Jumat, 03 Juli 2026

Janger Pegok Dalam Pesta Kesenian Bali 2026

Janger Pegok Dalam Pesta Kesenian Bali 2026 Duta Kota Denpasar Penulis : I Made Agus Wardana (Gending Klasik Janger Pegok) Sinempura ring jero penonton sareng sinamian (kecak) Sedurunge tityang sareng sami…(kecak-janger) Nunas pangempura ring jero penonton…(kecak-janger) Sawireh tityang janger tanpe guru…(kecak-janger) Saking jati tityang berdikari…(kecak-janger) Nike mawinan tambet kelintang-lintang…(kecak-janger) Beli bagus ngiring mangkin…(janger) Mejangeran sareng tityang…(janger) Mapan sampun wuusan iraga umatur…(kecak) Ring penonton sareng sami…(kecak-janger) Kelahiran Janger Pegok Sebuah perjalanan seni dari para leluhur Pekak - Pekak Janger (laki-laki) yang berinisiatif membentuk sekehe ‘demen’ di lingkungan Banjar Pegok dengan menyanyikan gending pujaan dan pujian sambil minum arak (arakijang). Janger lahir sebagai kesenian baru di awal abad 20 telah membawa modernitas dalam perkembangan kesenian Bali yang sebelumnya drama tari gambuh yang sering ditampilkan di kalangan istana kerajaan. Kemunculan kesenian Janger mendapat sambutan meriah dari masyarakat umum dan mencapai puncak popularitasnya. Disamping itu untuk pertama kalinya dalam seni pertunjukan penampilan tokoh perempuan (Janger) yang biasanya didominasi oleh kaum laki-laki. Kesenian Janger yang berkembang diseluruh Bali selatan memicu terbentuknya berbagai sekehe Janger yang salah satunya adalah Janger di Pegok. Janger adalah seni pertunjukan rakyat yang ditarikan oleh 12 penari perempuan disebut Janger dan 12 penari laki-laki di sebut Kecak dalam bentuk rectangle (persegi empat ). Sedang Pegok adalah sebuah banjar di kelurahan Sesetan Denpasar Selatan yang penduduknya merupakan petani. Dokumentasi video tahun 1937 - 1940 Pada tahun 2009 warga Pegok I Made Wardana telah menemukan arsip dokumentasi video tahun 1937-1940 yang didistribusikan oleh IWF (Göttingen) sebuah Institut Media Sains yang berbasis di Gottingen Jerman melalui website resmi lembaga tersebut. Dalam video dengan durasi 10 menit tersebut disampaikan bahwa pada saat odalan antara bulan oktober dan november tahun 1936 dilakukan pertunjukan Calonarang di Pura Sari Pegok dibawah pohon beringin. Calonarang diadakan karena adanya wabah grubug malaria yang melanda Bali. Namun calonarang ini tidak memiliki sisye yang cukup umur sesuai aturan saat itu. Sebagai penggantinya sisye digantikan oleh penari Janger yang kebetulan mengadakan latihan. Berkat semangat gotong royong, masyarakat Pegok memiliki inisiatif untuk mengumpulkan dana untuk membuat kostum Janger. Janger dipentaskan terlebih dahulu selama 1 jam yang diringi dengan 2 kendang krumpungan, 2 suling, tawa-tawa dan instrument rebana. Penari Janger berjumlah 12 orang perempuan dan 12 orang laki-laki dalam bentuk persegi panjang. Kemudian dilanjutkan dengan drama tari calonarang yang dimainkan oleh para penari lokal dengan tambahan suling gambuh. Fungsi Janger disini awalnya hanya sebagai pelengkap pertunjukan calonarang, namun ketika hadirnya Ratu Ayu Sesuhunan (Rangda) Janger mengalami kerauhan dan suasana menjadi lebih magis. Drama calonarang terdiri dari punta, kartale, mantri, sari, matah gede dan bape janger (tambahan penokohan). Video ini diproduksi tahun 1937, dipublikasikan tahun 1983, Producer Ernst Schlager (Basel) Distributer: IWF (Göttingen) Jerman. Gending Janger, gerak tari dan iringan musik Gending Janger yang dilantunkan dalam Pertunjukan Janger dalam PKB tahun ini berjumlah 10 lagu (gending) yang merupakan hasil rekonstruksi, adaptasi, inovasi baru, modifikasi dan original asli Banjar Pegok. Lirik gending menceritakan keberadaan janger Pegok tanpa memiliki guru dan lebih cenderung mandiri, rasa syukur kehadapaNYA, cerita romatisme antara penari janger dan kecak, suasana pedesaan alam lingkungan tempo dulu, dan selalu mengucapkan permintaan maaf dan rendah hati dalam mempertunjukan seni janger ini. Urutan gending-gending Janger sebagai berikut : 1. Nyumu Atur (karya Ciaaattt 2026 ) 2. Saking Swarga (adaptasi dan modifikasi) 3. Sinempura (original klasik) 4. Sarung Alus ( adaptasi dan modifikasi) 5. Tambur (Original Klasik) 6. Pingsan dipabine (karya Ciaaattt 2021) 7. Suling cenik (rekonstruksi/original klasik) 8. Ring Darmasaba ( Rekonstruksi/adaptasi dan modifikasi) 9. Benang Rinti (rekonstruksi/original klasik) 10. Adi Ayu ( adaptasi dan modifikasi) Gerak Tari Janger dan Kecak Gerak Janger dikembangkan dengan tetap berdasarkan kaidah-kaidah estetika tarian Bali. Tidak menutup kemungkinan dikembangkan dengan ragam gerak modern sesuai dengan kebutuhan penyajian. Secara umum Janger ditarikan dalam posisi bersimpuh (duduk dilantai), berlutut (jengkeng) dan juga berdiri (mejujuk). Posisi ini disesuiaikan dengan pilihan gending yang ditampilkan dengan gerak inovasi kekinian agar tidak terlalu berposisi statis seperti yang dipertunjukan pada era zaman dulu. Gerak tari bersifat rampak (Unison) dengan gerak kepala kiri-kanan yang mengetarkan gelungan (hiasan kepala dari cukli) sebagai simbul dewi sri (padi). Gerak kecak cenderung seperti pencak silat berwatak tegas simbul kegagahan maskulin yang bertempo cepat seperti dalam gending Tambur. Iringan Gamelan Smarandana dan Gong Suling (batel) Sebagai iringan musiknya adalah gamelan smarandana dan gong suling terdiri dari 2 gangsa, 2 kantilan, 2 jublag, 2 kendang krumpungan, tawa-tawa, klenang, kajar trengteng, cengceng, rebana, gong pulu, 6 suling ukuran besar sedang dan kecil. Penggunaan gamelan Smarandana memberi warna baru dalam seni janger Pegok yang sebelumnya hanya gong suling atau suling batel dengan Rebana. Dalam gamelan smarandana penggunaan laras yang berbeda-beda seperti patet selisir, tembung, sundaren dan slendro menjadi sebuah tantangan vokal tersendiri karena perubahan patet dengan transisi nada yang silih berganti. Walaupun demikian menjaga keaslian iringan janger dengan gong suling (suling batel ) adalah tetap prioritas demi menjaga keutuhan dan identitas Janger Pegok dengan menggunakan aksen atau logat “nak pegok”. Lampahan (fragmentari) Judul : Kejit Enyor. Tokoh cerita 10 orang : Panakawan Kocar dan Kacir, 3 Pemuda Pegok tahun 1930, Bape Janger, 2 orang penari Pengeleban, Detya Sunda dan Upasunda, Brahma, Dedari Nilotama, (Adi Parwa Mahabrata Sunda Upasunda) Janger Pegok merupakan anugrah leluhur yang terbentuk melalui sekehe demen kaum muda pegok era 1930 dengan melantunkan gending pujaan dan romantisme. Salah satu gending janger Pegok kuno yaitu Saking Swarga tertulis lirik Kejit Enyor yang merepresentasikan kecantikan dedari Nilotama. Secara etimologi Kejit berarti mengernyitkan alis yang bermakna melihat, menelaah, mengobservasi sedangkan Enyor adalah rayu dan membujuk. Lampahan Sunda Upasunda disisipkan dalam pertunjukan Janger Kejit Enyor ini. Dikisahkan dua asura bersaudara bernama Sunda dan Upasunda yang mempunyai hasrat sebagai penguasa tiga dunia Bhur Bwah Swah. Mereka melakukan tapa yoga yang sangat teguh memohon kekuatan dahsyat hingga Betara Brahma mengabulkan permohonan mereka. Ketika mendapatkan anugrah Sunda Upasunda mabuk akan kekuatannya dan menjalankan egonya untuk menguasai 3 dunia. Betara Brahma menciptakan Bidadari Nilotama yang bertugas menggoyahkan dua raksasa jahat, Sunda dan Upasunda tersebut. Dengan kecantikan dan rayuan Kejit Enyor Nilotama berhasil membuat kedua raksasa saling berperang dan akhirnya gugur, sehingga keseimbangan dunia tetap terjaga. Kejit Enyor bermakna cara manusia mengintropeksi diri dengan melihat kedalaman diri dan membujuk agar menjauhi sifat-sifat buruk yang sebenarnya ada dalam diri sendiri dengan cara memproyeksikan nilai-nilai dalam pertunjukan Janger Kejit Enyor dengan lampahan Sunda Upasunda sehingga mampu mengutamakan Atma menuju Jiwa Paripurna. Penanggung Jawab : Kelian adat dan Kelian Dinas Br. Pegok Desa Adat Sesetan Koordinator : I Kadek Adi Suartana Penata Tabuh : I Made Agus Wardana S.Sn I Made Widiartha S.Pd I Komang Suryantara Penata Tari : Putu Vinka Paramaditya S.Pd M.Pd Pembina Lelampahan : Sang Nyoman Gede Adhi Santika S.Sn M.Sn Pemimpin Artistik/ Artistic Director : I Made Agus Wardana S.Sn, Penyaji : Sekaa Janger Br. Pegok Desa Adat Sesetan Kecamatan Denpasar Selatan @Ciaaattt

Kamis, 02 April 2026

PORTOFOLIO I MADE WARDANA SENIMAN GAMUT GAMELAN MULUT

 

PORTOFOLIO

 



I MADE WARDANA

 

I Made Wardana, seorang seniman Bali yang sangat kreatif mengembangkan diri secara terus menerus tidak saja seni karawitan dan tari tetapi juga seni peran yaitu fragmentari, drama tari baik yang tradisi maupun kontemporer.  Penampilan karya Gamut (Gamelan Mulut) dengan penokohan karakter bertopeng Bli Gamut dan Man Kenyung mendapat sambutan hangat dan viral di Bali sebagai produk seni dengan terobosan baru. Pada tahun 2020 kedua peran yang dimainkan oleh Wardana ini  telah berpartisipasi dalam festival Virtual Dinas kebudayaan Provinsi Bali, Toraja International Festival, Sacred Bridge Festival, Lokaswara festival, Denpasar Young Creative dan Festival Bali Jani. Gamut Gamelan Mulut ini telah menjadi karya fenomenal yang merambah ke berbagai belahan dunia yaitu tahun 2022 Gamut di ARTA Paris Perancis, tahun 2023 Gamut Europe Tour dan Japan Tour, tahun 2024 Gamut di Malaysia, Singapura dan USA Gamut Tour di Amerika Serikat TAHUN 2025.

 

Gamut Man Kenyung





 

    Kedua tokoh Man Kenyung dan Bli Gamut beradu ritmis dalam upaya produktif dan kreatif dalam masa Pandemi. Kreatifitas ini  mencoba mengalihkan situasi sulit ketika pandemi meniju normal walaupun tidak semudah yang dibayangkan..

Bali 2020

 

 

Gamut Romans


 

    Sebuah keluh kesah kisah cinta dalam medsos. Cuitan emoticon senyum, sedih, marah merupakan icon drama cinta diantara keduanya. Tak disangka dan tanpa rupa musik menjembatani kisah cinta keduanya mengalun manis tiada henti yang mengangkat sebuah optimisme sehati diantara keduanya.

 

Bali 2021 – Denpasar Young Creative

 

  

  

Stela wanita kaya. angkuh dan sombong sebagai penguasa kapal pesiar mewah. Memperkerjakan Harta  seorang pria muda yang baik hati dan berdedikasi tinggi. Pesta besar dilakukan didalam kapal dengan mengundang para artis musik, teater dan tari. Ketika pesta telah berakhir, sinar bulan menerangi lautan yang menakjubkan. Stela memerintahkan Harta untuk mendayung sampan  perahu kecil menuju ke tengah lautan, hanya berdua saja.

Tiba-tiba badai menerjang dan membuat mereka terdampar di pulau terpencil tanpa penghuni. Mencuat keangkuhan, keputusasaan, pertengkaran, perkelahian, kebencian, percintaan   dan seterusnya di pulau tersebut.

Bali 2023 - Bali Jani Festival

 

 

 

Gamut The Frame Show

 

Aneka tokoh, karakter, profesi ditampilkan dalam frame show sebagai bentuk ekpresi perbedaan dengan iringan gamut yang memikat dan suasana humoristik dari awal hingga akhoir.

Bali 2023 – Bali jani Festival

 

 




Fragmentari Ampuang Angin,

Kisah perjalanan warga Bali yang menjelajah negeri Eropa dengan menebarkan seni budaya Bali tetapi tidak melupakan tanah leluhur.

Karya ini menggunakan tokoh wayang manusia yang disebut marionette (boneka hidup) yang bisa menari namun dimainkan oleh 2 orang penari satu tokoh.

Bali 2019 Pesta Kesenian Bali

 

 

Wardana yang lahir di Pegok Sesetan pada tahun 1971 adalah putra bungsu dari sepuluh bersaudara. Ibunya Ni Wayan Kondri adalah penari Arja Pegok tahun 1945 sedangkan Bapaknya adalah seniman Janger Pegok yang bernama I Wayan Randug. Arja diwariskan dari Ibunya dengan berbagai pupuh atau gending dan gerak tari  pengarjan yang dipergunakan oleh penari arja saat ini di Pegok Sesetan. Sebagai keluarga seni khusus bidang Arja dan Janger, Wardana memerankan Kartala dan wijil  dalam Drama tari Arja yang berwatak pandai dan berlaku sebagai penterjemah dalam seni drama tari Arja.

Di bidang karawitan, pada tahun 1994 Gubernur Bali memberi penghargaan sebagai juara 1 lomba kendang pengiring tari Jauk manis dalam Pesta Kesenian Bali. Kemudian tahun 1995 Wardana menyelesaikan pendidikan seni di Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar dengan gelar Sarjana Seni. Pada tahun 1996 diutus oleh Dr. I Made Bandem sebagai guru pengajar seni di konservatorium Brussel Belgia dan diangkat menjadi Lokal staf KBRI Brussel bidang Penerangan Sosial Budaya dan Diplomasi Publik. Selama 22 tahun menjadi guru pengajar seni di Eropa,  Wardana membangun jembatan budaya Bali dengan Puspa Warna (Perancis), SJI (Perancis), Saling Asah Belgia, Pairi Daiza (Belgia), Duo Made (Belgia), MIM-Musical Instrument Museum (Belgia), Media Animation (Belgia), Selene’s Garden (Belgia), Bali Puspa (Koln Jerman), Penempaan Guntur (Barcelona), Tongtong Festival (Belanda), Gamelan Smara Pegulingan Univ. Amsterdam, Banjar Suka Duka Belanda dan Rumah Budaya Indonesia Berlin.  Kolaborasi budaya juga dilakukan Wardana dengan sahabat baiknya yaitu Gabriel Laufer berpartisipasi dalam teater modern dengan iringan gamelan Bali  yaitu La Princesse de Babylone, Triptico, La Belle du Dandaka karya  Jose Besprosvany pada tahun 2003-2004 di Theatre National Bruxelles dan  Theatre Varia.

Beberfapa karya Gamut yang lain diantaranya :

GamutKedis Ngindang (Paris, 2019) Kisah perjalanan Bli Ciaaatt menuju kota-kota besar di Eropa diantaranya Paris, Barcelona, Cologne, Berlin, Dem Haag, Brussels dan Amsterdam yang membawa nikmat tersendiri. Perjalanan yang membawa pesona, meraih persahabatan, menjelajah budaya baru dan tentunya membawa hati yang riang gemirang dan lagu ini untuk membuat semua orang seni.

Gamutriang (Bali, 2020) Kisah gamut yang membawa berkah untuk kita semua. Gamut membawa ceria bagi kebanyakan orang karena memberi melodi sederhana dari bunyi mulut kita sehari-hari. Bunyi ini terdengar biasa saja tapi berkesan selamanya.

GamutJoged (Bali, 2020) Sensasi gamut yang menampilkan gending joged bumbung sangat penuh tantangan. Kecepatan, ketepatan dan vokal memberi aroma sik dalam kesenian Gamut. Perjalanan gamut yang secara terus menerus menawarkan hal baru, membuat pesona kesenian Bali semakin bervariasi. Inovas ada, kreasi ada, tantangan ada, dan pembaruan baru.

Gamut Paksi Mangiber ( Brussel, 2005) Tabuh Kreasi Paksi Mangiber artinya Burung terbang bebas. Suatu hari di taman Woluwe kota Brussel terbentang luas keindahan taman yang dipenuhi burung yang sangat jinak kepada pengunjung taman. nampaknya taman ditengah kota ini merupakan tempat bebas para burung mencari penghidupannya. Suaranya yang khas, melengking, bercuit menandakan kebahagian mereka diruang habitatnya. Nah jika anda ke kota Brussel, anda akan takjub bahwa taman kota dipelihara, dibuat, disayangi, dibersihkan, dikontrol dengan baik. Ketika semua aturan diterapkan dalam taman tersebut burung-burung pasti akan senang dan akan terbang bebas selamanya. mari sayangi lingkungan kita.


facebook/Youtube/Instagram/tiktok: Made Agus Wardana, Ciaaattt,