Senin, 30 Juni 2014

Parade Budaya Indonesia di kota Frankfurt, Jerman

"Barong ngelawang" Bali di Parade der Kulturen, Frankfurt Jerman
Penonton tiada henti bertepuk tangan, tertawa, bersorak seakan hanyut dalam gerak - gerik penari barong ket yang menggoda sederetan gadis gadis cantik jerman yang sedang asyik bergoyang mengikuti irama musik gamelan bleganjur. Senyuman gadis gadis itu menandakan mereka sangat antusias menyaksikan parade budaya yang dikenal dengan nama Parade der Kulturen di kota Frankfurt, Jerman pada hari Sabtu, 28 juni 2014. Barong Ket tersebut ditarikan oleh Wayan Terima (59 tahun) dan Made Muarde Karang (58 tahun). Kedua penari ini sudah menetap di Jerman lebih dari 20 tahun.
"Walaupun umur kami menjelang 60 tahun, bukan menjadi penghalang untuk berkesenian. Malahan justru sebaliknya, Kami semakin bergairah dan awet muda bertekad ngelawang barong sepanjang 6 km mengelilingi jalan raya besar tiada henti. Keringat bercucuran membasahi badan, penonton berdesakan memenuhi jalan raya kota frankfurt, mereka senang kamipun bergembira. ujar kedua penari barong ini dengan penuh semangat.


Parade Der Kulturen adalah sebuah event internasional yang diselenggarakan oleh pemerintah kota Frankfurt am Main. Parade ini diselenggarakan setiap dua tahun sekali yang diikuti oleh berbagai negara. Selama sepuluh tahun terakhir event ini telah menunjukkan bahwa keanekaragaman budaya yang ditemui di kota Frankfurt pada khususnya dan di Jerman pada umumnya dapat hidup berdampingan secara damai dan saling menghormati. Atas kerja sama Konsulat Jendral Republik Indonesia Frankfurt (KJRI) dengan Persatuan Masyarakat Indonesia Frankfurt (PERMIF), Indonesia telah menjadi salah satu peserta dari sekitar 54 grup yang ikut dalam Parade Budaya ini. Kali ini Indonesia menampilkan tiga macam kebudayaan yakni Betawi, Padang, dan Bali sebagai perwakilan dari kemajemukan budaya di Indonesia.

Kebudayaan Bali yang ditampilkan pada kali ini didukung oleh Nyama Braya Bali Jerman yang menampilkan tari Rejang Dewa, Barisan penari pendet, barong ket dan rangda. Kemudian Sekar Jagat Indonesia Paris Perancis dibawah pimpinan Ibu Putu Anggawati menampilkan barisan lelunakan lengkap dengan Keben ( tempat banten) serta iringan musik gamelan bleganjur oleh grup Bali Puspa.
Grup Seni Bali Puspa, Koln Jerman.
Kemeriahan parade der Kulturen tahun 2014 ini, tidak terlepas dari partisipasi sanggar Bali Puspa pimpinan Nyoman Suyadni Mindhof. Bersama suaminya Ralf Mindhoff, Nyoman mendirikan sanggar kesenian bali pada tahun 1995 di kota Koln, Jerman. Nyoman Suyadni kelahiran Banjar Mengening desa Cemagi, kabupaten Badung Bali dengan gigih tetap mempromosikan budaya bali di jerman. Mengajak masyrakat jerman mencintai budaya Bali adalah langkah mulia yang telah dilakukan tanpa pamrih dan mandiri selama bertahu tahun.

Menjaga kelestarian dan mempertahankan tradisi kesenian bali adalah tujuan utama pendirian sanggar seni ini. Dengan bantuan masyarakat setempat khususnya pecinta Bali, sanggar ini telah berkelana ke kampung kecil, ke sekolah-sekolah menebarkan seni Bali berupa pertunjukan gamelan gong kebyar, bleganjur, gender wayang dan berbagai tarian bali seperti telek, barong dan rangda, pendet, manukrawa, sekar jagat, janger, genjek dan lain lain. Pertunjukan kesenian Bali tidak saja dilakukan di jerman, Bali Puspa melebarkan sayapnya dengan menebarkan kesenia bali ke luar Jerman yaitu Belgia, Belanda, Perancis, Swiss dan Amerika Serikat.
Keragaman budaya "cultural diversity"
Indonesia adalah negara yang memiliki keunggulan keragaman budaya dibandingkan dengan negara lainnya. Keunggulan ini adalah aset bangsa yang unik. Indonesia mempunyai potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi. Dengan penduduk Indonesia 230 Juta jiwa terdiri dari 300 ethnik yang berbeda, mereka tersebar di ribuan kepulauan indonesia. Mereka mendiami wilayah dengan kondisi geografis yang bervariasi, sehingga terjadi pertemuan budaya antara yang satu dengan yang lain. Munculah proses asimilasi dan akulturasi budaya yang dapat menambah keragaman budaya Indonesia. Keragaman ini dapat memberi pengaruh yang positif yaitu dapat dijadikan objek pariwisata, membantu meningkatkan pengembangan kebudayaan nasional serta tertanamnya sikap untuk saling menghormati dan menghargai antar suku yang berbeda.
Partisipasi Indonesia dalam kegiatan parade der kulturel tahun 2014 ini, dengan menampilkan budaya Betawi, Padang Sumatera Barat dan Bali adalah menunjukan potret kebhinekaan Indonesia. Kebhinekaan seni budaya adalah perekat persatuan Indonesia yang sudah teruji kekuatannya. Hal ini perlu mendapat apresiasi positif dari seluruh masyrakat Indonesia. Mempertunjukan kemajemukan budaya Indonesia merupakan bentuk kesungguhan pemerintah Indonesia menjaga identitas budaya nasional nusantara yang mengedepankan nilai toleransi dan saling menghargai dalam menjaga keutuhan NKRI yang berbhineka tunggal ika.
(dimuat di berita metrobali.com)










Rabu, 25 Juni 2014

Ciaaattt...Perjalanan Menebar Seni di Belgia (bagian 15)


Kembali ke Bali


       Hari ini tepat pukul 13.30, tanggal 4 Februari 1997. Pesawat yang saya tumpangi  dari Brussel menuju Bali sebentar lagi akan mendarat. Saya sudah tidak sabar menunggu. Jantung berdetak keras, emosi membara, sudah tidak tahan dengan kondisi yang membosankan di pesawat terbang ini. Saya menoleh jendela pesawat melihat fenomena alam yaitu awan berlarian, samar-samar  tampak laut kebiruan, jalan-jalan raya seperti benang benang kusut, pantai  indah dengan pasir putihnya tampak jelas dari atas ketinggian pesawat.

      Tiba-tiba ''JEDEEERRRR'' suara pesawat membahana. Aduh, apaan itu ? pikir saya. Semua penumpang saling memandang. Suara aneh berbunyi eiiiiiiiiiiit.....eiiiiiiiiiiiiiit....eiiiiiiit. Tambah bingung saya. Saya lirik orang sebelah, dia tersenyum. Sayapun bertanya kepada dia, dan dia jawab itu roda pesawat yang diturunkan. Tanda siap mendarat. oooohhhh....deg degan juga saya.

    Tepat pukul 14.00, Serrrrrrrrrrrrrr. Penerbangan tujuan Denpasar Bali dari Brussel - Frankfurt yang ditempuh 14 jam tiba dengan selamat. Seluruh penumpang mayoritas  turis asing yang akan berlibur ke Bali bertepuk tangan tiada henti. Mereka bersuka cita karena landing berjalan mulus. ikut gembira ah...Horeeeee...saya selamat tiba ditempat tujuan. Saya berkemas mempersiapkan diri untuk turun dari pesawat. Asal tahu saja pembaca, saya sudah rapi loo, baju baru loo, seluruh badan bermandikan parfum, pokoknya sudah siap 'berpelukan'' dengan sang pacar pujaan hatiku. heheheh.

      Singkat cerita karena sudah tidak sabar  menunggu moment bahagia ini,  saya berusaha tenang dan berjalan  sambil mendorong koper diatas Trolley.   Saya memperhatikan setiap wajah-wajah para penunggu atau penjemput penumpang yang penuh sesak.  Perhatian saya tertuju kepada sesorang gadis rambut lurus berbaju kotak merah. Saya hampiri dan saya tahu siapa dia.  Saya tidak sanggup untuk berucap. Saya sedih bercampur gembira dan saya memeluknya dengan erat. ......................................maaf ya, saya tidak bisa melukiskan dengan rangkaian kata disini. Hanya bersyukur dia sehat dan kita bertemu kembali. Sebuah ketulusan cinta dan saling pengertian diantara kita adalah modal cinta kita. Kita berusaha mempertahankan kasih sayang abadi ini demi masa depan kita.

       Sementara itu, disamping kiri saya berdiri Bape dan Meme (Orang Tua). Kita melepas kangen saling berpelukan dan berlinang air mata. Inilah orang tua kita yang selalu sayang dan sabar menunggu anaknya pulang.  Dibawah ini saya selipkan rasa kangen itu, dengan suling Bali yang saya unggah ke youtube silahkan klik dibawah ini :




atau klik dilinks dibawah ini :
Suling bali untuk sang pacar

Menikmati Kebahagiaan

       Bagi sebagian orang uang adalah segala-galanya. Dengan uang mereka bisa meraih apa saja. Uang memang bisa memberi kesenangan namun sifatnya hanya sementara. Sesaat hal tersebut nampak menyenangkan namun kenyataannya kesenangan itu akan sirna kembali.  Bagi saya uang memang penting, tapi tidak yang terpenting. Cuman kalau uang sedikit, hidup sedikit melilit. Tidak dipungkiri bahwa uang memegang peranan dalam kelangsungan hidup seseorang. Banyak yang menderita karena tidak punya uang. Sehingga kitapun mengakui beberapa orang mendapat kemewahan hidup tanpa harus bekerja keras akan memperoleh kesenangan juga.

       Tapi itu realitas hidup yang harus dihadapi, akan tetapi ada satu hal yang tidak bisa dibeli oleh uang yakni kebahagiaan. Buktinya saya alami sendiri. Kerja diluar negeri sudah tentu memiliki uang karena hasil tabungan, walau tidak banyak. Beruntung sekali saya tidak suka berjudi, tidak berfoya-foya dan tidak bergaya hidup mewah. Uang hasil jerih payah setahun tersimpan dengan baik di rekening bank. Tetapi uang itu belum memberikan kebahagiaan begitu saja terhadap saya. Saya belum bisa menikmatinya kebahagiaan itu bersama pacar beserta keluarga terutama Bape dan Meme karena jarak yang memisahkan kita. Berapapun kita punya uang, kita tidak bisa membeli kebahagian begitu saja. 100 euro = bahagia ? enak saja. 1000 euro = bahagia ? emangnya beras. 10.000 euro = Bahagia ? emangnya mobil. 1.000.000 Euro = Bahagia ? sempruuullll. Kebahagiaan itu tidak ternilai harganya. Kebahagian adalah sebuah kondisi dimana keseimbangan materi, pikiran dan jiwa dapat saling menyatu memberi energi positif terhadap setiap langkah kehidupan kita. Kalau kita punya uang banyak, hidup serba mewah tetapi jika pikiran dan jiwa kita tidak tenang, apa itu bahagia ? tidak bukan. Nah, Disinilah kita membutuhkan sebuah keseimbangan dimana materi cukup serta  hati dan jiwa tenang terpenuhi, niscaya bahagia kita raih.

      Sekarang ini, saya telah tiba di Bali. Saya bertemu dengan pacar beserta keluarga. Saya berhasil melewati masa-masa sulit di negeri orang. Dan saya merasakannya bahwa detik ini saya merasa sangat berbahagia. Berbahagia berada ditengah-tengah orang yang paling kita sayangi. Hati dan jiwa tenang, bagaikan air segar mengalir didalam tubuh ini melepas dahaga. Kebahagian yang kita sudah raih itu sesungguhnya adalah pemberianNY. Mari kita  bersyukur kehadapan Ida Shanghyang Widi Wasa/Tuhan YME bahwa kebahagian yang kita sudah raih ini dapat memberikan kedamaian di hati kita untuk selamanya lamanya.



Menikmati kebahagian di sebuah kampung di Bali tahun 1997
Bersambung !  ke bagian 16       


       

        





Kamis, 19 Juni 2014

Ciaaattt...Perjalanan Menebar Seni di Belgia (bagian 14)

Setahun di Belgia

        Tidak terasa sama sekali bahwa saya sudah berada di Belgia selama setahun. Ini mungkin karena aktifitas saya yang selalu berbeda-beda dan tidak membosankan. Untungnya lagi pertemanan yang saya lakukan  membuahkan hasil persahabatan. Walau kadang hati saya tergores dengan ucapan-ucapan orang, entah itu menyakitkan ataupun gurauan, saya  mencoba bersikap positif tanpa menjelekan siapapun. Saya percaya energi positif yang ada dalam diri, harus mampu mengalahkan energi negatif lawan bicara atau siapapun. Ini menjadi penting karena membentuk semangat hidup kita dalam keseharian. Hidup menjadi bahagia, karena tetap bersemangat.  Horeeeeee......ciaaattt.

          Dibalik semangat itu, jujur dikatakan bahwa saya juga mengalami kebosanan karena pola hidup jauh dari keluarga dan pacar. Ingin berbagi perasaan, jarak yang memisahkan kita. Ingin bersayang-sayang dengan pacar, hanya lewat tulisan dan suara telepon. Beginilah hidup di Luar Negeri.  Hidup diluar negeri itu tidak selamanya indah. Barangkali sebagian orang menganggap  menjanjikan kesuksesan, kehidupan disana lebih baik daripada di Bali-Indonesia. Belum tentu loo. Kita hidup di negeri orang itu sungguh membutuhkan perjuangan yang super  ekstra, adaptasi budaya serta bahasa yang tidak bisa instan begitu saja.

Menjadi pribadi yang tangguh

         Dari hal tersebut diatas, kita ambil yang positif saja. Banyak sekali pelajaran berharga yang saya dapatkan. Pelajaran itu  maksud saya adalah terbentuk kepribadian yang tangguh, mampu mandiri  dan berani menghadapi masalah apapun. Pribadi tangguh ini, tiada lain merupakan karakter pribadi yang memiliki kemampuan untuk bersyukur apabila mendapatkan sesuatu berkaitan dengan kesuksesan ataupun kebahagian. Sebaliknya, jika kita mendapatkan sesuatu yang tidak kita harapkan, entah itu berupa kegagalan ataupun kesedihan, maka secara otomatis kita memiliki ketahanan menghadapi masalah tersebut dengan bersabar.

Berani hidup mandiri

        Sewaktu di Bali, saya akui bahwa saya kurang mandiri. Dapat dikatakan terlalu manja dan terlena dengan keadaan lingkungan sekitar yang pola hidupnya hanya monoton begitu saja. Keluarga dirumah juga sebagai penyebab kita menjadi manja. Ibu terlalu kasihan melihat anaknya memasak di dapur, padahal ada niat untuk menjadi tukang masak  Itulah Ibu, yang selalu sayang terhadap anaknya. Walaupun demikian, kita juga tetap harus menghormati Ibu kita. Senangnya lagi di Bali, kalau kita mendapatkan masalah hampir seluruh keluarga menawarkan bantuan. Bantuan jasa, modal, moral dan sebagainya. Kita sih dengan senang hati menerima bantuan orang lain. Kadang ada jeleknya juga sih. Berkat bantuan itu kita pun menjadi tidak mandiri, tidak berusaha sendiri dan malahan merasa tergantung  karena  akan ada yang membantu.
         
          Setahun di Negeri Belgia terasa lain. Saya sendiri, mau tidak mau harus mempunyai sikap mandiri. Saya dituntut untuk memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri. Siapa yang akan memberi kita makanan kalau kita tidak bisa memasak, siapa yang akan membantu kita kalau kita sedang sakit, siapa yang akan berbelanja kebutuhan pangan kalau bukan kita. Maka dari itu, kita harus berusaha untuk dapat sepenuhnya berdiri diatas kaki sendiri. Kemandirian merupakan perilaku positif yang tidak tergantung kepada orang lain. Orang yang mandiri bahkan akan berusaha memecahkan masalah sendiri tanpa bantuan orang lain. Untuk itulah kita harus bangkit menjadi pribadi yang mandiri. Dibawah ini dapat saya  bayangkan bahwa mandiri memiliki beberapa karakteristik yaitu :

  1. Sikap mental yang baik (Saya berusaha sikap santun kepada siapa saja, memberikan apresiasi pemberian orang lain, tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal negatif dimanapun saya berada)
  2. Memiliki keberanian (Berani menghadapi masalah apapun dengan berusaha sabar melawannya, tenang di hati dan pikiran )
  3. Memiliki tanggung jawab (sebagai seorang guru gamelan yang dikirim dari Bali, saya bertanggung jawab terhadap hasil dan kwalitas pementasan kesenian, dan tidak pernah terlambat dalam latihan)
  4. Mempunyai inisiatif (Saya juga tidak mau selalu tergantung kepada orang lain, saya juga harus bisa berkomunikasi dengan bahasa perancis, akhirnya sayapun berinisitif belajar sendiri membaca buku walaupun masih tidak mengenal tata bahasa yang benar)
  5. Percaya Diri  (dilingkungan saya bekerja adalah kantoran, saya dihadapkan kepada orang-orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman banyak, tetapi saya saya harus percaya diri bahwa kemampuan saya dalam kesenian walaupun masih umur 25 tahun saya berani dan percaya bahwa saya memiliki kelebihan dan keahlian)
  6. Berani bersaing (di Eropa ini ternyata kita membutuhkan persaingan. Menjadi seniman kantoran apakah membutuhkan berani bersaing. jawabanya tentu ya. Saya mencoba dan mencoba berkolborasi dengan seniman lokal yang kemampuannya hebat, tapi saya bisa kok bersama mereka memainkan musik bersama walau saya tidak bisa membaca notasi dengan baik dan benar) 
  7. Tekun dan Fokus (saya berusaha tekun melakukan kegiatan, tekun berkreatifitas, fokus berkesenian, ini modal dasar kita akan maju. Katanya...hehehehe)

Pertunjukan kesenian dalam tahun 1996
          
           Setiap hari saya menulis Buku diary. Setiap aktifitas saya goreskan di kertas, dan mengingatkannya, mengevalusianya. Ada yang menarik, ada yang menyesakkan adapula yang membanggakan. Kegiatan kesenian khususnya saya torehkan dalam sebuah list pertunjukan. Ternyata setelah saya hitung-hitung berdasarkan foto, tulisan tangan, diary, poster dan flyer akhirnya saya menyimpulkan bahwa pertunjukan yang telah saya lakukan selama setahun ini adalah sebanyak 22 kali pertunjukan. Di kota brussel 9 kali, kota antwerpen 2 kali, Leuven 3 kali, Liege 1 kali, Gent 1 kali, Bern Swiss 1 kali, Den haag 1 kali, amsterdan 1 kali. Setelah saya hitung jumlah penonton yang hadir sebanyak 14.560 orang. Sumber ini dari lapangan, melihat langsung, data KBRI brussel dan data tv. Kenapa jumlah penonton menjadi ribuan sombong sekali. hehehe. Pada tanggal 12 Juli 1996, saya menampilkan pertunjukan di TV Nederland Belanda yang sudah pasti tentunya penonton jutaan donk.Saya beertanya  ke pihak tv sekitar 15.000 atau jutaan.   Waduh daripada salah tulis saya coba 10.000 saja dech. Saya tidak mau lebih dari itu, sebagai info bahwa pada tahun 1996 penduduk Belanda adalah 15 jutaan, berarti bisa jutaan ya yang nonton....hmmm sudahlah.

             Boleh donk saya berbangga, boleh donk saya tersenyum, setahun memperjuangkannya bukanlah hal yang gampang. Dan pengiriman saya ke Belgia oleh STSI Denpasar sebagai guru pengajar, sedikit tidaknya tidak merugikan negaralah. Tidak merugikan tiket pesawat dan honor perbulan yang saya terima  40.000 Bef/per bulan/kotor. heheheheh...(potong sewa rumah 11.000  Bef, biaya  listrik dan gas 5000 Bef, belum makan dan minum, ongkos telepon, asuransi kesehatan juga looo ). Dibawah ini ada Data  pertunjukan yang saya lakukan silahkan di simak dan dianalisa.

Data Pertunjukan kesenian tahun 1996


ini dia pertunjukan di TV nederland di youtube :





Bersambung ke  bagian 15



           

Kamis, 12 Juni 2014

Ciaaattt...Perjalanan Menebar Seni di Belgia (bagian 13)

Pertunjukan MarimBALI di Konservatorium Brussel tgl 21 November 1996

       Hello para pembaca ? saya akan lanjutkan cerita saya lagi. Pada bulan november tahun 1996 silam, saya melakukan berbagai aktifitas seperti latihan musik, sekolah bahasa Inggris dan Perancis serta belajar memasak. Namun kali ini saya hanya akan bercerita tentang  persiapan latihan, pertunjukan/konser sederhana yang saya beri judul MarimBALI. Sebuah komposisi musik dimana saya menciptakan berdasarkan kebalian saya yang dibantu oleh teman saya Gabriel Laufer berdasarkan keeropeannya. Mau tahu selengkapnya ?  selamat membaca !

         Awal dari semua ini, adalah pertemuan saya dengan Gabriel Laufer, pemain perkusi Belgia yang secara kebetulan pada saat itu, sedang menimba ilmu di sekolah musik konservatorium Brussel. Saya bertemu dengan Gabriel, karena dia tertarik dengan gamelan Bali. Pertemuan dengannya sebagai langkah awal saya memahami ''prilaku'' musisi di Eropa. Gabi, panggilan akrabnya adalah seorang sahabat dan juga seorang guru bagi saya. Dialah yang membawa saya untuk mengenalkan dan berinteraksi dengan lingkungan musik di Belgia ini.  Keakraban dia adalah kita sering bercanda kesana kemari dan selalu membuat saya senang dan penuh tawa. hahahaha... Sayapun anggap dia sebagai keluarga terdekat saya di Belgia. Seorang teman sekaligus seorang kakak.

         Suatu hari Gabi mengajak saya ke konservatorium melihat mahasiswi cantik...hehehe salah, maksud saya alat -alat musik perkusi. Berbekal semangat dan kamera foto, saya memandang gedung Konservatorium dari atas, bawah, samping, depan dan berbagai sudut. Gedungnya biasa saja, tidak mewah. Di dinding Info sekretariat terpampang berbagai poster konser musik dan jadwal kegiatan kelas dalam bahasa Perancis, Inggris dan Belanda. Mahasiswa dan mahasiswi sibuk merangkul alat musik ada yang megendong gitar, cymbal drum, saxophopne, seruling, terompet dll.  
         
       Dalam sebuah sudut ruangan tiba tiba Gabi bertemu dengan seorang mahasiswi cantik. Gabi langsung cipiki, cipika dan cipiki (cium pipi kiri, cium pipi kanan cium pipi kiri).  Dalam hati kecil saya waktu itu, mimih pang telu maan niman nak luh jegeg, iri rage nok/tiga kali dapat cium pipi, cemburu saye....heheheh). Dengan menoleh ke arah saya, Gabi berkedip genit dengan kandungan arti yang bermakna Ramahlah kepada setiap perempuan dengan mencium pipinya sebanyak 3 kali berturut turut sebagai tanda keakraban.   Asyiik juga di eropa ya ! hehehe...dasar genit ah. Bolehkah saya mempraktekan makna ciuman Gabriel tersebut diatas : Jika bertemu gadis cantik saya akan langsung saja ah. Langsung apasih maksudnya ? Mencium ? Hati-hati loo...emangnya semudah itu ??  Oops hati-hati ! Ingat ada pacar di Bali. hmmm Ok dech.

    Dengan pelan Gabi mengambil kunci yang telah diberikan pegawai sekretariat dan membuka pintu pelan-pelan.  Saya dipersilahkan mencoba coba alat musik perkusi. Terlihat ada drum, marimba, piano dan banyak lagi. Satu persatu saya mainkan alat musik tersebut di dalam sebuah ruangan kelas. Mahasiswa dan mahasiswi sibuk kesana kemari di depan kelas sambil merangkul alat-alat musik. Saya merasa senang sekali berada dalam lingkungan seperti ini, lingkungan yang penuh dengan bunyi bunyian instrument. Kapan ya saya bisa sekolah disini ? bisakah ? Mampukah ? Itulah hasrat pikiran yang terlintas di bathin saya. Hmmm...sudahlah.



Vibraphone

belajar drum
     Beberapa alat musik saya coba satu persatu, tapi saya sangat tertarik kepada alat musik dari amerika latin yang sering disebut Marimba. Marimba mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : bilahnya sangat halus terbuat dari kayu pilihan, susunan bilahnya sama seperti susunan tuts keyboard/piano, panjangnya sekitar 3 oktaf atau kalau marimba besar 4 oktaf, dimainkan dengan cara dipukul dengan 2 hingga 4 Mallets, karakter suara  lembut dan jernih  dengan gema yang panjang terdengar. Melantunkan melodi diatas bilah kayu ini, saya mengandaikannya dengan beberapa alat musik bambu bali yang menggunakan 2 alat pukul seperti Rindik, Gandrung dan  Jegogan. Saya melantunkan sebuah gending dengan nuansa Bali menggunakan laras pelog dan slendro. Laras pelog dan slendro saya cari cari saja ditengah tengah bilahan kayu tsb, sambil memainkan kotekan kotekan.

         Berhari hari, berminggu-minggu bahkan berbulan bulan saya mencoba berlatih, memainkan marimba sesuka hati tanpa terbelenggu dengan partitur atau notasi a la barat.   Saya memainkan musik dengan perasaan hati dan daya ingat. Jeleknya kalau daya ingat menurun akibatnya permainan musikpun akan jelek. Kalau bisa kedua duanya memainkan musik dengan perasaan plus notasi. Beradu argumen dengan Gabi, mengkritisi permainan dia, memahami cara dan pandangan dia memainkan musik membutuhkan pemahaman yang serius sekali. Kalau di bali saya kebanyakan bermain gamelan suka ewer/ banyak bercanda, tetapi di Eropa jangan harap banyak bercanda. Namun demikian sekali-kali saya kembali ke adat dan kebiasaan seperti di Bali yang pada akhirnya berujung canda dan tertawa terbahak-bahak.

       Sebaliknya Gabi tidak setuju dengan ide saya, Gabi cemberut bersikap tenang, saya hadapi dengan senyuman kembali yang ujung-ujungnya canda dan tertawa. Proses bermain musik seperti ini, saya sukai. Proses itu hanya melalui berbagai perbedaan pendapat saja, akhirnya kita sepakat  memutuskan sebuah musik baru sebut saja MarimBALI. MarimBALI (Marimba Care Bali) adalah sebuah komposisi musik yang bernuansa perjalanan seorang anak muda Bali di rantau dengan rasa musik rasa nikmat, sedih, galau, rindu dan semangat menggunakan tehnnik rindik di dalam instrument Marimba. Dalam komposisi musik ini, Gabi memberikan tambahan-tambahan tekhnik marimba, dimana dia memainkan beberapa nada monoton berulang-ulang, selanjutnya saya sambut dengan nada berpola berulang-ulang  sehingga menghasilkan sebuah alunan kotekan terdengar seperti gamelan Bali.  Sementara itu, saya mencoba juga vibraphone. Saya mainkan secara sederhana saja. Vibraphone adalah alat musik perkusi seperti Marimba hanya dia terbuat dari metal. Dibawah instrumentnya terdapat pipa-pipa untuk resonator suara.

Perkusi Konser di Konservatorium Brussel, 1996


            Pada tanggal 21 November 1996, saya bersama Gabriel mendapat kesempatan menampilkan karya-karya komposisi musik kita dihadapan publik Belgia khususnya kalangan mahasiswa dan dosen di konservatorium Brussel. Saat itulah saya membuat duet yang saya beri nama DUO MADE (Made Gabriel Laurfer dan Made Agus Wardana). Duet ini akan berusaha menebarkan seni budaya Bali ke sekolah-sekolah, Universitas di belgia melalui workshop gamelan bali.

DUO MADE (gabriel Laufer dan Made Agus Wardana) 1996

MarimBALI konser di Konservatorium Brussel

Senyuman musisi lugu dan polos
    Untuk memperlihakan hasil kerja kita selama beberapa bulan, silahkan di klik dilinks youtube saya ini :


atau klik disini :  http://youtu.be/c42UahFw0bU

     
atau klik disini : http://youtu.be/S591TTk54y4

Bersambung !
ke : Bagian 14

Selengkapnya baca dari awal  :
Bagian 1Bagian 2Bagian 3Bagian 4Bagian 5bagian 6bagian 7bagian 8bagian 9,
bagian 10bagian 11bagian 12,


Senin, 03 Februari 2014

Ciaaattt...Perjalanan menebar seni di Belgia (bagian 12)


Kota Brussel memiliki sejarah peradaban panjang


        Setelah beberapa minggu bahkan  berbulan-bulan disibukkan dengan berbagai bunyi gamelan, saatnya saya harus melakukan sesuatu yang lain. Tujuannya untuk menyegarkan pandangan dan hati ini agar tidak bosan dengan kegiatan rutin yang monoton.  Saya sengaja mengalihkan perasaan dengan melakukan observasi kecil mengeksplore situasi sebuah kota dimana saya tinggal.  Memahami dan melihat secara langsung arsitektur gedung, mengenal sejarah kota yang dikenal memiliki sejarah peradaban yang sangat panjang.  Panjang karena mengalami perubahan demi perubahan dari kehidupan sederhana yang penuh mitos hingga peradaban modern. 

        Agar memudahkan mengenal kota Brussel lebih detail, saya mempersiapkan diri dengan membaca sebuah buku tentang kota Brussel. Buku ini berjudul ''Brussels and its beauties''. Buku yang memuat informasi keindahan arsitektur bangunan, obyek wisata serta peninggalan sejarah kota yang dilengkapi dengan foto-foto yang sangat mengesankan.  Buku itu saya beli murah di sebuah brocante, sebuah pasar barang-barang bekas atau  bahasa Perancisnya, deuxième main (baca : desiem ma) sedangkan bahasa Belandanya  tweedehands (baca :tuedehan).

Brussel artinya '' Pemukiman di rawa ''   

         Para pembaca yang keren, mari kita menerawang jauh kebelakang. Duduk yang manis ya.dengerkan ceritaku ini. Menurut sebuah legenda, pada abad ke-6 tepatnya pada tahun 580 seorang bishop yang bernama Saint Gery berhasil melewati hutan angker yang dianggap saat itu paling berbahaya. Hutan tersebut bernama Forest of Soignes dengan luas 12.000 hektar. Dalam perjalanannya, bishop Saint Gery tiba  dengan selamat di sebuah pulau/daratan kecil yang dikelilingi  oleh sungai kecil yang sering disebut Senne/Zenne. Daratan kecil ini penuh dengan rawa-rawa yang ditumbuhi bunga khas Brussel yaitu bunga iris kuning.  Dari kejauhan asri menguning dan indah sepanjang daratan. Air sungai Senne sesekali beriak-riak membasahi bunga iris yang bergelayut harum mengembang dengan aroma asli nuansa pedesaan. (Bunga inilah menjadi simbol atau bendera kota Brussel).



        Bishop Saint Gery memilih daratan ini menjadi sebuah tempat pemukiman. Seiring dengan berkembangnya kehidupan sosial masyarakat setempat, akhirnya dibangun sebuah Chapel. Chapel ini berfungsi sebagai tempat bertemunya masyarakat disekitar daratan itu yang lama kelamaan menjadi sebuah tempat peribadatan yang sangat religius. Berabad-abad kemudian daratan itu berkembang pesat menjadi sebuah desa yang pada akhirnya diberi nama desa broeksele atau Bruocsella yang artinya ''pemukiman di rawa'' (settlement in the marsh). 

        Setelah membaca legenda diatas, saya cepat-cepat berangkat menuju  ke Place Saint Gery.  Jaraknya hanya 100 meter dari Beurse/Beurs (Gedung Bursa Efek) di jalan bouleveard anspach. Dari Beurse saya menyeberangi jalan Boulevard Anspach  terus belok kekanan menuju Rue Jules Van Praet.  Hmmm....Saya ambil map/peta kecil dikantong baju,  membaca dengan teliti sambil meraba raba dengan telunjuk letak Place Saint Gery tsb. Suasana tempat ini sangat ramai dikunjungi wisatawan asing maupun lokal berbaur memenuhi restoran asiatik. Di etalase restoran berjejer aneka menu makanan dengan harga bersahabat  dari 300 Bef hingga  600 Bef (1 Euro = 40 Bef ).


Uang kertas Franc belge, 100 Bef.

        Saya mikir dan mikir lagi, Wah ini sih bukan daratan yang saya cari. Bingung nih. Dimana sungainya  ?. Ooh…Tunggu ! . Tunggu !  Saya melirik dengan gaya menari Bali seledet kiri seledet kanan  memahami sudut-sudut restoran, bangunan tua dan petunjuk jalan tentang Place Saint-Géry . Oh Yesss...! Ternyata memang berubah dari masa ke masa. Saya baca dan baca lagi. memang benar disinilah pusat/centrum daripada ''Daratan Broeksele''. Di daratan ini pula dibangun gereja Saint-Géry  sebagai pengganti Chapel tua yang dibangun sebelumnya. Pada masa kekuasaan Perancis di Brussel tahun 1798-1801 gereja Saint-Géry dirobohkan menjadi ruang terbuka publik yang dihiasi dengan air mancur berbentuk piramida.  Gereja Saint Gery dibangun dengan arsitektur gothic abad pertengahan dimana tersimpan relik Sainte Gudule. Relik Sainte Gudule selanjutnya dipindahkan ke Gereja Chatedral Brussel hingga sekarang.  (Relik adalah sisa jasmani dari seseorang yang dipercaya telah sampai pada tingkatan tertinggi karena kesuciannya) 

        Hhmmm.Tanpa pikir panjang, saya memasuki gedung Halles Saint-Géry  yang didirikan pada tahun 1881 karya arsitek lokal  Adolphe Vanderheggen yang beraliran Neo-Renaisance Flemish.  Gedung berbatu bata merah itu didominasi interior berbahan metal melengkung digunakan sebagai pusat perdagangan. Diluar gedung ini juga berjajar pasar tradisional a la brussel. Pasar ini sangat populer dan menjadi perhatian kaum urbanis untuk mengadu nasib di tempat ini. Tempat ini menjadi unik dan digemari, identik dengan pasar rakyat. Menjadi pasar rakyat serta tempat berkumpulnya orang-orang miskin lama kelamaan membebani wilayah ini dengan berbagai masalah.  Masalah utama yaitu faktor kebersihan dan pencemaran air sungai.  Sungai Senne tercemar akibat ulah masyarakat yang tidak bertanggung jawab. Mereka membuang sampah, kotoran, limbah rumah tangga ke sungai tersebut seenaknya saja.. Tak nyaman lagi bahwa daerah tercemar menjadi sumber penyakit kolera dan kumuh. Maka dari itu muncul keinginan untuk menghilangkan/menhancurkan sungai yang sangat mengganggu kesehatan masyarakat setempat.

        Pada Tahun 1865, Walikota Brussel Bapak Jules Anspach mengajukan proposal untuk menutup sungai Senne agar terbebas dari pencemaran. Gagasan itu ditolak oleh pihak-pihak lain  yang berkepentingan terhadap sungai tersebut. Proposal penutupan itu mencamtumkan proses ekspropriasi yaitu sebuah pengambilan aset dengan memberikan konpensasi terhadap pemilik bangunan  yang terkena dampak proyek penutupan tsb. Walaupun demikian, tetap saja mendapatkan pertentangan. Bagi pihak penentang penutupan sungai merugikan kepentingannya. Ditambah lagi gosip beredar bahwa proyek itu menghabiskan anggaran sangat besar sehingga ditangguhkan selama dua tahun hingga tahun 1867.

 


Letak ''Daratan Broeksele''



Map Sungai Senne/Zenne mengelilingi " Daratan Broeksele" tampak Place Sint Gery ditengah-tengah aliran sungai Senne. 




Gedung Halles Saint-Géry sekarang 2013

Piramida putih di dalam ruangan Gedung Halles Saint-Géry 

Place  Saint-Géry dari google map.
       Satu jam saya berada di Daratan Broeksele bolak-balik persis kayak setrikaan. Para pelayan restoran ngegol (pinggul bergoyang) mengumbar senyum manis dengan bahasa sexy menyapa Bonjour ! Mereka menggoda ramah para klien agar datang mampir.  Dibalik itu juga, ada  pelayan kelihatan judes cuek tanpa ampun tiada keramahan sedikitpun. . Aruuuhhhh….pelayan kone bakat  rambang, ngalih gae ? (terjemahan :  ngapain urusin pelayan, nyari nyari kerjaan aza  ?.

Restoran Bamboo Fleur

          Sayapun mulai lapar ingin menikmati aneka masakan. Jujur bukan tergoda pelayannya loo...Lapar karena aroma masakannya yang terasa sedap menusuk hidung.   Saya menghampiri restoran Vietnam yang konon sop bebeknya lezat yaitu Soup Canard a la Bamboo Fleur di Rue Jules Van Praet nomor 13 Brussel. Coba ah !  Saya masuk ke restoran dan disapa ramah helo !Bonjour ! oleh pelayan vietnam dengan suara melengking.  Kaget saya dengar suaranya. Saya balas dengan Bonjour melengking juga ah, biar nadanya sama. Supaya ada harmonisasi sedikit. heheheh. 

            Di dalam  restoran saya memesan teh jasmin dan sop bebek. Secara kebetulan tidak banyak tamu yang dilayani sehingga dalam hitungan 10 menit  pesanan saya disajikan cepat. Teh jasmin sedikit gula menghangatkan badan saya yang kedinginan.  Mumpung lagi mandiri dan hidup sendiri di Eropa, kita coba pola hidup sehat sejak usia muda. Jika tubuh kita dibiasakan dengan pola makan yang sehat pasti mengurangi penyakit berat.  Kurangilah mengkonsumsi makanan atau minuman yang banyak mengandung lemak dan rajin-rajinlah bergerak, mau gerakan apa saja yang penting mengeluarkan keringat.  Itulah kiat hidup yang sehat. Ini pesan dadong kenyir nenek saya sewaktu masih di Sekolah Dasar no 2 Sesetan Bali..  Menyantap semangkok sop bebek plus nasi putih membuat saya kenyang kenyang enak. Pokoknya sedap. Waduh ! Perutku membengkak nih. kekenyangan. Setelah membayar di kasir, saya bangun dan berjalan keluar. Kok jalanku berubah seperti bebek ya...apakah karena makan bebek ?...kwek..kwek kwek...

        Begitulah saya, yang selalu norak dan tidak lucu. Mari kita lanjutkan perjalanan.  Perjalanan berikutnya adalah mencari benteng tua yang panjangnya 4 km mengelilingi kota Brussel. Dimanakah letak benteng itu sekarang ? apakah masih ada bekas-bekasnya ? Mari bergerak mencari jejak-jejak benteng tua yang dalam bahasa perancisnya disebut dengan Premiere enceintes (Tembok Benteng pertama). Saya persiapkan waktu sekitar 2 jam dech. Sekalian membakar lemak sop bebek yang ada didalam tubuh. Ayo siapa ikuuut. !!!! kwek..kwek...kwek.

Tembok benteng 4 km mengelilingi Brussel.

      Saya berjalan melangkah dengan penuh kepastian. Cieeee...Arah pandang ke kiri dan kekanan lebih terpusat kepada peninggalan sejarah.  Menarik sekali arsitektur bangunan dan peninggalan sejarah kota ini. Ada arsitektur jaman pertengahan/medieval, arsitektur gothic, arsitektur baroque, art nouveau  hingga arsitektur modern. Kalau ditelusuri satu demi satu, arsitektur gedung di Brussel sangat menarik sekali. 

      Saya lanjutkan ya. Plak...Plik...Plak...Plik...Plak ..suara sepatu saya melangkah di jalan bebatuan. Menerjang kota dengan gaya backpacker bermodalkan budget minim menjelajah tempat-tempat unik sambil berjalan kaki. Penjelajah budaya beraksi. Mencari yang serba murah dan sangat menikmati detail perjalanan. Tas ransel menghias punggung dengan sebotol air putih menemani perjalanan ini yang diperkirakan menghabiskan waktu selama 3 jam. Sebagai seorang backpacker, saya  sungguh tidak  tertarik dengan barang mewah dan ngebrande, tidak pernah mau tergoda dengan arloji swiss yang kesohor itu karena sebenarnya memang uangnya tidak cukup. Lebih bermanfaat menikmati perjalanan murah sambil berolahraga, bukankah begicu ???. Sebuah pembelaan diri karena nggak punya duit .. Cuit.cuitcuit.


Diorama miniatur sejarah tembok benteng pertama kota brussel
    
              Kita lanjutkan cerita ya....Kita kembali ke masa silam. Dalam masa pemerintahan Henri I Duke of Brabant (1190 -1235) dibangunlah the first city walls sebuah tembok benteng dengan ketinggian hampir 40 meter dari permukaan sungai Senne, mengelilingi kota sepanjang 4 km dengan luas 80 hektar. Benteng ini menggunakan konsep medieval (bangunan di abad pertengahan) terbuat dari susunan batu dimensi teratur dilapisi batu kapur dengan kontruksi sedemikian rupa hingga membentuk dinding pertahanan yang sangat tebal. Warna tembok cenderung menggunakan monocrhome atau satu warna, tidak kaya dengan elemen dekoratif dan atap konstruksi kayu berbentuk lancip. Kalau dilihat dari bentuk fisiknya mengekspresikan sebuah kekuatan pertahanan, ekonomi dan kekuasaan. Pertahanan maksudnya ada upaya mempertahankan kedaulatan wilayah dari serangan musuh, Ekonomi maksudnya mengatur keluar masuknya barang kebutuhan pangan, sedangkan Kekuasaan maksudnya lebih kepada kemampuan penguasa saat itu memberi pengaruh kebesaran.   Jadi boleh dikatakan benteng ini adalah sebuah karya cipta tanda kebesaran yang memiliki 7 pintu gerbang dan 5 Menara. 

             Adapun  pintu gerbang tersebut antara lain :  La Steenpoort, La Porte d'Overmalen, La Porte Sainte Chaterine, La Porte de Laken/Porte Noire, La Porte de Warmoesbroeck/Porte de Malines dan La Porte de Sainte Gudule/Porte Treurenberg dan  La Porte de Coudenberg. Sedangkan lima menara diantaranya : Tour Annessens, Tour Des Villers, Tour Noire, Tour Fosse aux Loups dan Tour du Pleban. Beberapa bagian dinding tembok memiliki lubang pengintai yang menghadap keluar untuk mengontrol masuknya penduduk asing ke dalam kota.


Tour Annessens

          Singkat kata singkat cerita, sedikit bicara banyak kerja, saya tiba di Boulevard de l'Empereur no 40, saya bengong melihat bekas menara Tour Annessens yang berdekatan dengan pintu gerbang  La Steenpoort. Kalau kita berdiri dibawah menara, tingginya kira-kira 15 meter. Benteng ini terdiri dari 2 lantai masing-masing lantai memiliki 5 archères (lubang sempit tempat memanah) dan beberapa jendela pengintai. Kalau ada musuh yang ingin menyerang ''tuussss'' (suara panah ) melesat dari lubang sempit archères menancap di dada musuh. Berani ? seremkan ? . Itu cuman ilustrasi saya saja. Coba lihat gambar dibawah ini, dua garis sejajar lurus dengan menara Tour Annessens. Garis itu bekas tembok yang sudah dirobohkan menjadi jalanan besar Boulevard de l'Empereur.



Garis sejajar lurus bekas Tembok di Tour Annessens

Tour Annessens dari dekat

Tampak dalam benteng Tour Annessens
        
Tour Des Villers

        Dari Boulevard de l'Empereur nomor 40, saya mengikuti jejak-jejak tembok menuju Rue des Alexiens hingga di Place Dinant. Pelan-pelan saya menghampiri Rue de Dinant, belok kiri jalan terus ke Rue de Villers. Saya kaget lagi plus bengong  care siap sambehin injin, kilang-kileng (seperti ayam diberikan beras merah, mata ayam liat kanan liat kiri). Sungguh  luar biasa !. Benteng masih kokoh berdiri dan dirawat, dipelihara, disayang  agar keasliannya terjaga.  Inilah dia yang sering disebut Tour des Villers. Selama 10 menit saya berada ditempat ini, mengamati bebatuan dan mengambil foto jeprat-jepret sana sini.


Tembok Benteng di Rue Des Villers




Tour des Villers
Tour des villers dari atas

Tour des Villers
          Para Pembaca yang setia, pondasi bangunan terlihat sangat kuat, beberapa tumpukan batu  sudah direnovasi, diberikan cat sewarna dengan batu aslinya. Sebagai tempat bersejarah, kawasan ini mendapat perlindungan khusus dari pemerintah.  Untuk menghijaukan tempat ini, sudut-sudut tanah kosong ditanami taman hias kota yang mungil dan sederhana.  Kalau anda berkunjung ke kota Brussel, sempatkanlah  menengok peninggalan sejarah  ini, sebuah tempat bersejarah yang layak dikunjungi.

Tour Noire

            Tidak terasa waktu cepat berlalu, lima belas menit di Tour de Villers, saya berjalan menuju Rue de Chene melangkah 100 meter tanpa terasa lelah sedikitpun, saya tiba didepan si patung Manneken Pis yang terkenal karena pipisnya. Menoleh sebentar ke Manneken Pis. Manneken Pis selalu saja rame dikunjungi. Lima menit kemusian, saya berjalan lagi  ke : Rue des Grand Carmes, Rue des Marche au Carbon nomor 91 di depan Gereja Notre Dame de Bon Secours dan tiba di Boulveard Anspachlaan nomor 168. Disinilah sebelumnya dibangun pintu gerbang Porte d'Overmolen/Porte Anderlecht namun bekas-bekas pintu tidak terlihat lagi.

            Sesampainya di perempatan Boulveard Anspach dengan Rue des Riches Claires, langsung belok ke kiri. Badan saya mulai merasakan gerah panas. Tubuh mulai berkeringat membasahi baju, saya berhenti sejenak di  didepan gereja tua Notre-Dame aux Riches Claires. Gereja ini  yang didirikan pada tahun 1665 dengan arsitektur neo-renaissance flamish.  Memang sih gereja ini tidak ada hubungannya dengan tembok benteng, tapi letaknya dapat dikatakan berdekatan dengan bekas benteng tersebut. 

         Saya mengelilingi gereja itu dan menghentikan langkah di persimpangan Rue Sainte Christope dengan  Rue Artevartelde. Terus berjalan 300 meter dan berakhir di  Place Sainte Chaterine yang merupakan letak daripada Porte Sainte Chaterine. Disinipun berdiri megah gereja Sainte Chaterine yang berdiri tahun 1854. Melewati gereja saya berjalan setapak demi setampak dari kejauhan terlihat bentuk rumah beratap lancip, sebuah bangunan tua menempel disebelah hotel. Para pembaca ini dia Tour Noire.


Tour Noire 



Tour Noire dari dekat.

Tour Noire 
            Satu jam saya berjalan mengelilingi sebagian jejak bekas tembok benteng, saya beristirahat sejenak. Melepas dahaga dengan air putih sambil duduk manis sendiri tidak ada yang menemani. Kasihan dech loo !. Sebelum dilanjutkan membaca, coba tengok dulu musik saya ini : Sebuah musik perjalanan yang saya mainkan bersama Balawan musisi Bali di tahun 2008 di sebuah Cafe di Bali. Kira kira begitulah perasaan saya saat mengunjungi tembok benteng. Mudah-mudahan ada bayangan.


atau klik disini juga bisa : http://youtu.be/oK8bL73nmLU

              Para pembaca, mari kita lanjutkan kembali perjalanan ini. Sekarang saya sudah berada di perempatan antara Rue de laken, Rue Vierge Noire, Place Sainte Chaterine dan Bisschopstraat. Perempatan ini merupakan pintu gerbang Porte de Laken. Disini sama sekali tidak ada bekasnya, alias hilang ditelan waktu. Saya berjalan lurus 100 meter ketemu lagi Boulevard Anspach, berbelok kekiri mengarah ke  Place de Brouckere terus kekanan Rue du Fousse aux Loups mencari Tour Fosse aux Loups. Tidak tahu dimana Tour itu berada, yang jelas hanya ada  bangunan besar yang menghalangi pandangan. Saya ikutin terus terus terus  Rue du Fousse aux Loups dan berhenti di Rue Montagne aux Herbes, disini diperkirakan La Porte de Warmoesbroeck/Porte de Malines. Lanjut lagi menanjak sampai di  Rue d'Assaut, langkah demi langkah  berakhir  di  depan Gereja Chatedral Brussel.
\
Chatedral Brussel

Chatedral Brussel

     Cuaca cerah dihembus angin sejuk agak dingin membuat semangat saya tidak patah, saya berjalan dibelakang gereja mencari Tour du Pleban dan La Porte de Sainte Gudule/Porte Treurenberg, semuanya sudah tidak eksis lagi. Sudah diganti dengan bangunan beton bertingkat. Dari belakang gereja Chatedral saya menuju ke Rue Royal yang hanya beberapa meter dari gereja. Saya berbelok kekanan menuju Istana Raja Belgia. Saya berjalan memutar mengelilingi istana raja tersebut yang mana sebelumnya dikenal dengan nama Paleis de Coudenberg. Akhirnya dengan upaya yang tidak sia sia saya berhasil menemukan bekas tembok benteng terakhir di Rue de Brederode yang merupakan pintu belakang ke istana raja. horeeeeeee......sambil loncat tiga kali....selesai.



Tembok benteng ditumbuhi pohon-pohon hijau di belakang istana raja.


       Para pembaca yang sayang padaku, itulah sekelumit perjalanan 3 jam mencari jejak benteng kota Brussel.  Ada hal-hal yang menarik untuk saya share ke pembaca yaitu : Pertama, berjalan kaki menelusuri tembok benteng selama 3 jam menambah pengetahuan saya tentang informasi jaman dulu yang hidup sebelum kita. Kedua, terinspirasi tentang peninggalan sejarah yang berumur lebih dari 800 tahun dirawat diberikan perlindungan khusus oleh pemerintah. Pemerintah sadar betapa pentingnya memberikan pengetahuan  atau pembelajaran sejarah masa lampau kepada generasi berikutnya. Ketiga,  bahwa mempelajari sejarah bukan semata-mata kita mengerti tanggal kejadian, tempat, tokoh dan sebuah peristiwa Namun sebenarnya, apa yang saya dapatkan dari perjalanan budaya ini adalah lebih kepada sebuah hikmah kejadian masa itu. Hikmahnya bagaimana kita memahami atas sebuah peristiwa apa yang terjadi, kenapa terjadi, dan akibat yang ditimbulkan. Justru disini kita ambil manfaat baik atas perisitiwa tsb, dengan menggugah inspirasi dan kreatifitas kita. Sudah dipastikan juga kejadian buruk banyak terjadi, tapi juga kejadian baik banyak pula terjadi. Dapat saya simpulkan bahwa, hal-hal buruk yang terjadi pada masa lalu, jangan kita ulangi dimasa mendatang. Bagimana anda setuju ??? Ciaaattt...

Bersambung !

Tolong dibaca dari awal ya : 
Ciaaattt...Perjalanan menebar seni di Belgia (Bagian I)
Ciaaattt...Perjalanan menebar seni di Belgia (bagian XIII)