka bakat tersebut akan tidak berguna sama sekali.

Dek No

                Kadek Juliana, 33 tahun lahir di Banjar Abasan, Singapadu Bali tekun mengukir, mengasah, memoles hasil karyanya berupa topeng-topeng khas Bali.  Bakat khusus sebagai pengrajin topeng yang dimilikinya dimanfaatkan secara optimal.  Dengan motivasi kuat serta minat besar  Dek No panggilan akrabnya berhasil menjadikan dirinya seorang pengrajin topeng professional. Hasil karyanya dilirik tidak saja dari Bali tetapi juga ke manca negara.

Ditemui disela-sela kesibukannya memahat topeng,  rangda dan barong  Dek No bertutur sopan dan santun menyambut  siapa saja yang datang berkunjung ke pondok ‘’Kubu Topeng’’ miliknya. Karya-karya topeng yang dibuatnya menggunakan Warna Bali, yaitu warna autentik Bali yang menggunakan bahan dasar tumbukan tulang atau tanduk binatang bercampur  mangsi (sisa pembakaran) dan batu gunung yamg memancarkan warna asli alami. Tangan terampil dan ketekunan kunci sukses Dek No mengembangkan karirnya.  Disamping itu tempaan ayahandanya I Nyoman Juala, yang juga sebagai pengrajin topeng kesohor di desa Singapadu Gianyar.



Hasil karya beberapa topeng yang dipajang di Pondok Kubu Topeng menarik seorang peneliti topeng Charlie Windelschmidt dari Perancis. Charlie sangat terpikat dengan gaya, tekhnik, warna Bali yang digunakan Dek No.  Sebagai seorang peneliti yang dua bulan berada di Bali, Charlie tidak saja memesan beberapa topeng, dia juga belajar membuat topeng seperti topeng Sidakarya, Rangda dan Barong.  Topeng tersebut akan diperkenalkan di Perancis dalam berbagai kegiatan budaya, pameran maupun pertunjukan kontemporer.  Karakter, bentuk, warna, ritual serta tradisi yang menguatkan keunikan topeng Bali menjadi pilihan Charlie. ‘’Saya bangga dan senang tinggal dirumah Dek No, disamping belajar membuat topeng, saya bisa tinggal dan menikmati kesederhanaan kehidupan seorang seniman yang ramah di Bali ini, ujar Charlie penuh antusias.

Topeng ‘’WajahkuWajahmu’’

                Salah satu karya terunik dari Dek No adalah Topeng ‘’WajahkuWajahmu’’. Topeng  ini berwajah simpatik dengan karakter ramah memiliki kemiripan dengan wajah pemakainya yaitu Made Agus Wardana, seniman Bali tinggal di Belgia.  Topeng ini merupakan pesanan khusus terbuat dari kayu pole.  Pengerjaan sangat detail dan menghabiskan waktu berminggu-minggu.  Hasilnya luar biasa dan  sesuai dengan wajah pemakainya.   Topeng tersebut akan ditampilkan dalam pertunjukan topeng Bondres  dalam program Musique et Danse de Bali  tanggal 13 Maret 2015 di kota Gennevillers, 10 km dari Menara Eiffel Paris, Perancis. Dalam pertunjukan topeng Bondres tersebut akan ditampilkan seniman-seniman topeng yang menetap di Perancis dan Belgia diantaranya Tapa Sudana, Mas Soegeng dan Made Agus Wardana. Bondres ini akan menggunakan bahasa Perancis sebagai bahasa pengantar yang diiringi gamelan Gong Kebyar oleh Grup Gamelan Bali Perancis Puspa Warna.


topeng wajahkuwajahmu


Peran orang tua
                Perlu ditegaskan bahwa bakat itu ada dalam diri kita. Bakat akan berkembang jika didukung oleh didikan orang tua, pengaruh lingkungan, disiplin dalam pelatihan dan minat. Sayang sekali jika bakat anak-anak kita tidak tersalurkan dengan baik sesuai dengan kesukaannya dia. Apapun bakat yang dimiliki baik seni, olahraga, bahasa, IT, ketrampilan ataupun berjualan kalau  dikembangkan secara optimal akan memberikan kesan positif terhadap daya juangnya kelak. Dalam hal ini, peran orang tua mengarahkan dan membimbing anak berbakat sangatlah penting. Bisa dibayangkan, Dek No dengan bakatnya sebagai pengrajin topeng tanpa ada peran dan dorongan dari ayahnya Pak Juala, barangkali topengnya tidak akan pernah menjelajah manca negara.  Berkat bakat ini pula, Dek No memberikan penghidupan berarti kepada anak dan istrinya di pondok Kubu Topeng, Banjar Abasan, Singapadu Gianyar Bali.(Ciaaattt-MB)


Selasa, 03 Maret 2015

Seniman Janger Pegok yang gagah itu telah tiada (1926 - 2015)



                Mendengar kata Janger, hati kita akan tertuju pada masa muda belia. Masa-masa  dimana cinta sangat mempengaruhi gejolak asmara pemuda dan pemudi Bali.  Janger adalah seni pertunjukan tari dan vokal yang tergolong dalam tarian rakyat.  Sebagai sebuah seni pergaulan,  Kecak Janger memadu kasih melalui gerak tari ‘’merayu’’ beserta  alunan gending dengan bahasa Bali mesra yang sederhana dan sopan. Janger ditarikan oleh 24 penari laki disebut kecak dan penari perempuan disebut Janger. Beberapa grup Janger yang terkenal di Bali diantaranya Janger Kedaton, Janger Bengkel, Janger Peliatan, Janger Abian Timbul dan Janger Pegok.

I Wayan Randug


                Seorang penari Janger Pegok  Ni Wayan Kondri/Dadong Paku (87 tahun)  sangat tabah dan tulus iklas menerima kepergian suaminya tersayang yaitu I Wayan Randug/Pekak Paku (89 tahun) seorang seniman Janger asal Pegok berwajah tampan, karismatik, gagah  dan sederhana. Menurut Ni Wayan Kondri, disamping dia tergoda dengan kepiawaian menari dan menabuh, hatinya luluh jika melihat senyuman maut dan sorotan matanya yang tajam. 


Wayan Randug  (kiri), Ni Made Rikiani (tengah), Ni Wayan Kondri (Kanan)
berfoto bersama pada tahun 1955


                ’’ Yen sube ye mekenyung, usak bayun tiyange, liu nak luh bajang ipidan buduh ajak ye. Aget titiang ane makatang kenyung ne ento ’’(kalau  dia tersenyum hati saya luluh berantakan, banyak wanita tergoda dengan senyuman mautnya. Beruntung saya yang mendapatkan senyuman maut itu ) ujar dadong paku dengan terharu sambil memperlihatkan foto suaminya yang gagah itu.

                Pertemuan kisah cinta antara pekak paku dan dadong Paku yang sudah terjalin sejak tahun 1942, membuat kesenian janger lestari hingga kini. Kecintaan mereka terhadap seni janger di banjar Pegok Sesetan telah memicu gelora berkesenian generasi muda pecinta janger di daerah asalnya.  Ini terbukti dari setiap tahun diadakan pertunjukan Janger Pegok dalam odalan  Purnama Kapat di Pura Kesuma Sari Banjar Pegok Sesetan Denpasar.  Pada tahun 1991 beliau mendapat apresiasi seni dari pemerintah kotamadya Denpasar sebagai seniman tua kategori seniman janger.


Upacara Ngaben

                Pada hari Senin tanggal 16 februari 2015 pukul 12.00 ratusan pelayat mengantarkan Pekak Paku ke kuburan desa Sesetan yang berjarak 2 km.   Suara musik bleganjur mengiringi jenazah  yang diletakan diatas ‘’Wadah/Bale’’ yaitu rumah-rumahan style Bali dengan ukiran dari kertas warna keemasan. Bleganjur ini dimainkan oleh Sanggar Sunari Sesetan dibawah pimpinan Putu Wijaya Mahendra.  Bleganjur ini menghentak dinamis sebagai penggelora semangat kembali, agar pihak keluarga mengiklaskan kepergian tanpa ada rasa kesedihan lagi.

                Sementara itu dalam upacara ngaben/pembakaran jenazah, alunan sendu gamelan angklung dari Delod Tukad Sesetan pimpinan Bli Lembat ikut menghaluskan suasana bathin pihak keluarga menjadi tenang dan khidmat.  Pihak keluarga sangat terharu dan berterimakasih kepada seluruh masyarakat Pegok serta pelayat lainnya yang turut berbelangsungkawa melepas kepergian Pekak Paku. Setelah pembakaran yang berlangsung selama 2 jam,  abu jenazah tersebut ditaburkan ke laut Pesanggaran dekat Pelabuhan Benoa.  

                Upacara ngaben ini merupakan bagian dari upacara pitra yadnya, yaitu upacara yang ditujukan untuk roh leluhur. Makna upacara ngaben pada intinya adalah untuk melepaskan sang atma (roh) dari belenggu keduniawian sehingga dapat menyatu dengan Tuhan (Mokshatam Atmananm).






Seni membuat beliau tenang

                Bagi para seniman, keahlian seni adalah sebuah anugrah.  Seni apapun bentuk dan jenisnya yang sudah terpatri didalam hati, jika dimanfaatkan secara positif akan memberi arti dalam kelangsungan kehidupannya. Seni membuat kita terhibur, tenang, damai serta  awet muda. Begitu pula dengan apa yang dilakukan oleh I Wayan Randug/Pekak Paku, disaat umurnya mencapai 89 tahun dia tetap berusaha menggerakkan tangannya menari kecak dan janger  sebelum ajal menjemputnya.  Beliaupun tenang dan damai pergi ke dunia lain.  Kedamaian dan ketenangan bathin itu diperoleh berkat rasa sosial yang tinggi kepada siapapun,  kegigihan melestarikan seni janger serta kesetiaannya terhadap istrinya Ni Wayan Kondri/Dadong Paku. Sambil mengusap airmata, Dadong Paku melantunkan lagu nostalgia janger pegok tahun 1937 untuk kepergian suaminya tercinta  :

Keliki gading sampyane ejang di buduk, Pepeloke di kaleran
Kawat Kelod Kawat Kelod kawat duduk di Tembau
Niki gending sami ban tityang manuduk, Ben beloge Mejangeran
Awak belog awak belog awak sigug tuare tahu.
 (ciptaan : Nak Pegok)