Selasa, 25 Juli 2017

Begini, Warga Bali rayakan Tumpek Kandang di Pura Agung Santi bhuwana, Belgia





            Menjaga keharmonisan hidup dengan semua mahluk didunia dan alam semesta merupakan sebuah amanat dalam ajaran agama hindu Bali. Umat Hindu sangatlah setia mengajarkan cinta kasih kepada seluruh ciptaan Tuhan.  Binatang ternak ataupun peliharaan diberikan hari khusus perayaan, bukan untuk disembah melainkan untuk dihormati dan disyukuri keberadaannya.

            Seperti yang dilakukan masyarakat Hindu Bali, berjumlah ratusan datang dari berbagai belahan negara Eropa secara serentak merayakan hari Raya Tumpek Kandang di Pura Agung Santi Bhuwana, Pairi Daiza Belgia Sabtu, 24 Juni 2017 lalu. Kegiatan yang dikoordinir oleh perkumpulan masyarakat Hindu Bali yaitu Banjar Shanti Dharma Belgia Luxembourg ini,  merupakan kegiatan keagamaan dan pelestarian identitas kebudayaan Bali di luar Negeri.

            Hari ini adalah hari Tumpek Kandang dimana pada hari yang baik ini, kita memuja Ida Sanghyang Widi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sanghyang Rare Angon, pengembala makhluk. Di hari ini, kita ingatkan bahwa binatang ternak ataupun peliharaan kita harus hargai, hormati dan sayangi, ujar Made Agus Wardana, Ketua atau Kelian Banjar Santi Dharma Belgia Luxembourg.


            Di pagi hari, pukul 10.00 -12.00 dilakukan persembahyangan bersama dengan sarana upacara yang dibuat secara sederhana dan sukarela oleh para ibu juru banten yang sangat kreatif menjaga semangat beryadnya (menghaturkan secara tulus iklas). Kemudian pada pukul 13.00 -15.00 diadakan acara megibung, yaitu kegiatan makan bersama, membawa makanan sendiri, dibagikan kepada masayrakat yang lain. Tradisi ini sudah menjadi rutinitas dalam setiap upacara persembahyangan yang dilakukan di Pura Ini. Harapan mereka, megibung dapat menjaga persaudaraan tanpa terusik oleh perbedaan soroh/klan, golongan dan lain-lain.

            Untuk memeriahkan perayaan Tumpek Kandang, para seniman tabuh dan tari juga menampilkan kreatifitas bermain gamelan dan tarian Bali seperti tari Pendet, Legong Keraton, Rejang, Janger dan Genjek, Panyembrama yang khusus ditujukan untuk para pengunjung Pairi Daiza. Hal menarik terjadi, ketika dilakukan interaktif gamelan dan tari Bali, mengajak warga Belgia menari Bali, sangat diminati para pengunjung yang berjubel di tempat pertunjukan seni tersebut.






            Taman Pairi Daiza sebagai taman konservasi alam, flora Fauna dan Budaya Dunia  ini terletak 85 km dari kota Brussel. Taman yang menjadi  idola masyrakat Eropa ini, dinobatkan sebagai salah satu yang terbaik di Eropa karena memuliakan peradaban budaya dunia lain, seperti hadirnya Pura Bali yang dinamakan Pura Agung Santi Bhuwana  dengan sawah berundak undaknya. (Ciaaattt)











Perayaan Galungan dan Kuningan di Wassenar Belanda


           
            Kokohnya kebudayaaan hindu Bali tidak saja tergantung kepada penyajian seni semata. Belajar gamelan dan tari sudah lazim sebagai bagian dari pelestarian budaya demi menjaga keutuhan Bali. Mendengarkan Dharma Wacana tentang bimbingan kerohanian, umatnya hanya menjadi pendengar yang baik. Kemudian merayakan hari besar keagamaan setiap 6 bulan sekali, bagi sebagian orang cukup memberatkan. Kenapa ?

            Berbeda dengan masyarakat hindu Bali di Eropa dalam upaya menjaga kokohnya budaya hindu tersebut. Melalui adaptasi dengan lingkungan sekitarnya, menyesuaikan waktu, mereka berbaur ditengah masyarakat multikultur negeri Eropa. Memberikan ruang, keterbukaan, menjalin hubungan, membagi pengalaman hingga bergotong royong.


            Pada hari Sabtu, 15 April 2017 kemarin, dalam suasana musim semi bersuhu 11 derajat masyarakat hindu Bali merayakan Galungan dan Kuningan di wisma Duta Besar, Wassenaar Belanda. Ratusan umat hindu dari Belanda, Belgia, Perancis, Inggris, Jerman,ceko, malta, Irlandia hening melantunkan Puja Trisandya dan Panca Sembah sebagai bagian dari acara persembahyangan dipagi hari. Tidak saja warga Bali, tetapi warga Eropa turut aktif melakukan persembahyangan bersama.

            Galungan dan Kuningan adalah rangkaian hari raya besar umat hindu Bali yang jatuh setiap 210 hari sekali menurut kalender Bali. Galungan selalu bertepatan dengan hari rabu (kalender Bali : Buda Kliwon Dungulan) dan Kuningan selalu bertepatan dihari sabtu (Kalender Bali : Saniscara kliwon kuningan). Galungan sebagai hari kemenangan dharma (kebenaran) melawan adharma (kebathilan). Sedangkan Kuningan sebagai rangkaian dari Galungan bermakna lebih kepada pengendalian dan intropeksi diri. Kedua hari raya ini mengingatkan kita betapa pentingnya mengucapkan puji syukur kepada Ida sanghyang widi wasa atas ciptaan alam semesta beserta isinya. 




            Hadir dalam kesempatan tersebut Bapak Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja,  masyarakat Indonesia, Friends of Indonesia, perwakilan Kementerian Luar Negeri Belanda dan para Duta Besar negara sahabat.  Dalam sambutannya, Dubes Wesaka Puja menyampaikan ucapan selamat hari raya Galungan dan Kuningan kepada seluruh  umat hindu di Eropa. 

            Pada siang hari dari pukul 13.00 – 17.00 diselenggarakan festival budaya yang bertema one day in Bali and beyond, dimeriahkan oleh pertunjukan gamelan dan tari bali, musik ethnic dan hiburan lainnya. Sebanyak empat grup gamelan yang tampil dalkam kegiatan tersebut adalah Swara Santi (Amstelveen), Sekar Alit (Leiden), Banjar Suka Duka Nederland dan Grup Gamelan Belanda – Belgia. Adapun tarian Bali yang ditampilkan adalah Rejang dewa, Barong, topeng keras, topeng Tua, Bondres, cendrawasih, margapati, legong keraton. Sedangkan penampilan musik ethnik dimainkan Reggy Aggerbeek (guitar), Ari Kurniawan (sax) dan Bli Ciaaattt (suling Bali).

                Penonton yang hadir dalam pertunjukan tersebut sangat antusias dan memberi perhatian khusus terhadap penampilan seniman yang berpartisipasi dengan kegiatan ini bahkan sangat kagum akan kekuatan budaya Hindu Bali yang begitu mempesona warga Belanda. Sepasang warga Belanda yang bernama Erik Van Rossem dan Arjanti Sosrohadikoesoemo selalu hadir disetiap kegiatan budaya Hindu Bali. Kedua Warga keturunan Indonesia ini merasa bangga diterima ditengah-tengah masyarakat Hindu lainnya walaupun mereka tidak menganut Hindu. ‘’Saya tidak saja berpartisipasi bermain gamelan Bali tetapi juga respek budaya Hindu Bali yang banyak mengandung nilai toleransi dan kedamaian,’’. Saya sangat  senang diterima dan menjadi keluarga besar masyarakat Bali di Eropa, ujar erik dan arjanti disela-sela kegiatan tersebut.


Desa kala patra,  menjaga keutuhan budaya hindu Bali

            Melihat gencarnya pengaruh budaya luar terhadap keutuhan Hindu Bali membuat banyak pihak merasa ‘’pesimis’’ dengan Bali. Mengikisnya tanah persawahan, padatnya jumlah penduduk multikultur menjadi tantangan terhadap keutuhan kebudayaan Hindu Bali tersebut. Pembangunan yang tidak terbendung, perubahan pola pikir akan kebutuhan sandang pakan papan yang setiap harinya memerlukan biaya yang sangat tinggi.

            Bagaimana dengan masyarakat Hindu Bali sendiri ? Apakah mereka mampu bertahan menjaga keutuhan Budaya Hindu Bali ditengah persaingan, gempuran budaya luar dan pariwisata ? Tidak gampang memang menjadi manusia Bali (baca Nak Bali) yang harus taat terhadap adat istiadatnya. Banyak keharusan yang mesti dijalankan. Tidak gampang pula dengan bertahan hidup dengan biaya tinggi ditengah pariwisata internasional yang serba mahal.

            Dari sekian banyak cara mengatasi tantangan tersebut diatas, sebagai ‘’nak Bali’’ barangkali kita bisa meniru model kesederhanaan kegiatan hari raya besar Hindu Bali di Eropa. Berpedoman dengan tiga kearifan lokal Bali yaitu Desa (tempat), kala (waktu), Patra (kondisi). Setiap kegiatan keagamaan disesuaikan dengan ketiga unsur tersebut. Hal ini menjadi sangat efisien dan memudahkan semua pihak tanpa mengurangi esensi kegiatannya. Sarana persembahyangan seperti banten sangat sederhana. Durasi kegiatan memerlukan waktu hanya sehari, tidak perlu berhari-hari. Dijalankan dengan hati senang, biaya murah dengan penuh makna. Ini terbukti, semakin hari semakin berkembang pesat masyarakat hindu Bali di Eropa giat melakukan ibadah yang diacarakan oleh komunitas masyarakat Hindu bali di berbagai kota besar di Eropa.







(Made Agus Wardana, tinggal di belgia)

           



Selasa, 16 Mei 2017

Konser JERUJI yang ‘’teruji’’ di Belgia



            Para komunitas hardcore punk, metal di kota Mons tadi malam terlarut dalam hentakan keras konser perdana JERUJI band asal Bandung di JOC Mons Belgia Senin, 10 April 2017. Teknis permainan para pemusik band ini tidak diragukan lagi. Skill tinggi dan kompak ditambah dengan gaya vokal shouting yang mampu menghipnotis komunitas tersebut. ‘’Saya sangat kagum dengan penampilan kalian (JERUJI), ‘’ very very good ! ujar Johan Detilleux pihak penyelengara dari Alive Records, Mons.

            JERUJI menampilkan 10 lagu original karya mereka sekaligus mempromosikan album kelima terbaru yaitu Stay True.   Gedung JOC tersesak padat oleh para komunitas tersebut sehingga meluber keluar gedung pertunjukan. Antusias penonton sangat positif dan apresiatif. Komunitas tersebut tergoyang ketika moshing/slamdancing  bergerak kesana kemari tanpa menimbulkan aksi kekerasan diantara mereka. Bahkan diakhir pertunjukan suasana kekeluargaan antar komunitas itu berlangsung dengan penuh toleransi.




            Grup Band JERUJI dibentuk pada tahun 1996 dengan beranggotakan Sani (drummer), Ginan (vokalis), Andrie (gitaris) dan bassist Hendy alias Pengex. Konser tahun ini bertajuk  JERUJI 20th Anniversary of European Tour dari tanggal 7 April – 29 April 2017. Tur Eropa ini akan menggelar konser di Belgia, Perancis, Hongaria, Polandia, Ceko, Jerman dan Austria sebanyak 20 konser yang diundang oleh Enemy Booking, Penyelenggara konser musik metal dari Eropa Timur.

            Dalam kesempatan tersebut, KBRI Brussel menyambut gembira penampilan Konser JERUJI di Belgia sebagai momentum sejarah khususnya membuktikan perkembangan para pemusik muda Indonesia.  Indonesia tidak saja memiliki khasanah budaya folklorlistik, tetapi memiliki budaya modern yang pantas diakui dunia. JERUJI salah satunya telah membuktikan diri bahwa  aliran hardcore punk, metal yang dimainkan mendapat tempat dihati warga Belgia.



             Hadir dalam konser tersebut, Ignatius Priambodo Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Brussel dan beberapa masyarakat Indonesia yang berdomisili di kota Mons. "KBRI Brussel sangat mendukung kegiatan  JERUJI 20th Anniversary of European Tour khususnya di Belgia. Penampilan Jeruji sangat luar biasa malam ini dan mudah-mudahan konser mereka di Yper akan lebih dashyat lagi," ujar Ignatius. Jeruji akan melanjutkan tur mereka ke Nantes, Prancis dan kembali tampil di Yper, Belgia tanggal 29 April 2017.


(made agus wardana )

Rabu, 10 Mei 2017

Menyambut matahari terbit di Hotel Inna Sindhu Sanur.





Pegok Sesetan tetap membuat hati saya senang.

            Kesal ! berkali-kali mencoba menyeberang jalan, tidak satupun  kendaraan yang mau berhenti. Setiap detik mobil dan motor berlalu-lalang menyemprot asap yang menusuk hidung. Suara klakson Tiiit ! berbunyi memekakkan telinga. Bau knalpot sepeda motor beradu dengan parfum para pengendaranya. Saya berhenti sejenak,  mencari tempat penyeberangan lain agar bisa lewat, sambil melirik rambu lalu lintas. ‘’Kene Gumin Cange Jani ! (Begini daerahku sekarang).  Pegok Sesetan  sebagai tanah kelahiran,  yang terletak di Denpasar Selatan ini sungguh sangat amat berbeda ketika dibandingkan tahun 1980.  Namun demikian sekesal-kesalnya saya, Pegok Sesetan tetap saja membuat hati senang.

            Pada awal Juli 2016 di Denpasar Bali, suhu udara  menyengat, mengucurkan keringat pembawa resah dan gelisah. Ketiga anak sayapun protes berat dengan suhu tersebut. Saya selalu berusaha meyakinkan mereka bahwa Bali itu lebih baik dari negeri Belgia. Maksud hati tiada lain agar lebih mencintai Bali Indonesia. Maklumlah mereka semua terlahir di Belgia, negeri yang memberikan pertumbuhan fisik, pendidikan dan  fasilitasi publik.  Berbagai cara saya lakukan untuk mempengaruhi dan menyenangkan hatinya agar mencintai Bali yang katanya dahulu kala  sering disebut Paradise. 

            Mungkin itulah fakta sekilas tentang apa yang saya alami di Pegok Sesetan dimana saya dilahirkan. Penduduk pendatang benar-benar membanjiri segala lini kehidupan bahkan jumlahnya telah melebihi penduduk asli. Kita sudah tidak mengenal satu sama lain.  Budaya menyapa dengan ucapan santun,  mulai terabaikan. Sedikit demi sedikit budaya Bali mulai tersaingi. Sayang beribu sayang jika budaya Hindu Bali yang penuh santun dan damai itu akan digerus pemikiran yang berorientasi serba uang dan uang.  Namun demikian, apapun gambaran fakta  tersebut, Pegok Sesetan akan tetap membuat hati saya senang.






Romantisme matahari terbit

            Pagi itu tepat pukul 06.00 pagi, saya terbangun dari tempat tidur kamar hotel Inna Sindhu Sanur beach. Kicau burung bersautan satu sama lain menjalin improvisasi melodi. Nuansa pagi yang sejuk dan asri terasa kuat. Burung-burung sepertinya  mengingatkan saya untuk segera menuju pesisir pantai sindhu. Lihatlah suasana pagi yang diidamkan banyak orang ! Bali masih cantik dan tanpa polusi.  Semakin saya mendekat semakin keras suara ombak beriak menerjang gundukan pasir.  Angin sepoi-sepoi menghanyutkan jukung atau perahu kayu milik para nelayan yang tertambat di bibir pantai. Sriaaattt ! Sriuuuttt ! bergoyang mengikuti aliran ombak yang semakin membesar.

            Disamping saya, duduk mesra sepasang sejoli warga Eropa.  Mereka menunggu detik-detik terbitnya matahari pagi, bersiap menangkap momen munculnya sang surya.  Dari kejauhan wajah Gunung Agung sebagai gunung tertinggi di Bali tampak terbayang menjulang.  Pelan-pelan namun pasti,  Jreeng !  Berangsur-angsur matahari menyeruak jingga, menyinari awan di ufuk timur jauh. Waoo, sungguh indah !
            Kecupan demi kecupan terdengar. Aduh ! Kemesraan kedua sejoli menikmati dunia cinta mereka, seakan lupa ada saya disampingnya. Pura pura tidak melihat ! Sayapun beranjak dengan kepura-puraan, malu-malu, sambil melirik ngintip, tidak mau mengganggu percintaan mereka. Momen cinta yang sangat indah, Cuiiittt ! Cuiiitttt ! Sambil menyolek pinggang istri saya, yang duduk disamping kanan, sembari melantunkan lagu pop Bali era tahun 70,-an ‘’ Nguda liman bli ne gudip sikun bli ne singgak-singguk ? (terjemahannya : Kenapa tangan kakak nakal, siku tanganmu mencolek pinggangku ? )  Sangat romantis bukan ?





Hotel Inna Sindhu Sanur

            Seandainya waktu masih mengijinkan dan uang euro saya masih tersisa, saya akan tinggal lebih lama di hotel ini. Suasana hotel yang asri, nyaman membuat rasa betah berlimpah. Pelayanan para staf hotel yang senyumnya menempel 24 jam  dan sangat professional, membujuk niat untuk kembali menginap disini. Lokasi hotel yang berada di bibir pantai, menghanyutkan bathin seakan berada ditengah kedamaian yang jauh dari hiruk pikuk suara motor dan mobil.

            Kamar hotel yang bersih, dengan fasilitas standar international lengkap dengan bar, tv kabel, wifi serta kolam renang outdoor yang dikelilingi lanskap tanaman hijau. Disinilah, anak saya mulai menyatakan  bahwa Bali itu ternyata lebih enak dari Belgia. Kita bisa bermanja di hotel, berenang sesuka hati, makan sepuasnya di warung pinggir pantai, menikmati jagung bakar, pokoknya serba ada dan murah.

            Selama tiga hari tiga malam saya memanjakan diri disini dengan harga khusus Rp 3 juta. Sarapan pagi yang dimulai pukul 07.00-10.00 menawarkan berbagai hidangan eropa dan Indonesia.  Sedangkan pada sore hari saya lebih suka menikmati aneka minuman seperti kelapa muda segar, jus dan sebagainya.  Lagi-lagi pelayanan ramah senyuman petugas Bar yang begitu membujuk niat untuk kesini. Ramah banget !

            Secara kebetulan saya bertemu dengan Ibu Ayu Ariani, manager hotel Inna Sindhu Sanur. Ibu yang ramah dan penuh semangat menyampaikan sekilas info tentang sejarah hotel ini. Hotel yang sudah berdiri sejak jaman penjajahan Belanda sampai menjadi hotel milik pemerintah Indonesia (BUMN) yang tergabung kedalam group hotel Inna. Pantesan juga para tamunya kebanyakan Eropa, yang terdengar dalam percakapan bahasa Belanda termasuk warga vlaams Belgia yang sedang menginap di hotel tersebut.







 Mari peduli sampah plastik !

            Bali sebagai pusat pariwisata di Indonesia memiliki jumlah hotel, vila berlimpah ruah seperti kacang goreng berserakan.  Entahlah, bagaimana kondisi itu bisa terjadi antara perang tarif, beradu keramahan, promosi murah meriah hingga mahal tak terjangkau. Sudah barang tentu wisatawannya bervariasi dari wisatawan yang suka ngutil membawa pulang handuk hotel, wisatawan bersahaja dan wisatawan sok jadi raja.            Mau tidak mau, suka tidak suka Bali harus menanggung beban deritanya karena pariwisata telah  merubah segalanya.

            Ketika saya berlari pagi menyusuri pantai Sanur dari ujung utara hingga selatan, saya tersentak dengan beberapa bule yang memungut sampah plastik. Dengan membawa tas ransel mereka rela memungut sampah plastik tersebut. Terlepas dari apa tujuannya, tapi itu sebuah bentuk kepedulian mereka. Bagi mereka gelas plastik yang terhempas di pesisir pantai      harus dibersihkan, daripada dimakan penyu atau ikan sekitarnya.  

            Kalau kita juga bersikap dan bertindak seperti mereka, apa kata dunia ? Bali pasti tidak akan dibuli habis-habisan.  Di satu sisi, saya juga melihat ibu-ibu lokal Bali dari dinas kebersihan pantai yang sedang aktif membersihkan plastik tersebut. Kalau kita tidak bisa melakukan tindakan seperti mereka diatas, tidak apa-apa.  Ada cara lain yang bersifat jangka panjang, yaitu pendidikan penanganan sampah kepada anak-anak kita sejak usia dini. Soalnya pendidikan untuk dewasa biasanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri, alias berlalu saja.  Kita menggantungkan harapan kepada anak-anak muda, sembari menyampaikan betapa berbahayanya plastik untuk kelangsungan kehidupan kita.

            Abad ini adalah abad ke-21. Peradaban manusia sudah berkembang sangat jauh. Kita masih jauh ketinggalan ngurusin sampah. Bingung tidak ada jalan keluar. Warga asing sudah mempersiapkan diri tinggal di Planet Mars. Pengaturan sampah sudah sangat professional di negeri mereka. Truk sampah di Eropa memungut sampah setiap 2 kali seminggu di depan rumah. Plastik sampah dibedakan, seperti di kota Brussel Belgia misalnya ; tas putih untuk sampah bio dapur, tas kuning untuk sampah kertas, tas biru untuk plastik minuman, tas hijau untuk tumbuh-tumbuhan.  Semuanya berjalan tanpa hambatan, tinggal bayar pajak tahunan rumah tangga sebesar 89 euro semua beres.


Menikmati hidup dan tetap mengkritisi  

             Pegok Sesetan membuat hati saya senang karena disana saya dilahirkan. Romantisme matahari terbit yang membawa kedamaian disitu saya rasakan. Berlibur di hotel Inna Sindhu Sanur sebagai pilihan keluarga tercinta serta perduli dengan sampah plastik merupakan  empat pengalaman nyata yang saya lihat dan alami sendiri.   Pikiran yang penat dan lelahnya jasmani mengharuskan kita meluang waktu untuk berlibur.  Berlibur tidak perlu jauh yang penting terjangkau dengan isi dompet kita.  Hiduplah yang wajar, semampunya dan dapat dinikmati. Apa yang kita lihat dan rasakan selama berlibur akan terkenang selamanya.  Begitu pula dengan turis asing jika melihat plastik berserakan mereka akan bercerita dan berbekas dihatinya. Nah, disinilah kita perlu mengkritisi apa saja yang mengganggu kenyamanan lingkungan kita, agar menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan dimasa-masa yang akan datang.  Yuk Berlibur sambil perduli lingkungan ! (made agus wardana, tinggal di belgia)





Jumat, 24 Februari 2017

Pasar Hamburg, bukan Sekedar Pasar Biasa





Kota Hamburg mesra di malam hari, ramah di siang hari


            Semenjak kehadiran wifi dan smartphone segalanya serba mudah dan praktis. Era online merambah segala lini kehidupan, mempermudah kita memperoleh informasi update. Berbeda dengan 20 tahun yang lalu, ketika saya masih muda belia di kota Brussel.  Berkomunikasi via telepon rumah dengan keluarga dan sang pacar di Bali, harus bayar mahal hanya untuk 5 menit saja. Jeleknya lagi,  kita tidak bisa melihat wajah secara live. Sekarang praktis, menggunakan facebook messenger, webcam, whatapps  kita bisa melihat dan mendengar secara jernih dan lebih murah.

            Pukul 5 sore di Bandara Brussels international airport, saya sedang menunggu pesawat menuju kota Hamburg Jerman. Menunggu tidak lagi membosankan, karena informasi update di media sosial beragam. Saya membaca, mengintip status teman yang sedang ceria, kecewa, selfie hingga menyaksikan tips-tips segar resep memasak di youtube. Akhir-akhir ini, saya sangat konsen dengan memasak. Mencoba berbagai resep, khususnya sayur-sayuran. Harap maklum ya pembaca, hidup di perantuan membutuhkan olahan  kreatifitas disegala bidang, termasuk kreatifitas dalam memasak.

            Singkat cerita, dalam hitungan 1 jam dari kota Brussel, saya telah tiba di kota Hamburg. Kota ‘’mesra di malam hari, ramah di siang hari. Saya menyebut ‘’mesra’’ karena banyaknya muda-mudi bermesraan di tepi danau Alster, memadu kasih dalam riak suasana malam syahdu. Danau Alster disebelah mana ya ? alamatnya di  Jungfernstieg, 20534 Hamburg, bisa menggunakan  public transport :  S1, S2, S3 and U1, U2, Station 'Jungfernstieg'. 





            Kemudian, saya menyebut ‘’ramah’’ karena terkesan dengan warga setempat. Kejadiannya disaat saya kesasar menuju museum Etnologi Museum für Völkerkunde Hamburg.  Telepon saya low bat, saya memohon dicarikan taksi kepada warga Jerman yang kebetulan berada di sekitar saya. Satu keluarga membantu dengan ramah, menunggu dan menelpon hingga sopir taksi datang.  Saya bersyukur ternyata banyak sekali orang orang baik berada disekeliling kita, atau barangkali ini merupakan kebetulan saja.  Walaupun demikian kesan positif yang terjadi pada saya ini, sedikit tidaknya  akan terkenang dihati selama-lamanya.


Undangan berkesenian di Pasar Hamburg

            Kedatangan saya ke Hamburg sebagai pemain suling Bali, atas undangan dari Juli Wirahmini Biesterfeld sang ketua penyelenggara Pasar Hamburg. Pasar Hamburg adalah ajang  festival Indonesia terbesar di negara berbahasa Jerman yang diadakan setiap tahun di museum Etnologi Museum für Völkerkunde Hamburg. Tahun ini merupakan edisi yang keempat kalinya, yang diselenggarakan selama dua hari  dari  tanggal 10 hingga 11 September 2016. Beragam acara ditampilkan seperti pertunjukan tari, musik, diskusi, film, workshop, pameran foto, bedah buku dan pasar kuliner Indonesia.





            Para artis didatangkan khusus dari Indonesia seperti grup band Marginal Jakarta dan  Topeng Bondres Lawak Rare Kual Bali. Sedangkan yang dari Eropa diantaranya  Ina Dance Belanda, Yonatan Pandelaki Band Jerman, grup Tari IMAN Jerman, Duo Violissimo Jerman, The Toffi Jerman, Trio Fridaus Jerman, dan saya sendiri si pemain suling Bali dari  Belgia.

            Pukul sembilan pagi di hari pertama Pasar Hamburg, kesibukan sudah kentara diberbagai sudut ruangan museum. Para panitia yang sebagian besar pelajar dan diaspora Indonesia ini, terlihat bekerjasama bahu membahu. Sebagai penampil seni atau artis, kita ditempatkan dalam sebuah ruangan yang bersih dan nyaman yang berada persis didekat panggung utama pertunjukan.  Apapun yang kita tanyakan kepada panitia, jawaban mereka jelas dan siap membantu para penampil seni tersebut. Para panitia disini membawa pesona kekeluargaan dan melayani artis secara profesional. Program yang tertulis secara jelas, dengan durasi waktu yang telah ditentukan membuat para penampil seni menyiapkan diri sebaik mungkin. Kemudian peralatan soundsystem dan para tekhnisi yang berpengalaman membuat pasar Hamburg ini semakin profesional. Namun satu hal yang perlu dikritisi adalah pasar Hamburg terlalu pendek waktunya. Kalau bisa diperpanjang menjadi 3 atau 4 hari agar bisa menjangkau publik lebih luas.

            Didalam ruangan artis, saya hanya tersenyum manis, melihat godaan demi godaan grup lawak bondres Rare Kual Buleleng Bali terhadap penari cantik Ina dance dari Belanda. Keakraban mereka membuat suasana bertambah menyenangkan. Suara kocak rare kual, dengan penuh tawa membuat saya terpingkal. Gaya, ekpresi lucu, gerak-gerik polos dan guyonan mereka sangat khas tanpa dibuat-buat. Rare Kual yang terdiri 4 pemuda Bali ini  merupakan grup topeng bondres terkenal yang sudah melanglang buana di Bali bahkan ke berbagai negara eropa. 



            Tanpa saya sadari, salah satu dari tim Rare Kual menghampiri saya sambil berbisik dengan serak-serak basah dalam bahasa bali khas buleleng yang kental :

‘’ Bli made, jegeg jegeg gati penari Ina dance uli Belande ne !, tawang keto jeg plaibang polone ! (artinya : Bli Made, cantik cantik sekali para penari dari Ina dance, saya mau larikan mereka ) Sayapun menjawab dengan nyengir sambil berkedip  :  ‘’Eh, kanguwang mai mepotrek gen paekan, apang maan ngelut, jeg nyak seger bayune, kiiik ! (artinya : eh, sini kita berfoto kesini saja sambil peluk dikit, supaya semangatmu segar bugar, kiiik )

            Mendengar saran saya itu, mereka (Rare Kual) berkedip cinta bling bling bling pertanda ‘’tidak sabar’’ untuk segera berpelukan. He he he.


Pameran Foto Suara Pesisir

            Nampaknya para seniman-seniman ini tidak diragukan lagi sepak terjang berkesenian mereka. Lihatlah penampilan grup band Marjinal yang sangat jantan menyuarakan perlawanan kuat terhadap suatu ketidakadilan yang berkembang ditengah masyarakat. Marjinal melantunkan Lagu tolak reklamasi teluk benoa  terdengar bergemuruh diruangan museum, dinyanyikan bersama sama oleh para penonton. Kemudian Rare Kual beraksi dengan interaktif gerak komedi lucu yang berwajah bondres Bali, mampu menyemarakan festival ini hingga penonton terpingkal pingkal.





            Selangkah kemudian, saya juga sempat memanfaatkan waktu untuk melihat Pameran Foto yang digelar di lantai 1 gedung museum . Pameran foto ini menyajikan image cerita tentang pesisir laut nusantara dan wajah pesisir sebagai tempat tinggal nenek moyang kita sebagai bangsa pelaut. Pameran ini rupanya bertajuk Suara Pesisir yang menjadi ajang penggugah dalam pasar Hamburg tahun 2016 ini.  Karya foto yang dipamerkan  adalah buah karya sepuluh pewarta foto Divisi Pemberitaan Foto Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA atau ANTARA Foto.

            Kesepuluh pewarta foto yang karya mereka dipamerkan pada ajang ini adalah Andreas Fitri Atmoko, Iggoy el Fitra, I Nyoman Budhiana, Ismar Patrizki, Muhammad Adimaja, Mochammad Risyal Hidayat, Rosa Panggabean, Sigid Kurniawan, Wahyu Putro A, Moch Risyal Hidayat, dan Zabur Karuru. Dari kesepuluh pewarta foto itu, disajikan 13 foto cerita seri tentang pesona keindahan alam, berbagai prosesi budaya masyarakat yang menawan, dan sejumlah problematika mengenai pesisir yang tengah menghangat di Indonesia.


Yuk, Mencintai keragaman nusantara

            Kalau bukan karena cinta Indonesia, tidaklah mungkin Pasar Hamburg ini berjalan dengan lancar dan sukses.  Waktu yang tersita, biaya yang dikeluarkan, hingga tenaga terkuras habis bukanlah menjadi halangan bagi tim penyelenggara Pasar Hamburg ini. Pengerjaan dilakukan secara swadaya oleh diaspora Indonesia, pelajar, masyarakat Indonesia dan masyarakat Jerman sepantasnya diberi apresiasi yang tinggi. Bersinergi membangun Indonesia, menginformasikan berita aktual dan mengkritisi dampak negatif yang terjadi ditengah masyarakat, menampilkan keahlian para seniman Indonesia hingga mempromosikan cita rasa makanan Indonesia di Pasar Hamburg ini.





            Alangkah bahagianya kalau kita melihat kebersamaan warga masyarakat Indonesia yang berbeda suku, agama dan golongan menyatu membangun Indonesia melalui Pasar Hamburg  ini. Alangkah cerianya nenek moyang para pelaut nusantara  ketika mereka melihat kepedulian kita terhadap pesisir laut nusantara walaupun dalam bentuk pameran foto. Alangkah terhiburnya warga Jerman atau para pengunjung atas berbagai atraksi seni budaya nusantara. Alangkah sayangnya kalau kita tidak mencintai keragaman budaya kita sendiri bahkan tidak perduli sama sekali.

            Nah, para pembaca kompas travel, sebagai penabuh suling Bali yang telah tiga kali hadir di Pasar Hamburg ini, melihat dengan mata kepala sendiri bahwa warga Jerman dan warga Eropa lainnya sangat tinggi menghargai budaya Indonesia. Mereka serius mendengarkan, serius menyaksikan, serius memainkan gamelan, serius menari, serius mempelajari hingga cintanya lebih daripada kita mencintai budaya kita sendiri.  Apakah dirimu rela budaya nusantara akan menjadi milik warga asing ? Tidak Bukan.
(Penulis : made agus wardana tinggal di Belgia)