Ciaaattt...
Belajar dan Berguru dari Pengalaman
Jumat, 03 Juli 2026
Janger Pegok Dalam Pesta Kesenian Bali 2026
Kamis, 02 April 2026
PORTOFOLIO I MADE WARDANA SENIMAN GAMUT GAMELAN MULUT
PORTOFOLIO
I MADE WARDANA
I Made Wardana, seorang seniman Bali
yang sangat kreatif mengembangkan diri secara terus menerus tidak saja seni karawitan
dan tari tetapi juga seni peran yaitu fragmentari, drama tari baik yang tradisi
maupun kontemporer. Penampilan karya
Gamut (Gamelan Mulut) dengan penokohan karakter bertopeng Bli Gamut dan Man
Kenyung mendapat sambutan hangat dan viral di Bali sebagai produk seni dengan
terobosan baru. Pada tahun 2020 kedua peran yang dimainkan oleh Wardana
ini telah berpartisipasi dalam festival
Virtual Dinas kebudayaan Provinsi Bali, Toraja International Festival, Sacred
Bridge Festival, Lokaswara festival, Denpasar Young Creative dan Festival Bali
Jani. Gamut Gamelan Mulut ini telah menjadi karya fenomenal yang merambah ke
berbagai belahan dunia yaitu tahun 2022 Gamut di ARTA Paris Perancis, tahun
2023 Gamut Europe Tour dan Japan Tour, tahun 2024 Gamut di Malaysia, Singapura
dan USA Gamut Tour di Amerika Serikat TAHUN 2025.
Gamut Man Kenyung
|
|
Kedua tokoh Man Kenyung dan Bli Gamut beradu
ritmis dalam upaya produktif dan kreatif dalam masa Pandemi. Kreatifitas
ini mencoba mengalihkan situasi sulit
ketika pandemi meniju normal walaupun tidak semudah yang dibayangkan.. |
|
Bali 2020 |
|
Gamut Romans
|
Sebuah keluh kesah kisah cinta dalam medsos.
Cuitan emoticon senyum, sedih, marah merupakan icon drama cinta diantara
keduanya. Tak disangka dan tanpa rupa musik menjembatani kisah cinta keduanya
mengalun manis tiada henti yang mengangkat sebuah optimisme sehati diantara
keduanya. |
|
|
Bali 2021 –
Denpasar Young Creative |
|
|
Stela
wanita kaya. angkuh dan sombong sebagai penguasa kapal pesiar mewah.
Memperkerjakan Harta seorang pria muda
yang baik hati dan berdedikasi tinggi. Pesta besar dilakukan didalam kapal
dengan mengundang para artis musik, teater dan tari. Ketika pesta telah
berakhir, sinar bulan menerangi lautan yang menakjubkan. Stela memerintahkan
Harta untuk mendayung sampan perahu
kecil menuju ke tengah lautan, hanya berdua saja. Tiba-tiba badai
menerjang dan membuat mereka terdampar di pulau terpencil tanpa penghuni.
Mencuat keangkuhan, keputusasaan, pertengkaran, perkelahian, kebencian,
percintaan dan seterusnya di pulau
tersebut. |
|
|
Bali
2023 - Bali Jani Festival |
|
|
Gamut The Frame
Show Aneka tokoh,
karakter, profesi ditampilkan dalam frame show sebagai bentuk ekpresi
perbedaan dengan iringan gamut yang memikat dan suasana humoristik dari awal
hingga akhoir. |
|
|
Bali 2023 – Bali
jani Festival |
|
|
|
Fragmentari
Ampuang Angin, Kisah perjalanan
warga Bali yang menjelajah negeri Eropa dengan menebarkan seni budaya Bali
tetapi tidak melupakan tanah leluhur. Karya ini
menggunakan tokoh wayang manusia yang disebut marionette (boneka hidup) yang
bisa menari namun dimainkan oleh 2 orang penari satu tokoh. |
|
Bali 2019 Pesta
Kesenian Bali |
|
Wardana yang lahir di Pegok Sesetan
pada tahun 1971 adalah putra bungsu dari sepuluh bersaudara. Ibunya Ni Wayan
Kondri adalah penari Arja Pegok tahun 1945 sedangkan Bapaknya adalah seniman
Janger Pegok yang bernama I Wayan Randug. Arja diwariskan dari Ibunya dengan
berbagai pupuh atau gending dan gerak tari
pengarjan yang dipergunakan oleh penari arja saat ini di Pegok Sesetan.
Sebagai keluarga seni khusus bidang Arja dan Janger, Wardana memerankan Kartala
dan wijil dalam Drama tari Arja yang
berwatak pandai dan berlaku sebagai penterjemah dalam seni drama tari Arja.
Di bidang karawitan, pada tahun 1994
Gubernur Bali memberi penghargaan sebagai juara 1 lomba kendang pengiring tari
Jauk manis dalam Pesta Kesenian Bali. Kemudian tahun 1995 Wardana menyelesaikan
pendidikan seni di Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar dengan gelar Sarjana
Seni. Pada tahun 1996 diutus oleh Dr. I Made Bandem sebagai guru pengajar seni
di konservatorium Brussel Belgia dan diangkat menjadi Lokal staf KBRI Brussel
bidang Penerangan Sosial Budaya dan Diplomasi Publik. Selama 22 tahun menjadi
guru pengajar seni di Eropa, Wardana
membangun jembatan budaya Bali dengan Puspa Warna (Perancis), SJI (Perancis),
Saling Asah Belgia, Pairi Daiza (Belgia), Duo Made (Belgia), MIM-Musical
Instrument Museum (Belgia), Media Animation (Belgia), Selene’s Garden (Belgia),
Bali Puspa (Koln Jerman), Penempaan Guntur (Barcelona), Tongtong Festival
(Belanda), Gamelan Smara Pegulingan Univ. Amsterdam, Banjar Suka Duka Belanda
dan Rumah Budaya Indonesia Berlin.
Kolaborasi budaya juga dilakukan Wardana dengan sahabat baiknya yaitu
Gabriel Laufer berpartisipasi dalam teater modern dengan iringan gamelan
Bali yaitu La Princesse de Babylone,
Triptico, La Belle du Dandaka karya Jose
Besprosvany pada tahun 2003-2004 di Theatre National Bruxelles dan Theatre Varia.
Beberfapa karya Gamut
yang lain diantaranya :
GamutKedis Ngindang
(Paris, 2019) Kisah
perjalanan Bli Ciaaatt menuju kota-kota besar di Eropa diantaranya Paris,
Barcelona, Cologne, Berlin, Dem Haag, Brussels dan Amsterdam yang membawa
nikmat tersendiri. Perjalanan yang membawa pesona, meraih persahabatan,
menjelajah budaya baru dan tentunya membawa hati yang riang gemirang dan lagu
ini untuk membuat semua orang seni.
Gamutriang (Bali, 2020) Kisah gamut yang membawa berkah
untuk kita semua. Gamut membawa ceria bagi kebanyakan orang karena memberi
melodi sederhana dari bunyi mulut kita sehari-hari. Bunyi ini terdengar biasa
saja tapi berkesan selamanya.
GamutJoged (Bali, 2020) Sensasi gamut yang menampilkan
gending joged bumbung sangat penuh tantangan. Kecepatan, ketepatan dan vokal
memberi aroma sik dalam kesenian Gamut. Perjalanan gamut yang secara terus
menerus menawarkan hal baru, membuat pesona kesenian Bali semakin bervariasi.
Inovas ada, kreasi ada, tantangan ada, dan pembaruan baru.
Gamut Paksi Mangiber (
Brussel, 2005) Tabuh
Kreasi Paksi Mangiber artinya Burung terbang bebas. Suatu hari di taman Woluwe
kota Brussel terbentang luas keindahan taman yang dipenuhi burung yang sangat
jinak kepada pengunjung taman. nampaknya taman ditengah kota ini merupakan
tempat bebas para burung mencari penghidupannya. Suaranya yang khas,
melengking, bercuit menandakan kebahagian mereka diruang habitatnya. Nah jika
anda ke kota Brussel, anda akan takjub bahwa taman kota dipelihara, dibuat,
disayangi, dibersihkan, dikontrol dengan baik. Ketika semua aturan diterapkan
dalam taman tersebut burung-burung pasti akan senang dan akan terbang bebas
selamanya. mari sayangi lingkungan kita.
facebook/Youtube/Instagram/tiktok: Made Agus Wardana, Ciaaattt,
Kamis, 25 Desember 2025
I Made Wardana seniman Gamut yang mendunia
Salah satu seniman yang kirahnya
telah mendunia yang dimiliki oleh Kota Denpasar adalah I Made Wardana atau yang
akrab disapa Bli Ciaaattt. Ia merupakan sosok seniman asal Banjar Pegok Sesetan
Denpasar. Namanya akhir-akhir ini naik daun dikarenakan gamut yang ia ciptakan
menarik perhatian banyak kalangan. Gamut merupakan singkatan dari gamelan mulut,
yakni sebuah komposisi karawitan yang disajikan dengan suara mulut. Untuk
memainkannya, I Made Wardanat menggunakan bantuan teknologi berupa loopstation.
Dengan alat ini ia dapat me-record dan men-dubbing
potongan-potongan melodi dan ritme yang akan disusunnya menjadi komposisi utuh.
Gamut mulai viral di media sosial
sejak terjadinya pandemi covid-19. Lahir dari sebuah adaptasi seni di era
pandemi dan menjadi solusi untuk mengobati stres yang dialami bli ciaat ketika
itu. Ia mengalami stres akibat usaha restorannya tutup setelah setahun buka sejak
ia pulang dari Belgia tahun 2018. Akhirnya ia iseng membuat konten video
gamelan mulut yang berdurasi 1 menit yang ia sebar ke media sosial. Sontak
video itu mendapat apresiasi positif dari netizen. Ia merasa senang bahwa ada
peminat terhadap konten videonya itu. Akhirnya video ke dua kembali dibuat
dengan durasi yang lebih panjang. Bagai gayung bersambut, saat itu pemerintah
provinsi Bali sedang menyelenggarakan kegiatan pergelaran seni virtual untuk
membantu kehidupan seniman yang terkena dampak covid 19. Dan Bli Ciaat masuk
salah satu menjadi penyajinya.
Hingga saat ini, banyak komposisi gamut yang
telah dihadirkan oleh I Made Wardana. Beberapa diantaranya Gamut Man Kenyung,
Gamut New Normal, Gamut Angklung, Gamutromans, Gamut Traffic, Gamut Monster
Gamang, Gamut Suling, Gamut Dagang Sayur, Gamut Ayo Kreatif Mari Produktif dan
Gamutria.
Gamut
jika dicermati aspek konseptual adalah sebuah tiruan suara gamelan dan intrumen lainnya yang disajikan dengan
suara manusia, serta selanjutnya disusun menjadi komposisi lagu. Ini sepertinya
menjadi cara baru yang dilakukan oleh I Made Wardana dalam berkesenian di masa
pandemi. Ia menyatakan embrio musik gamut telah lahir pada tahun 2015 ketika ia
berada di aparteman tempat tinggalnya di Belgia. Secara tanpa sengaja ia
membuat konten gamelan mulut pada aplikasi garageband di ipad
punya anaknya. Selanjutnya ia posting di media sosial. Ia terkejut ada sesuatu
yang menarik dari hal tersebut dan muncul banyak komentar.
Sejak ia pulang ke Bali tahun 2018
akhir, I Made Wardana mendapat kesempatan untuk mengisi kegiatan pergelaran di
Pesta Kesenian Bali. Pergelaran ini merupakan pergelaran hasil rekonstruksi
gending-gending genggong kak danjur yang tiada lain adalah kakeknya sendiri.
Pada pergelaran itulah ia memasukkan salah satu konten pergelarannya yakni
gamelan mulut.
I Made Wardana dapat dikatakan
merupakan sosok seniman yang tidak saja kreatif namun juga tangguh. Dalam
dirinya mengalir karakter manusia Bali yang kini telah banyak memudar. Jengah
(bersemangat), gelitik (menemukan cara-cara baru), tindih (kokoh
menjaga jadi diri), adalah karakter yang dimilikinya. Ia tidak kaku terhadap
budayanya, namun senantiasa melihat apa yang ada di depannya sebagai cara untuk
melahirkan gagasan baru. Ciiaat adalah sebuat kata yang ia sematkan menjadi
mottonya. Ciiaat adalah kata yang bermakna respon enerjik untuk melakukan
sesuatu. Tentu banyak hal yang dapat diamati dan diapresiasi dari I Mde
Wardana. Bagaimanakan prosesnya menjadi seniman?, apa saja pengalaman
berkesenian yang telah ia lalui?, dan apa saja penghargaan yang telah pernah ia
raih menjadi menarik untuk diketahui.
I Made Wardana lahir pada tanggal 25
November 1971 dari pasangan I Wayan Randug (ayah) dan Ni Wayan Kondri (ibu),
serta adalah anak bungsu dari sepuluh bersaudara. Ia tumbuh di lingkungan
keluarga seniman. Kakek dan ayahnya adalah seniman karawitan, dan ibunya adalah
penari arja. Demikian pula dengan saudara-saudaranya yang juga merupakan penari
dan penabuh.
Sejak berusia 5 tahun, ia telah
memiliki ketertarikan terhadap dunia seni. Ketertarikannya itu ia tumpahkan
dengan belajar memainkan gamelan dari ayah dan kakaknya. Baginya seni merupakan
sebuah kebanggan dan berkah karena membuatnya menjadi pusat perhatian banyak
orang. Waktu itu, ia menjadi satu-satunya penabuh gamelan cilik yang ikut
pentas bersama sekaa gong banjarnya dalam sebuah pergelaran di pura desa.
Seiring berjalannya waktu, I Made
Wardana terus menempa bakatnya untuk menjadi seorang penabuh gamelan Bali. Ia
menempa bakatnya dengan cara belajar gamelan Gong Kebyar di banjar Pegok. Tahap
demi tahap, satu demi satu intrumen gamelan Gong Kebyar ia pelajari dengan
baik. Ia dilatih oleh guru-guru terbaik yakni Pak Kale, Pak Rintig, dan Pak
Rundu dari banjar Geladag Denpasar, juga Pak Rembang dari banjar Tengah
Sesetan.
Selain mempelajari gamelan Gong
Kebyar, I Made Wardana juga mempelajari gending-gending dan tabuh Janger Banjar
Pegok. Ia diajarkan oleh ayah dan ibunya yang juga merupakan penabuh dan penari
janger. Sebagaimana diketahui bahwa banjar Pegok memiliki kesenian Janger
sakral yang telah di warisi secara turun temurun. Adanya warisan budaya inilah
membuat I Made Wardana juga harus mempelajarinya dalam rangka menjaga
kelestarian dan keberlanjutan generasi kesenian janger tersebut.
Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar,
ia juga mempelajari memainkan gamelan rindik. Menurutnya, saat itu memainkan
rindik merupakan sesuatu yang susah dan jarang dilakukan oleh anak-anak. Ia
diajarkan oleh kakaknya I Made Arjana. Walau diajar dengan sangat keras oleh sang
kakak, namun tidak menyurutkan niatnya untuk belajar sampai bisa.
Pengalaman berkesenian I Made
Wardana semakin meningkat saat ia duduk di bangku SMP. Ketika itu ia
mendapatkan kesempatan ikut dalam ajang lomba Pekan Seni Remaja yang
diselenggarakan oleh Kota Denpasar. Alhasil ia sering mendapatkan juara pada
setiap perlombaan yang ia ikuti. Sempat ada tokoh seniman Kota Denpasar yakni I
Nyoman Suarsa yang akrab disapa Pak Man Yangpung melirik potensinya sebagai
pemain kendang. Hal ini membuatnya semakin bangga dengan kemampuan yang ia
miliki.
Karena kecintaannya dengan gamelan
Bali, setelah lulus SMP I Made Wardana berniat
melanjutkan studinya di KOKAR Bali. Namun, karena pertimbangan biaya dan
jarak yang harus ditempuhnya terlalu jauh dari rumahnya, maka ia lebih memilih
untuk melanjutkan studinya di SMA Negeri 5 Denpasar. Pada masa inilah ia
bersama grup sekolahnya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kejuaraan
Baleganjur di Gianyar dan berasil memperoleh juara 1. Lebih dari itu, atas
ajakan Pak Rundu, I Made Wardana juga tidak menyangka mendapatkan kesempatan
untuk ikut bergabung bersama Sekaa Gong Banjar Pemebetan Kapal menjadi penabuh
Gong Kebyar duta kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali tahun 1988.
Kebanggannya kembali muncul tatkala mendapat pengalaman diajar oleh para pakar
gamelan Bali seperti I Wayan Suweca, I Ketut Gede Asnawa, I Komang Astita, dan
I Ketut Wijana.
Setelah tamat SMA, I Made Wardana
memantapkan keinginannya untuk melanjutkan studinya di STSI Denpasar tahun
1990. Ia mengambil jurusan karawitan. Pendidikan yang selaras dengan hobi
sekaligus bakatnya membuatnya tidak pernah ada kata bosan untuk berkesenian.
Sejak kuliah di STSI Denpasar berbagai kegiatan ia ikuti. Bersama kampusnya ia
mengikuti berbagai misi kesenian ke luar daerah seperti Jakarta, Padang Sumatra
Barat, bahkan ke India 1993, 1994 ke Jerman, Belgia, dan Luksemburg.
Di tahun 1994 pula ia mulai
mendapatkan kesempatan mendedikasikan kemampuannya kepada Kota Denpasar. Dua
hal pengalaman penting yang ia catat sebagai ruang aktualisasi diri adalah menjadi peserta lomba kendang tari jauk manis
mewakili Kota Denpasar dan menjadi pembina Gong Kebyar Wanita Kota Denpasar
dalam perhelatan Pesta Kesenian Bali. Baginya, menjadi peserta lomba kendang
itu sangat bergengsi. Sebab, di kampusnya ia sedikit mendapatkan kesempatan
untuk menunjukkan kemampuannya memainkan kendang. Ia merasa jengah untuk
menunjukkan kemampuannya menjadi yang terbaik. Hasilnya ia berasil mendapatkan
juara 1 pada perlombaan tersebut.
I Made Wardana tidak hanya pintar
dalam memainkan gamelan. Semenjak menjadi mahasiswa karawitan di STSI Denpasar,
hampir setiap tahun ia mendapatkan ruang untuk membantu membuatkan komposisi
tabuh untuk kakak kelasnya yang akan menjalani ujian Tugas Akhir. Setidaknya ia
mencatat ada empat karya iringan tari dan satu karya kontemporer yang pernah
digarapnya. Dosen paforitnya adalah I Made Lemping. Dari Pak Lemping ia banyak
mendapatkan pengetahuan tambahan di luar kelas, seperti mekendang, dan suling
pegambuhan. I Made Wardana lulus di STSI tahun 1995. Sebagai karya tugas akhir
(TA) ia menggarap komposisi iringan tari dengan judul ”Sangguh”. Sangguh ini
adalah sebuah karya yang mengisahkan roman seorang putri dari kerajaan
Pemecutan yang bernama Raden Ayu Siti Khotijah, yang sebelumnya bernama Gusti Ayu Made Rai menjadi seorang muslim. Iringan tari ini
digarap menggunakan barungan gamelan Gong Gede serta dikemas dengan memasukkan
nuansa lagu-lagu muslim.
Setelah tamat dari STSI Denpasar, I
Made Agus Wardana masih aktif berkegiatan di kampusnya. Bulan september 1995
ditawari dan direkomendasikan oleh Prof. I Made Bandem untuk guru gamelan di
sekolah musik di Konservatorium di Brusel, Belgia. 8 januari 1996 ia berangkat
ke Brusel. Di sinilah I Made Wardana mengalami kehidupan baru sebagai seorang
seniman dan pengajar gamelan. Tantangan demi tantangan ia hadapi tanpa lelah
dan ragu. Mulai dari cuaca dingin, suasana yang berbeda dari Bali, bahasa yang
berbeda, dan lain-lainnya membuat membuat jiwanya semakin kokoh. Selain mengajar,
ia juga membentuk sanggar dan grup gamelan di tempatnya mengajar, membentuk
grup gamelan dengan orang-orang belgia bernama grup Saling Asah, kemudian juga
membentuk grup gamelan di KBRI.
Kehadiran I Made Wardana di Belgia
memberikan angin segar terhadap kehidupan budaya Bali di Belgia. Ia tidak saja
berasil mengembangkan gamelan, namun juga mempelopori pembangunan pura di
Belgia. Ia juga membuat perkumpulan/banjar bernama Santhi Dharma untuk
orang-orang Bali yang ada disana sekaligus menjadi kelihan banjarnya. Sejak
tahun 1996, I Made Wardana telah menghabiskan waktu selama dua puluh dua tahun
di Belgia. Ia telah banyak berkontribusi dalam mengembangkan gamelan Bali ke
ranah internasional. Hampir di seluruh kota di Eropa pernah ia kunjungi untuk
menjadi pengajar gamelan dan mempertunjukkan kesenian Bali.
Tahun 2018, bulan september ia
pulang ke Bali. Setelah di Bali ia merekonstruksi genggong Pegok yang menjadi
kesenian warisan kakeknya yang bernama I Ketut Regen atau yang sering dipanggil
Kak Danjur. Melalui program kegiatan Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, Hasil
rekonstruksi ini berasil dipentaskan pada kegiatan pergelaran Pesta Kesenian
Bali tahun 2019. Untuk melestarikan kesenian genggong yang ada di Pegok, ia
juga membentuk sanggar dengan nama Sanggar Genggong Kak Danjur. (Qakdanjur)
Perjalanan panjang pengabdian I Made
Wardana dalam jagad seni adalah sebuah bukti bahwa ia konsisten untuk
melestarikan kesenian warisan leluhurnya. Dari rekam jejak pengabdiannya,
sejumlah penghargaan dan prestasi telah ia terima. Beberapa diantaranya yaitu:
tahun 1993
ia menerima penghargaan Indonesian Dance Festival IKJ Jakarta dan Penghargaan
Festival Seni mahasiswa Pada Panjang - Sumatra Barat; tahun 1994 ia menerima
penghargaan penghargaan Juara 1 Kendang Jauk Manis Duta Kodya Denpasar pada
ajang Pesta Kesenian Bali, serta penghargaan sebagai pembina tabuh Kodya
Denpasar Pesta Kesenian Bali. Tahun 1995 ia kembali menerima penghargaan
sebagai pembina tabuh Kodya Denpasar dalam ajang Pesta Kesenian Bali; Tahun
2008 ia menerima penghargaan sebagai pegawai terbaik KBRI Brussel; Tahun 2022 ia meneria penghargaan 22 tahun di KBRI
Brussel Belgia; dan di tahun 2023 ia menerima penghargaan sebagai Juri
Baleganjur Pesta Kesenian Bali.
Minggu, 05 Oktober 2025
Sejarah Janger Pegok
Janger adalah seni pertunjukan remaja Bali yang mengalami kebangkitan pada saat zaman penjajahan Belanda awal abad ke 20. Kemunculannya, berkat adanya pengaruh dari berbagai seni pertunjukan yang berkembang saat itu yaitu Komedie Stamboel, teater bergaya Eropa-berbahasa Melayu yang pertama kalinya muncul di Surabaya, Jawa pada tahun 1891. (Sumber Arsip Bali 1928, Vol V - Edward Herbst ) Adanya pertunjukan Komedie Stamboel di daerah Bali utara telah menginspirasi para remaja di daerah itu untuk menciptakan kesenian baru dengan melakukan modernisasi dalam kostum dan gerak tari. Tidak itu saja, pengaruh unsur kerauhan dalam ritual sanghyang, penambahan nyanyian ‘’minum tuak dan arak’’ yang disebut cakepung juga menginspirasi sehingga melahirkan kesenian Janger. Kesenian Janger ini lahir sebagai sebuah pembaruan dimana untuk pertama kalinya pria dan wanita mendapat kesempatan tampil bersama yang mana sebelumnya hanya dominasi kaum pria saja.
Perkembangan Janger dari buleleng hingga ke Bali Selatan
Janger telah
tersebar di seluruh Bali dengan munculnya grup Janger yang sangat terkenal
diantaranya Janger kedaton, janger abian timbul, janger Pegok, janger peliatan,
janger singapadu dan sebagainya. Gending gendingnya bernada gender wayang,
palegongan dengan instrument pengiring adalah geguntangan yang terdiri dari
suling, kendang, cengceng, rebab, dan tambur (perkusi arab). Khusus mengenai
Janger Pegok yang berkembang pada tahun 1930 an. (Video arsip Iwf.de Tanz und Trance auf Bali -
Filmdokumente aus den Jahren 1937-1945)
Janger Pegok adalah Janger yang berasal dari Banjar Pegok Desa Sesetan Denpasar Selatan. Terletak sangat strategis diantara keindahan pantai Sanur dan Kuta yang memberikan perkembangan dan berinteraksi dengan Turis ketika Bali dipromosikan sebagai pulau surga zaman kolonial Belanda. Janger Pegok yang sangat disakralkan ini lahir dari ketulusan warga masyarakatnya yang setia mengabdi kepada Sesuhunan. di Pura Kesuma Sari Banjar Pegok yang mana merupakan tempat suci pemberi rasa damai dan kemuliaan hidup untuk warganya. Maka dari itu karena kesakralannya, setiap bulan purnama kapat (antara September dan Oktober) setiap tahunnya diharuskan mempertunjukan Kesenian Janger sakral. Sakral diartikan sebelum pertunjukan berlangsung semestinya dilakukan ritual-ritual keagamaan memohon keselamatan dan menjaga taksu (karismatik pertunjukan) Janger tersebut. . Dengan adanya pertunjukan setiap purnama kapat ini, secara tidak langsung menjadi pelestarian Janger yang dapat diwarisi oleh generasi muda kini.
Gerak tari dan Nyanyian
Janger adalah tari rakyat dan bersifat sosial yang terdiri dari 12 penari perempuan yang disebut Janger dan 12 penari laki laki yang disebut kecak. Penari janger menggunakan kostum tradisional dengan gelungan (hiasan bunga di kepala) sedangkan kecak pada awalnya memakai kostum barat, memakai kumis palsu, hiasan pangkat dibahu (epaulette) dan celana pendek. Namun dalam perkembangannya hingga kini penari kecak memakai udeng (hiasan Bali) dengan kamen (sarung) yang menjadi tradisi hingga kini.
Tempat Pertunjukan janger dinamakan kalangan (tempat yang sangat dekat dengan penonton) yang berbentuk persegi panjang. Dua baris wanita dan 2 baris laki laki. Ada juga bentuknya huruf U yang mana para penari saling berhadapan muka. Gerak tari yang ditarikan seperti gerakan bahu diangkat, duduk bersila, janger bersimpuh (duduk bersimpuh) tangan kanan dan kiri bergoyang, Tangan kiri kadang memegang lutut kaki dengan gerak angguk kepala. Dalam perkembangannya hingga kini nyanyian janger menggunakan bahasa bali dan lantunan ‘’arakijang jangi janger’’ yangdisertai suara penari kecak yang menyuarakan ‘’ce ecak ecak’’.
Adapun beberapa gending klasik yang tetap dipertahankan adalah sinempura, suling cenik, keliki gading, tiang iseng, adi ayu dan lain lain.
Rabu, 16 April 2025
Gending Janger Pingsan di pabine
Intro tiang iseng
Kecak :
Bungane kembang kedise ngindang,
Kenehe girang jeg megedambyang,
Kemu mai, bayune runtag
Kebyah- kebyah sing juari
Janger :
Ngudyang sing juari, uduh beli bagus
Meled manah titiang mengantosang
Yen mule bani, bliang tiang bunga
Bunga miik canang sari
Jangrangi jangijanger 2x. Sriang ento rora roti
Kecak :
Ngudyang sing bani, uduh adi jegeg
Beli megegeson, buka kedis ngindang matinggah dihatine..
Usak bayun Beline, edot pingsan dipabine
Janger :
Eh Beli Beli bagus, ngudyang kanti keto.
Jeg Enggalang dong Encolang
Lan dabdabang lestariang gending janger tiang iseng.
Gending janger inget pidan karya ciaaattt
Inget pidan ?
Janger :
Beli beli ingetang pidan,
Gumi landuh carike liu
Tiang inguh paling,
Kudyang jani, gumi kebus, tulungin tiang Bli,
Kecak :
Adi keto iluh ngambul, klejang klejing sing nawang unduk.
Janger :
Uduh beli
inget tiang pidan, memule padi
Sriang jangi janger arakijang jangi janger
Kepung beli ...
Jalan jani jak mekejang
Megarapan di Carike
Karya Ciaaattt agustus 2024
Gamut Pantun karya Ciaaattt
Uduh adi ayu ngudyang ditu nyangklek dibucu
Tusing dadi layu nyanan bise gutgut cledu
Makejang anake ngerayu kenyem adi manis madu
Yen nyidang care yuyu grasa grusu nyangket kemu
Uduh bli bagus beli mule pongah juari
Pang siu beli ngerayu tak terduga menusuk hati
Sampunang beli kesusu, tiang tetep menahan diri
Beli tak sadar diri, jangan pernah merayu lagi.
Uduh adi ayu, tusing dadi gaya guyu
Beli edot matemu, nyeleseh mai nyeledet kemu
Sampunang ragu ragu, gelut malu rasa rindu.
Beli bakal melaju, kanti bani gutgut legu
Mimih dewa ratu, kupu kupu mengisep sari
Bli mule perayu, tingkah tiang berseri seri
Encolang mepayas malu, bibih barak me enci enci,
Egolang bangkiang malu, kebyah kebya
h very happy.


.jpeg)

