Minggu, 13 September 2026

TITI LARAS KARAWITAN BALI

 

TITI LARAS KARAWITAN BALI

 

Titi laras karawitan Bali adalah sistem tangga nada atau simbol notasi yang mengatur tinggi rendahnya bunyi dalam musik tradisional gamelan Bali.

 

Pengertian dan Jenis Titi Laras Bali

Pengertian :

Titi laras berasal dari kata "titi" (nada/notasi) dan "laras" (tangga nada atau sistem penyeteman).

 Notasi Ding-Dong : Karawitan Bali umumnya menggunakan simbol notasi yang disebut titi laras Ding-Dong untuk mencatat dan mempelajari gending.

 Nama Nada: Penamaan nada dalam titi laras Bali diambil dari bunyi instrumennya, yang dikenal dengan istilah Ding, Dong, Deng, Dung, Dang.

 

Laras dalam Gamelan Bali

Pelog (Saih Pitu / Saih Lima): Tangga nada dengan interval tidak sama, umumnya memiliki tujuh nada (saih pitu) atau lima nada (saih lima) dalam satu gembyang (oktaf). Slendro: Tangga nada dengan jarak antar-nada yang relatif seimbang.

 Bangunan lagu tradisional (wangun tembang) di Bali dapat dibedakan menjadi 4, yaitu sekar rare, sekar alit, sekar madia, dan sekar agung.


1. Sekar Rare

Sekar rare juga sering disebut gegendingan. Lirik dan bait dari sekar rare cenderung sederhana, mengandung pesan-pesan moral menggunakan bahasa Bali yang juga sederhana. Sekar rare biasanya digunakan saat anak-anak bermain. Contoh sekar rare antara lain Meong-meong, Made Cenik, Juru Pencar, Cakup Cakup Balang, dan lain sebagainya.

2. Sekar Alit

Sekar Alit sering pula disebut dengan istilah pupuh atau geguritan atau macepat. Sekar Alit memiliki aturan (uger-uger), antara lain banyaknya baris pada setiap pupuh, banyaknya suku kata pada setiap baris, serta labuh suara (lingsa) kata terakhir setiap baris.

Beberapa istilah dalam Sekar Alit yang perlu diketahui antara lain:

Guru dingdong, yaitu suara akhir pada setiap baris (a,i,u,e,o)
Guru wilang, yaitu jumlah suku kata dalam satu baris (satu gatra)
Guru gatra, yaitu jumlah baris dalam satu bait (pada)

Contoh sekar alit antara lain :

Pupuh Sinom, Pupuh Mijil, Pupuh Pucung, Pupuh Ginanti, Pupuh Durma, Pupuh Semarandana, Pupuh Ginada, Pupuh Maskumambang, Pupuh Dandang Gula, Pupuh Pangkur.

3. Sekar Madia

Sekar madia juga disebut kidung, yakni tembang yang mempergunakan bahasa Jawa Kuno, Jawa Tengahan dan Bali Alus. Kidung biasanya berisi puji-pujian terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan dinyanyikan saat upacara keagamaan.

Kidung biasanya disesuaikan dengan jenis upacara atau yadnya yang dilakukan. Ada kidung Dewa Yadnya, kidung Manusa Yadnya, kidung Bhuta Yadnya, kidung Rsi Yadnya, dan kidung Pitra Yadnya.

Salah satu contoh kidung Dewa Yadnya adalah Kidung Wargasari yang biasanya dinyanyikan ketika memulai sebuah prosesi persembahyangan.

4. Sekar Agung

Sekar Agung dikenal pula dengan istilah kekawin atau wirama. Bangunan lagu Sekar Agung diikat oleh guru lagu. Guru berarti berat atau panjang dan lagu berarti pendek atau ringan.

Sekar Agung menggunakan bahasa Jawa Kuno yang isinya mengandung nilai-nilai serta filsafat kehidupan yang tinggi.