Kamis, 25 Desember 2025

I Made Wardana seniman Gamut yang mendunia

 




            Salah satu seniman yang kirahnya telah mendunia yang dimiliki oleh Kota Denpasar adalah I Made Wardana atau yang akrab disapa Bli Ciaaattt. Ia merupakan sosok seniman asal Banjar Pegok Sesetan Denpasar. Namanya akhir-akhir ini naik daun dikarenakan gamut yang ia ciptakan menarik perhatian banyak kalangan. Gamut merupakan singkatan dari gamelan mulut, yakni sebuah komposisi karawitan yang disajikan dengan suara mulut. Untuk memainkannya, I Made Wardanat menggunakan bantuan teknologi berupa loopstation. Dengan alat ini ia dapat me-record dan men-dubbing potongan-potongan melodi dan ritme yang akan disusunnya menjadi komposisi utuh.

            Gamut mulai viral di media sosial sejak terjadinya pandemi covid-19. Lahir dari sebuah adaptasi seni di era pandemi dan menjadi solusi untuk mengobati stres yang dialami bli ciaat ketika itu. Ia mengalami stres akibat usaha restorannya tutup setelah setahun buka sejak ia pulang dari Belgia tahun 2018. Akhirnya ia iseng membuat konten video gamelan mulut yang berdurasi 1 menit yang ia sebar ke media sosial. Sontak video itu mendapat apresiasi positif dari netizen. Ia merasa senang bahwa ada peminat terhadap konten videonya itu. Akhirnya video ke dua kembali dibuat dengan durasi yang lebih panjang. Bagai gayung bersambut, saat itu pemerintah provinsi Bali sedang menyelenggarakan kegiatan pergelaran seni virtual untuk membantu kehidupan seniman yang terkena dampak covid 19. Dan Bli Ciaat masuk salah satu menjadi penyajinya.

                Hingga saat ini, banyak komposisi gamut yang telah dihadirkan oleh I Made Wardana. Beberapa diantaranya Gamut Man Kenyung, Gamut New Normal, Gamut Angklung, Gamutromans, Gamut Traffic, Gamut Monster Gamang, Gamut Suling, Gamut Dagang Sayur, Gamut Ayo Kreatif Mari Produktif dan Gamutria.

            Gamut jika dicermati aspek konseptual adalah sebuah tiruan suara gamelan dan intrumen lainnya yang disajikan dengan suara manusia, serta selanjutnya disusun menjadi komposisi lagu. Ini sepertinya menjadi cara baru yang dilakukan oleh I Made Wardana dalam berkesenian di masa pandemi. Ia menyatakan embrio musik gamut telah lahir pada tahun 2015 ketika ia berada di aparteman tempat tinggalnya di Belgia. Secara tanpa sengaja ia membuat konten gamelan mulut pada aplikasi garageband di ipad punya anaknya. Selanjutnya ia posting di media sosial. Ia terkejut ada sesuatu yang menarik dari hal tersebut dan muncul banyak komentar.

            Sejak ia pulang ke Bali tahun 2018 akhir, I Made Wardana mendapat kesempatan untuk mengisi kegiatan pergelaran di Pesta Kesenian Bali. Pergelaran ini merupakan pergelaran hasil rekonstruksi gending-gending genggong kak danjur yang tiada lain adalah kakeknya sendiri. Pada pergelaran itulah ia memasukkan salah satu konten pergelarannya yakni gamelan mulut.

            I Made Wardana dapat dikatakan merupakan sosok seniman yang tidak saja kreatif namun juga tangguh. Dalam dirinya mengalir karakter manusia Bali yang kini telah banyak memudar. Jengah (bersemangat), gelitik (menemukan cara-cara baru), tindih (kokoh menjaga jadi diri), adalah karakter yang dimilikinya. Ia tidak kaku terhadap budayanya, namun senantiasa melihat apa yang ada di depannya sebagai cara untuk melahirkan gagasan baru. Ciiaat adalah sebuat kata yang ia sematkan menjadi mottonya. Ciiaat adalah kata yang bermakna respon enerjik untuk melakukan sesuatu. Tentu banyak hal yang dapat diamati dan diapresiasi dari I Mde Wardana. Bagaimanakan prosesnya menjadi seniman?, apa saja pengalaman berkesenian yang telah ia lalui?, dan apa saja penghargaan yang telah pernah ia raih menjadi menarik untuk diketahui.

            I Made Wardana lahir pada tanggal 25 November 1971 dari pasangan I Wayan Randug (ayah) dan Ni Wayan Kondri (ibu), serta adalah anak bungsu dari sepuluh bersaudara. Ia tumbuh di lingkungan keluarga seniman. Kakek dan ayahnya adalah seniman karawitan, dan ibunya adalah penari arja. Demikian pula dengan saudara-saudaranya yang juga merupakan penari dan penabuh.

            Sejak berusia 5 tahun, ia telah memiliki ketertarikan terhadap dunia seni. Ketertarikannya itu ia tumpahkan dengan belajar memainkan gamelan dari ayah dan kakaknya. Baginya seni merupakan sebuah kebanggan dan berkah karena membuatnya menjadi pusat perhatian banyak orang. Waktu itu, ia menjadi satu-satunya penabuh gamelan cilik yang ikut pentas bersama sekaa gong banjarnya dalam sebuah pergelaran di pura desa.

            Seiring berjalannya waktu, I Made Wardana terus menempa bakatnya untuk menjadi seorang penabuh gamelan Bali. Ia menempa bakatnya dengan cara belajar gamelan Gong Kebyar di banjar Pegok. Tahap demi tahap, satu demi satu intrumen gamelan Gong Kebyar ia pelajari dengan baik. Ia dilatih oleh guru-guru terbaik yakni Pak Kale, Pak Rintig, dan Pak Rundu dari banjar Geladag Denpasar, juga Pak Rembang dari banjar Tengah Sesetan.

            Selain mempelajari gamelan Gong Kebyar, I Made Wardana juga mempelajari gending-gending dan tabuh Janger Banjar Pegok. Ia diajarkan oleh ayah dan ibunya yang juga merupakan penabuh dan penari janger. Sebagaimana diketahui bahwa banjar Pegok memiliki kesenian Janger sakral yang telah di warisi secara turun temurun. Adanya warisan budaya inilah membuat I Made Wardana juga harus mempelajarinya dalam rangka menjaga kelestarian dan keberlanjutan generasi kesenian janger tersebut.

            Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, ia juga mempelajari memainkan gamelan rindik. Menurutnya, saat itu memainkan rindik merupakan sesuatu yang susah dan jarang dilakukan oleh anak-anak. Ia diajarkan oleh kakaknya I Made Arjana. Walau diajar dengan sangat keras oleh sang kakak, namun tidak menyurutkan niatnya untuk belajar sampai bisa.

            Pengalaman berkesenian I Made Wardana semakin meningkat saat ia duduk di bangku SMP. Ketika itu ia mendapatkan kesempatan ikut dalam ajang lomba Pekan Seni Remaja yang diselenggarakan oleh Kota Denpasar. Alhasil ia sering mendapatkan juara pada setiap perlombaan yang ia ikuti. Sempat ada tokoh seniman Kota Denpasar yakni I Nyoman Suarsa yang akrab disapa Pak Man Yangpung melirik potensinya sebagai pemain kendang. Hal ini membuatnya semakin bangga dengan kemampuan yang ia miliki.

            Karena kecintaannya dengan gamelan Bali, setelah lulus SMP I Made Wardana berniat  melanjutkan studinya di KOKAR Bali. Namun, karena pertimbangan biaya dan jarak yang harus ditempuhnya terlalu jauh dari rumahnya, maka ia lebih memilih untuk melanjutkan studinya di SMA Negeri 5 Denpasar. Pada masa inilah ia bersama grup sekolahnya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kejuaraan Baleganjur di Gianyar dan berasil memperoleh juara 1. Lebih dari itu, atas ajakan Pak Rundu, I Made Wardana juga tidak menyangka mendapatkan kesempatan untuk ikut bergabung bersama Sekaa Gong Banjar Pemebetan Kapal menjadi penabuh Gong Kebyar duta kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali tahun 1988. Kebanggannya kembali muncul tatkala mendapat pengalaman diajar oleh para pakar gamelan Bali seperti I Wayan Suweca, I Ketut Gede Asnawa, I Komang Astita, dan I Ketut Wijana.

            Setelah tamat SMA, I Made Wardana memantapkan keinginannya untuk melanjutkan studinya di STSI Denpasar tahun 1990. Ia mengambil jurusan karawitan. Pendidikan yang selaras dengan hobi sekaligus bakatnya membuatnya tidak pernah ada kata bosan untuk berkesenian. Sejak kuliah di STSI Denpasar berbagai kegiatan ia ikuti. Bersama kampusnya ia mengikuti berbagai misi kesenian ke luar daerah seperti Jakarta, Padang Sumatra Barat, bahkan ke India 1993, 1994 ke Jerman, Belgia, dan Luksemburg.

            Di tahun 1994 pula ia mulai mendapatkan kesempatan mendedikasikan kemampuannya kepada Kota Denpasar. Dua hal pengalaman penting yang ia catat sebagai ruang aktualisasi diri adalah  menjadi peserta lomba kendang tari jauk manis mewakili Kota Denpasar dan menjadi pembina Gong Kebyar Wanita Kota Denpasar dalam perhelatan Pesta Kesenian Bali. Baginya, menjadi peserta lomba kendang itu sangat bergengsi. Sebab, di kampusnya ia sedikit mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya memainkan kendang. Ia merasa jengah untuk menunjukkan kemampuannya menjadi yang terbaik. Hasilnya ia berasil mendapatkan juara 1 pada perlombaan tersebut.

            I Made Wardana tidak hanya pintar dalam memainkan gamelan. Semenjak menjadi mahasiswa karawitan di STSI Denpasar, hampir setiap tahun ia mendapatkan ruang untuk membantu membuatkan komposisi tabuh untuk kakak kelasnya yang akan menjalani ujian Tugas Akhir. Setidaknya ia mencatat ada empat karya iringan tari dan satu karya kontemporer yang pernah digarapnya. Dosen paforitnya adalah I Made Lemping. Dari Pak Lemping ia banyak mendapatkan pengetahuan tambahan di luar kelas, seperti mekendang, dan suling pegambuhan. I Made Wardana lulus di STSI tahun 1995. Sebagai karya tugas akhir (TA) ia menggarap komposisi iringan tari dengan judul ”Sangguh”. Sangguh ini adalah sebuah karya yang mengisahkan roman seorang putri dari kerajaan Pemecutan yang bernama Raden Ayu Siti Khotijah, yang sebelumnya bernama Gusti Ayu Made Rai menjadi seorang muslim. Iringan tari ini digarap menggunakan barungan gamelan Gong Gede serta dikemas dengan memasukkan nuansa lagu-lagu muslim.

            Setelah tamat dari STSI Denpasar, I Made Agus Wardana masih aktif berkegiatan di kampusnya. Bulan september 1995 ditawari dan direkomendasikan oleh Prof. I Made Bandem untuk guru gamelan di sekolah musik di Konservatorium di Brusel, Belgia. 8 januari 1996 ia berangkat ke Brusel. Di sinilah I Made Wardana mengalami kehidupan baru sebagai seorang seniman dan pengajar gamelan. Tantangan demi tantangan ia hadapi tanpa lelah dan ragu. Mulai dari cuaca dingin, suasana yang berbeda dari Bali, bahasa yang berbeda, dan lain-lainnya membuat membuat jiwanya semakin kokoh. Selain mengajar, ia juga membentuk sanggar dan grup gamelan di tempatnya mengajar, membentuk grup gamelan dengan orang-orang belgia bernama grup Saling Asah, kemudian juga membentuk grup gamelan di KBRI.

            Kehadiran I Made Wardana di Belgia memberikan angin segar terhadap kehidupan budaya Bali di Belgia. Ia tidak saja berasil mengembangkan gamelan, namun juga mempelopori pembangunan pura di Belgia. Ia juga membuat perkumpulan/banjar bernama Santhi Dharma untuk orang-orang Bali yang ada disana sekaligus menjadi kelihan banjarnya. Sejak tahun 1996, I Made Wardana telah menghabiskan waktu selama dua puluh dua tahun di Belgia. Ia telah banyak berkontribusi dalam mengembangkan gamelan Bali ke ranah internasional. Hampir di seluruh kota di Eropa pernah ia kunjungi untuk menjadi pengajar gamelan dan mempertunjukkan kesenian Bali.

            Tahun 2018, bulan september ia pulang ke Bali. Setelah di Bali ia merekonstruksi genggong Pegok yang menjadi kesenian warisan kakeknya yang bernama I Ketut Regen atau yang sering dipanggil Kak Danjur. Melalui program kegiatan Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, Hasil rekonstruksi ini berasil dipentaskan pada kegiatan pergelaran Pesta Kesenian Bali tahun 2019. Untuk melestarikan kesenian genggong yang ada di Pegok, ia juga membentuk sanggar dengan nama Sanggar  Genggong Kak Danjur. (Qakdanjur)

            Perjalanan panjang pengabdian I Made Wardana dalam jagad seni adalah sebuah bukti bahwa ia konsisten untuk melestarikan kesenian warisan leluhurnya. Dari rekam jejak pengabdiannya, sejumlah penghargaan dan prestasi telah ia terima. Beberapa diantaranya yaitu: tahun 1993 ia menerima penghargaan Indonesian Dance Festival IKJ Jakarta dan Penghargaan Festival Seni mahasiswa Pada Panjang - Sumatra Barat; tahun 1994 ia menerima penghargaan penghargaan Juara 1 Kendang Jauk Manis Duta Kodya Denpasar pada ajang Pesta Kesenian Bali, serta penghargaan sebagai pembina tabuh Kodya Denpasar Pesta Kesenian Bali. Tahun 1995 ia kembali menerima penghargaan sebagai pembina tabuh Kodya Denpasar dalam ajang Pesta Kesenian Bali; Tahun 2008 ia menerima penghargaan sebagai pegawai terbaik KBRI Brussel; Tahun  2022 ia meneria penghargaan 22 tahun di KBRI Brussel Belgia; dan di tahun 2023 ia menerima penghargaan sebagai Juri Baleganjur Pesta Kesenian Bali.

 


Minggu, 05 Oktober 2025

Sejarah Janger Pegok


SEJARAH JANGER PEGOK
OLEH MADE AGUS WARDANA 

    Janger adalah seni pertunjukan remaja Bali yang mengalami kebangkitan pada saat zaman penjajahan Belanda awal abad ke 20. Kemunculannya, berkat adanya pengaruh dari berbagai seni pertunjukan yang berkembang saat itu yaitu Komedie Stamboel, teater bergaya Eropa-berbahasa Melayu yang pertama kalinya muncul di Surabaya, Jawa  pada tahun 1891. (Sumber Arsip Bali 1928, Vol V - Edward Herbst ) Adanya pertunjukan Komedie Stamboel di daerah Bali utara telah menginspirasi para remaja di daerah itu untuk menciptakan kesenian baru dengan melakukan modernisasi dalam kostum dan gerak tari. Tidak itu saja,  pengaruh unsur kerauhan dalam ritual sanghyang, penambahan nyanyian ‘’minum tuak dan arak’’ yang disebut cakepung juga menginspirasi sehingga melahirkan kesenian Janger. Kesenian Janger ini lahir sebagai sebuah pembaruan dimana untuk pertama kalinya pria dan wanita mendapat kesempatan tampil bersama yang mana sebelumnya hanya dominasi kaum pria saja.


Perkembangan Janger dari buleleng hingga ke Bali Selatan

                Janger telah tersebar di seluruh Bali dengan munculnya grup Janger yang sangat terkenal diantaranya Janger kedaton, janger abian timbul, janger Pegok, janger peliatan, janger singapadu dan sebagainya. Gending gendingnya bernada gender wayang, palegongan dengan instrument pengiring adalah geguntangan yang terdiri dari suling, kendang, cengceng, rebab, dan tambur (perkusi arab). Khusus mengenai Janger Pegok yang berkembang pada tahun 1930 an. (Video  arsip Iwf.de Tanz und Trance auf Bali - Filmdokumente aus den Jahren 1937-1945)

    Janger Pegok adalah Janger yang berasal dari Banjar Pegok Desa Sesetan  Denpasar Selatan. Terletak sangat strategis diantara keindahan pantai Sanur dan Kuta yang memberikan perkembangan dan berinteraksi dengan Turis ketika Bali dipromosikan sebagai pulau surga zaman kolonial Belanda.  Janger Pegok yang sangat disakralkan ini lahir dari ketulusan warga masyarakatnya yang setia mengabdi kepada  Sesuhunan. di  Pura Kesuma Sari Banjar Pegok yang mana merupakan tempat suci pemberi  rasa damai dan kemuliaan hidup untuk warganya. Maka dari itu karena kesakralannya, setiap bulan purnama kapat (antara September dan Oktober) setiap tahunnya diharuskan mempertunjukan Kesenian Janger sakral. Sakral diartikan sebelum  pertunjukan berlangsung semestinya dilakukan ritual-ritual keagamaan memohon keselamatan dan menjaga taksu (karismatik pertunjukan) Janger tersebut. . Dengan adanya pertunjukan setiap purnama kapat ini, secara tidak langsung menjadi pelestarian Janger yang dapat diwarisi oleh generasi muda kini. 




Gerak tari dan Nyanyian 

    Janger adalah tari rakyat dan bersifat sosial yang terdiri dari 12 penari perempuan yang disebut Janger dan 12 penari laki laki yang disebut kecak. Penari janger menggunakan kostum tradisional dengan gelungan (hiasan bunga di kepala) sedangkan kecak pada awalnya memakai kostum barat, memakai kumis palsu, hiasan pangkat dibahu (epaulette) dan celana pendek. Namun dalam perkembangannya hingga kini penari kecak memakai udeng (hiasan Bali) dengan kamen (sarung) yang menjadi tradisi hingga kini. 

    Tempat Pertunjukan janger dinamakan kalangan (tempat yang sangat dekat dengan penonton) yang  berbentuk persegi panjang. Dua baris wanita dan 2 baris laki laki. Ada juga bentuknya huruf U yang mana para penari saling berhadapan muka.  Gerak tari yang ditarikan seperti gerakan bahu diangkat, duduk bersila, janger bersimpuh (duduk bersimpuh) tangan kanan dan kiri bergoyang, Tangan kiri kadang memegang lutut kaki dengan gerak angguk kepala. Dalam perkembangannya hingga kini nyanyian janger menggunakan bahasa bali dan lantunan ‘’arakijang jangi janger’’ yangdisertai suara penari kecak yang menyuarakan ‘’ce ecak ecak’’.

    Adapun beberapa gending klasik yang tetap dipertahankan adalah sinempura, suling cenik, keliki gading, tiang iseng, adi ayu dan lain lain.





Rabu, 16 April 2025

Gending Janger Pingsan di pabine

 Intro tiang iseng


Kecak :

Bungane kembang kedise ngindang,

Kenehe girang jeg megedambyang,

Kemu mai, bayune runtag

Kebyah- kebyah sing juari


Janger :

Ngudyang sing juari, uduh beli bagus

Meled manah titiang mengantosang

Yen mule bani, bliang tiang bunga

Bunga miik canang sari

Jangrangi jangijanger 2x. Sriang ento rora roti


Kecak :

Ngudyang sing bani, uduh adi jegeg

Beli megegeson, buka kedis ngindang matinggah dihatine..

Usak bayun Beline, edot pingsan dipabine


Janger :

Eh Beli Beli bagus, ngudyang kanti keto.

Jeg Enggalang dong Encolang

Lan dabdabang lestariang gending janger tiang iseng.

Gending janger inget pidan karya ciaaattt

 Inget pidan ?


Janger : 

Beli beli ingetang pidan, 

Gumi landuh carike liu

Tiang inguh paling, 

Kudyang jani, gumi kebus, tulungin tiang Bli, 


Kecak : 

Adi keto iluh ngambul, klejang klejing sing nawang unduk.


Janger :

Uduh beli

inget tiang pidan, memule padi

Sriang jangi janger arakijang jangi janger

Kepung beli ...

Jalan jani jak mekejang

Megarapan di Carike


Karya Ciaaattt agustus  2024


Gamut Pantun karya Ciaaattt

 Uduh adi ayu ngudyang ditu nyangklek dibucu

Tusing dadi layu nyanan bise gutgut cledu

Makejang anake ngerayu kenyem adi manis madu

Yen nyidang care yuyu grasa grusu nyangket kemu


Uduh bli bagus beli mule pongah juari

Pang siu beli ngerayu tak terduga menusuk hati

Sampunang beli kesusu, tiang tetep menahan diri

Beli tak sadar diri, jangan pernah merayu lagi.



Uduh adi ayu, tusing dadi gaya guyu

Beli edot matemu, nyeleseh mai nyeledet kemu

Sampunang ragu ragu, gelut malu rasa rindu.

Beli bakal melaju, kanti bani gutgut legu


Mimih dewa ratu, kupu kupu mengisep sari

Bli mule perayu, tingkah tiang berseri seri

Encolang mepayas malu, bibih barak me enci enci,

Egolang bangkiang malu, kebyah kebya

h very happy. 






Rabu, 19 Maret 2025

REKONSTRUKSI GENGGONG QAKDANJUR PEGOK SESETAN


 

REKONSTRUKSI GENGGONG QAKDANJUR PEGOK SESETAN

 

Tercetus kreatifitas seni yang sederhana pada zamannya antara tahun 1930-an, seorang pemuda asli Pegok Sesetan yang bernama I Ketut Regen (Pekak Danjur) memikat hati para sahabatnya. Kreatifitas seni itu berupa permainan alat musik yang dinamakan  Genggong. Genggong terbuat dari bambu dengan ukuran panjang  18-20 cm dan lebar 1,5-2 cm memiliki bunyi yang khas dan unik.  Cara memainkannya dengan menempelkan genggong pada bibir, sambil menggetarkan melalui tarikan tali (tekhnik ngedet)  serta menggunakan  metode resonansi tenggorokan untuk menghasilkan nada.

 

Dalam upaya menjaga eksistensi kesenian Genggong ini, I Ketut Regen terus berupaya membentuk komunitas seni genggong yang terdiri dari 4 - 8 orang. Pembentukan komunitas Genggong ini bertujuan menghibur diri melepaskan kepenatan setelah bekerja sebagai petani. Disamping itu pula, pertemuan Komunitas Genggong ini menjadi ajang bersosialisasi, bertemu sapa hingga menjalin tali kasih dan cinta.

 

Namun demikian, seiring berkembangnya zaman yang sangat dinamis dan pengaruh budaya asing, Komunitas Genggong Pegok ini secara pelan-pelan redup menghilang selama puluhan tahun. Ditambah lagi dengan minat anak muda untuk mempelajari khasanah budaya sendiri mulai dilupakan.  Melihat fakta dan kondisi tersebut, sangatlah pantas kita memberi perhatian istimewa dan inilah yang menjadi latar belakang dilakukannya "Rekontruksi Genggong yang sebut dengan Genggong Qakdanjur (Pekak Danjur)




 

Materi Seni dalam rangka Pesta Kesenian Bali 2019

 

Materi seni yang akan ditampilkan terbagi menjadi 3 bagian :

 

i)      Rekonstruksi Gending Genggong Kuno, menampilkan kembali gending asli. (Capung Gantung, Pusuh Kadut, Bungkak Sari, Dongkang menek biu, Kidange Nongklang Crucuke Punyah, Langsing Tuban)

ii)     Rekoneksi mengkaitkan kembali dengan instrumen Geguntangan  berupa Suling, Kendang, Cengceng dan lain-lain untuk menawarkan nuansa lebih bervariasi. (Kedis Ngindang, Paris 2015)

iii) Re-Inovasi, mencuatkan sebuah Fragmentari Komedi "Ampuang Angin" yang diiringi dengan Genggong dan Gamut (Gamelan Mulut) Fragmentari Komedi ini mengisahkan sebuah cerita perjalanan budaya 4 orang bersaudara yang bernama Iciaaattt, Iciuuuttt, Icueeettt dan Nicuiiittt menuju negeri seberang (Gumin Anake). Perjalanan budaya ini membawa misi menebarkan kesenian Hindu Bali ke seluruh Eropa sekaligus  berintegrasi dengan  budaya setempat. Fragmentari Komedi ini memakai "Marionette" (Human Puppet, 2 penari menjadi satu karakter) yang menampilkan gerak-gerak tari Bali humoris dan bersifat menghibur. Disamping itu pula, alunan inovasi  terbaru yaitu Gamut (Gamelan Mulut) yang diciptakan oleh Bli Ciaaattt di kota Brussel Belgia tahun 2009.

 

Sekehe Genggong Qakdanjur terbentuk secara resmi pada tgl 10 Pebruari 2019 yang terdiri dari 18 penabuh dan 8 Penari dengan  pembina tabuh dan tari adalah Bli Ciaaattt

 

 

Urutan Gending Genggong Qakdanjur  Pegok Sesetan

Dalam Rangka Pesta Kesenian Bali ke-41 - 2019

 

1. Capung Gantung

2. Langsing Tuban

3. Pusuh Kadut

4. Kedis Ngindang (Gerong, Suling Cenik, Paris 2015)

5. Genggong  Gen !  "Dongkak Menek Biu" (Hanya Genggong)

6. Bungkak Sari

7. Kidange Nongklang Crukcuke Punyah

8. Fragmentari Komedi "Ampuang Angin" (Gamut, Gamelan 

    Mulut)

 

Kedis Ngindang

 

Kedis Ngindang Metinggah Jejeg Ai

Ngalih Balang Ngabe Lidi

Kanti Nyidang Metingkah Kemu Mai

Ngalih Liang Anggon Pedidi

 

            Ulian Bani Misi Demen Tur Juari

            Aruh Aruh Aruh

            Gending Niki Anggen Megonjakan

 

(@Ciaaattt, Paris 2015)

 

Fragmentari Komedi

"Ampuang Angin"

 

Caritayang Mangkin Ring Gumine

Kawentenan Nyame Bali, sane Mewaste

ICiaaattt, ICiuuuttt, ICueeettt, NiCuiiittt Ha.ha.ha. Bruuuttt !

 

            Clebingkah Beten Biu Belahan Pane Belahan Paso

            Gumi linggah ajak liu, Ade kene ade Keto

           

            Jukut Klentang mewadah pane,

            jukut kacang mewadah kranjang,

            Tekekang je bayune, Apang liang jak mekejang

 

            Don Gedang Meejohan, Don ubi Mepaekan

            Ingetang peplajahan, Anggon titi mani puan

 

@Ciaaattt Pegok, 2019

 

           

kak paku kerep

 

Kak Paku, Kerep (Bapane Rauh, ibunya Murni/dong tukung)

 

Pekerjaan :

Pertamina Benoa. Tukang patri, kantor lurah waker.

 

Tinggi : 170 cm

karakter : keras kepala,

 

Istrinya Kupleg/dong Kenyir. (tukang banten serati). 

 

Kerep artinya tekek. famly kak paku :

1.      Dong pait (merasa, pakeh(bapan man ase), pait (mekurenan ke negara).

2.      Rampud (sing ngelah panak), jumah kak bek.

3.      Rampid (adong man karidut) adong man karidut mekuren ajak kak toya/Sangka (sangka adalah adiknya kok kenyir)

4.      Dong  Pakih (panak ne adan pakih (we Baglet), pakih sekolah ne ken kak paku, we buit/emen ne bli buit (bli buit bapane yan pasek), bli buit menyame ajak mbok rimben/setir.

5.      Regep (bapan ne pak tut om), banjar kaja sesetan.

6.      Adong radeng (ngelah panak besik adane we kenyet , nganten ke pande, panak ne radeng dan radung).

 

warung di pegok :

warung dong sonter, warung nyamplig, warung dong sagir, warung dong juet (locong), warung men seni/loket, warung we Reni dagang tipat nomor 1 (Sarna), warung men swena, warung bli setir, warung men jagra, warung we madri, warung lawar penyu we sandal (di jabe), dagang nasi bubuh emen lio,