Selasa, 25 Juli 2017

Mari Mampir ke Museum Van Gogh, Amsterdam !




            Hmmm…! enak, segar dan terasa lega melepas dahaga. Saya meneguk sebotol smoothie kiwi bercampur yoghourt nature dengan tekstur bubur. Seharga 4 euro, cukup untuk mengisi energi selama 2 jam. Smoothie adalah minuman sari buah atau sayur yang berserat tinggi. Berbeda dengan jus biasa, yang kandungan seratnya lebih rendah. Smoothie lebih nendang dan membuat perut kenyang  melayang.  Namun demikian keduanya memiliki kesamaan yaitu minuman berserat sehat untuk tubuh kita. 

            Kecintaan saya terhadap smoothie khususnya rasa kiwi, mengingatkan akan  pelukan mesra sang istri tercinta. Apa coba hubungan antara pelukan istri dan rasa kiwi ? Sekedar ilustrasi saja bahwa  sekali berpelukan, rasa asem kiwi akan terasa manis hingga hati kesemsem mengembang bagai balon. Pengen meledak ledak.  Maka dari itu pembaca, sering-seringlah minum smoothie  rasa kiwi ada dua keuntungannya, pertama sehat, kedua  cinta anda akan kesemsem meledak-ledak. Ember !


            Seiring dengan berjalannya waktu, saya melangkah keluar dari stasiun Amsterdam Central.  Tiba-tiba saja, Braaak ! Nguing ! Kuping saya menabrak pintu keluar karena terdorong desakan para penumpang lainnya. Saya kaget rada kesel dan menoleh seseorang. Ternyata yang nabrak menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya. Dari sorot matanya yang tajam, gerak tingkah anggun, tersirat keramahan sepertinya dia seorang yang berbaik hati. Cantik inside terpancar cantik outside. Cieee…! Tanpa basa basi dia terlihat tergesa-gesa, menebar senyum dan lenyap dari kerumunan orang. Mimih !

            Aduh ! Kuping saya terasa sakit dan masih berdengung. Saya pegang dan pijat sesaat secara pelan-pelan. Tak lama kemudian, saya teringat dengan cerita tragis pelukis besar Belanda yaitu Vincent Van Gogh. Kupingnya dipotong sendiri karena sakit hati merasa hidupnya penuh derita. Derita yang berkepanjangan, muram karena karya lukisannya tidak mendapat apresiasi yang layak, tidak berhasil dalam memperoleh pasangan hidup dan lain-lain. Pokoknya depresi ingin bunuh diri. Kasihan !

            Siapa sangka pula bahwa setelah kematian van Gogh, terbentang cerah sebuah kemasyuran.  Lukisannya menjadi termasyur sepanjang masa.  Termasyur karena memiliki identitas, goresan bentuk distorsi, warna dinamis,  berkarya penuh emosi, penggunaan warna tak lazim, melukis obyek yang selalu tidak menyenangkan dan berani beda. Nah, untuk mengetahui lukisan Vincent Van Gogh lebih lanjut, saya ingin mengajak para pembaca mengunjungi museum Van Gogh di kota Amsterdam.  Mau Ikut ?


Face to face dengan Van Gogh.

            Jangan berharap akan selalu menyenangkan, disaat mengunjungi museum van gogh tanpa persiapan sebelumnya. Antrian panjang yang mengular di depan loket karcis hingga ratusan meter terlalu lama.  Terkadang melelahkan dan waktu habis terbuang. Untuk itulah, air mineral wajib dibawa, kesabaran harus dikantongi, atau gunakan waktu  membaca informasi museum dan membeli tiket secara online.
                       
            Di dalam ruangan museum, wajah lesu Vincent Van Gogh terpampang dalam portrait dirinya dengan goresan garis terputus-putus.  Senyumnya mahal banget, menunjukan ekspresi sesungguhnya muram dan keputusasaan. Vincent melukis portret dirinya lebih dari 30 lukisan, tetapi dipajang dimuseum ini hanya beberapa saja. Potret diri bukanlah narsisme seperti selfie jaman sekarang, melainkan sebagai introspeksi atas hidupnya serta untuk melatih keterampilan tekhnik melukis.

            Kemudian alat melukis,  cerita kehidupan pribadi, foto keluarga, tempat-tempat yang pernah dia kunjungi bahkan surat-surat yang ditulis ketika curhat dengan adiknya Theo tersebar diberbagai tempat dengan deskripsi lengkap dan informatif.  Pihak museum memang sangat lihai menyuguhkan informasi pelukis van gogh, semua serba profesional, jelas, terpercaya hingga larangan-larangan tertentu.

            Salah satu larangan itu adalah tidak boleh memotret didalam museum, kecuali dilakukan di ‘’foto corner’’ yang disediakan dengan latarbelakang Lukisan Van Gogh. Sekali-kali saya melihat pengunjung bandel memotret lukisan tanpa ada yang menegur. Ketika giliran saya bandel, seorang petugas dengan ramah menegur saya. Sayapun malu berwajah sendu, menyelinap diantara kerumunan pengunjung.  Kasihan dech gue !

            Selangkah kemudian saya berada dalam ruangan bernuansa gelap. Suasana sunyi walaupun banyak orang. Terlihat salah satu lukisan yang saya cari adalah De aardappeleters (Potato Eaters, 1885). Lukisan yang menyuguhkan sisi pahit figur keluarga petani kentang. Terlukis dengn dominasi hitam, raut muka para petani dengan lengan berotot alami, tampak lusuh, hanya diterangi oleh lampu gantung samar-samar. Bagi Vincent sendiri, sesungguhnya para petani sebagai kaum marjinal itu adalah sesosok para pekerja keras. Terinspirasi dari kaum marginal lukisan De Aardappeleters merupakan lukisan awalnya yang tidak  memperoleh apresiasi tetapi kemudian menjadi beken diseluruh dunia.


Impresionisme dan Ekpresionisme

            Apa sih Impresionisme dan Ekspresionisme dalam lukisan Van Gogh ? Jika Van Gogh tidak mengikuti kakaknya ke Perancis, barangkali lukisan Van Gogh tidak setenar sekarang. Dari Perancis, dia terpengaruh oleh aliran Impresionisme yang telah berkembang sejak tahun 1860 oleh Claude Monet yang mengawali lukisan berjudul  Impression Sunrise. Penggunaan warna warna cerah, kuatnya pencahayaan, obyek lukisan terlihat selintas, merupakan ciri khas aliran ini.  Dari sinilah Van Gogh merubah sedikit gaya lukisannya menjadi lebih cerah, sangat berbeda dengan lukisan sebelumnya yang terlukis suram dan gelap.


            Terus bagaimana dengan ekspresionisme dalam  lukisan Van Gogh ?  Ketidakbebasan berkarya dalam era aliran impresionisme membuat Van Gogh mengubah aliran menuju  ekspresionisme.  Perasaan emosi berlebihan, bathin yang terkoyak, kesedihan yang teramat digoreskan pada kanvas  yang sangat fenomenal. Lihat saja lukisan yang terkenal The Starry Nigh (188), Sunflowers (1888) semua muncul dalam ekspresi bathinnya. Apalagi ketika dia berada dalam tekanan mental dan dirawat di RS. Saint Paul-de-Mausole - Saint-Rémy-de-Provence, Perancis membuat dia justru tetap melukis mengekspresikan dirinya tentang apa yang terjadi disekitarnya terlukis melalui penggunaan warna warna yang sangat kuat dalam lukisannya.  (Made Agus Wardana)

Begini, Warga Bali rayakan Tumpek Kandang di Pura Agung Santi bhuwana, Belgia





            Menjaga keharmonisan hidup dengan semua mahluk didunia dan alam semesta merupakan sebuah amanat dalam ajaran agama hindu Bali. Umat Hindu sangatlah setia mengajarkan cinta kasih kepada seluruh ciptaan Tuhan.  Binatang ternak ataupun peliharaan diberikan hari khusus perayaan, bukan untuk disembah melainkan untuk dihormati dan disyukuri keberadaannya.

            Seperti yang dilakukan masyarakat Hindu Bali, berjumlah ratusan datang dari berbagai belahan negara Eropa secara serentak merayakan hari Raya Tumpek Kandang di Pura Agung Santi Bhuwana, Pairi Daiza Belgia Sabtu, 24 Juni 2017 lalu. Kegiatan yang dikoordinir oleh perkumpulan masyarakat Hindu Bali yaitu Banjar Shanti Dharma Belgia Luxembourg ini,  merupakan kegiatan keagamaan dan pelestarian identitas kebudayaan Bali di luar Negeri.

            Hari ini adalah hari Tumpek Kandang dimana pada hari yang baik ini, kita memuja Ida Sanghyang Widi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sanghyang Rare Angon, pengembala makhluk. Di hari ini, kita ingatkan bahwa binatang ternak ataupun peliharaan kita harus hargai, hormati dan sayangi, ujar Made Agus Wardana, Ketua atau Kelian Banjar Santi Dharma Belgia Luxembourg.


            Di pagi hari, pukul 10.00 -12.00 dilakukan persembahyangan bersama dengan sarana upacara yang dibuat secara sederhana dan sukarela oleh para ibu juru banten yang sangat kreatif menjaga semangat beryadnya (menghaturkan secara tulus iklas). Kemudian pada pukul 13.00 -15.00 diadakan acara megibung, yaitu kegiatan makan bersama, membawa makanan sendiri, dibagikan kepada masayrakat yang lain. Tradisi ini sudah menjadi rutinitas dalam setiap upacara persembahyangan yang dilakukan di Pura Ini. Harapan mereka, megibung dapat menjaga persaudaraan tanpa terusik oleh perbedaan soroh/klan, golongan dan lain-lain.

            Untuk memeriahkan perayaan Tumpek Kandang, para seniman tabuh dan tari juga menampilkan kreatifitas bermain gamelan dan tarian Bali seperti tari Pendet, Legong Keraton, Rejang, Janger dan Genjek, Panyembrama yang khusus ditujukan untuk para pengunjung Pairi Daiza. Hal menarik terjadi, ketika dilakukan interaktif gamelan dan tari Bali, mengajak warga Belgia menari Bali, sangat diminati para pengunjung yang berjubel di tempat pertunjukan seni tersebut.






            Taman Pairi Daiza sebagai taman konservasi alam, flora Fauna dan Budaya Dunia  ini terletak 85 km dari kota Brussel. Taman yang menjadi  idola masyrakat Eropa ini, dinobatkan sebagai salah satu yang terbaik di Eropa karena memuliakan peradaban budaya dunia lain, seperti hadirnya Pura Bali yang dinamakan Pura Agung Santi Bhuwana  dengan sawah berundak undaknya. (Ciaaattt)











Perayaan Galungan dan Kuningan di Wassenar Belanda


           
            Kokohnya kebudayaaan hindu Bali tidak saja tergantung kepada penyajian seni semata. Belajar gamelan dan tari sudah lazim sebagai bagian dari pelestarian budaya demi menjaga keutuhan Bali. Mendengarkan Dharma Wacana tentang bimbingan kerohanian, umatnya hanya menjadi pendengar yang baik. Kemudian merayakan hari besar keagamaan setiap 6 bulan sekali, bagi sebagian orang cukup memberatkan. Kenapa ?

            Berbeda dengan masyarakat hindu Bali di Eropa dalam upaya menjaga kokohnya budaya hindu tersebut. Melalui adaptasi dengan lingkungan sekitarnya, menyesuaikan waktu, mereka berbaur ditengah masyarakat multikultur negeri Eropa. Memberikan ruang, keterbukaan, menjalin hubungan, membagi pengalaman hingga bergotong royong.


            Pada hari Sabtu, 15 April 2017 kemarin, dalam suasana musim semi bersuhu 11 derajat masyarakat hindu Bali merayakan Galungan dan Kuningan di wisma Duta Besar, Wassenaar Belanda. Ratusan umat hindu dari Belanda, Belgia, Perancis, Inggris, Jerman,ceko, malta, Irlandia hening melantunkan Puja Trisandya dan Panca Sembah sebagai bagian dari acara persembahyangan dipagi hari. Tidak saja warga Bali, tetapi warga Eropa turut aktif melakukan persembahyangan bersama.

            Galungan dan Kuningan adalah rangkaian hari raya besar umat hindu Bali yang jatuh setiap 210 hari sekali menurut kalender Bali. Galungan selalu bertepatan dengan hari rabu (kalender Bali : Buda Kliwon Dungulan) dan Kuningan selalu bertepatan dihari sabtu (Kalender Bali : Saniscara kliwon kuningan). Galungan sebagai hari kemenangan dharma (kebenaran) melawan adharma (kebathilan). Sedangkan Kuningan sebagai rangkaian dari Galungan bermakna lebih kepada pengendalian dan intropeksi diri. Kedua hari raya ini mengingatkan kita betapa pentingnya mengucapkan puji syukur kepada Ida sanghyang widi wasa atas ciptaan alam semesta beserta isinya. 




            Hadir dalam kesempatan tersebut Bapak Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja,  masyarakat Indonesia, Friends of Indonesia, perwakilan Kementerian Luar Negeri Belanda dan para Duta Besar negara sahabat.  Dalam sambutannya, Dubes Wesaka Puja menyampaikan ucapan selamat hari raya Galungan dan Kuningan kepada seluruh  umat hindu di Eropa. 

            Pada siang hari dari pukul 13.00 – 17.00 diselenggarakan festival budaya yang bertema one day in Bali and beyond, dimeriahkan oleh pertunjukan gamelan dan tari bali, musik ethnic dan hiburan lainnya. Sebanyak empat grup gamelan yang tampil dalkam kegiatan tersebut adalah Swara Santi (Amstelveen), Sekar Alit (Leiden), Banjar Suka Duka Nederland dan Grup Gamelan Belanda – Belgia. Adapun tarian Bali yang ditampilkan adalah Rejang dewa, Barong, topeng keras, topeng Tua, Bondres, cendrawasih, margapati, legong keraton. Sedangkan penampilan musik ethnik dimainkan Reggy Aggerbeek (guitar), Ari Kurniawan (sax) dan Bli Ciaaattt (suling Bali).

                Penonton yang hadir dalam pertunjukan tersebut sangat antusias dan memberi perhatian khusus terhadap penampilan seniman yang berpartisipasi dengan kegiatan ini bahkan sangat kagum akan kekuatan budaya Hindu Bali yang begitu mempesona warga Belanda. Sepasang warga Belanda yang bernama Erik Van Rossem dan Arjanti Sosrohadikoesoemo selalu hadir disetiap kegiatan budaya Hindu Bali. Kedua Warga keturunan Indonesia ini merasa bangga diterima ditengah-tengah masyarakat Hindu lainnya walaupun mereka tidak menganut Hindu. ‘’Saya tidak saja berpartisipasi bermain gamelan Bali tetapi juga respek budaya Hindu Bali yang banyak mengandung nilai toleransi dan kedamaian,’’. Saya sangat  senang diterima dan menjadi keluarga besar masyarakat Bali di Eropa, ujar erik dan arjanti disela-sela kegiatan tersebut.


Desa kala patra,  menjaga keutuhan budaya hindu Bali

            Melihat gencarnya pengaruh budaya luar terhadap keutuhan Hindu Bali membuat banyak pihak merasa ‘’pesimis’’ dengan Bali. Mengikisnya tanah persawahan, padatnya jumlah penduduk multikultur menjadi tantangan terhadap keutuhan kebudayaan Hindu Bali tersebut. Pembangunan yang tidak terbendung, perubahan pola pikir akan kebutuhan sandang pakan papan yang setiap harinya memerlukan biaya yang sangat tinggi.

            Bagaimana dengan masyarakat Hindu Bali sendiri ? Apakah mereka mampu bertahan menjaga keutuhan Budaya Hindu Bali ditengah persaingan, gempuran budaya luar dan pariwisata ? Tidak gampang memang menjadi manusia Bali (baca Nak Bali) yang harus taat terhadap adat istiadatnya. Banyak keharusan yang mesti dijalankan. Tidak gampang pula dengan bertahan hidup dengan biaya tinggi ditengah pariwisata internasional yang serba mahal.

            Dari sekian banyak cara mengatasi tantangan tersebut diatas, sebagai ‘’nak Bali’’ barangkali kita bisa meniru model kesederhanaan kegiatan hari raya besar Hindu Bali di Eropa. Berpedoman dengan tiga kearifan lokal Bali yaitu Desa (tempat), kala (waktu), Patra (kondisi). Setiap kegiatan keagamaan disesuaikan dengan ketiga unsur tersebut. Hal ini menjadi sangat efisien dan memudahkan semua pihak tanpa mengurangi esensi kegiatannya. Sarana persembahyangan seperti banten sangat sederhana. Durasi kegiatan memerlukan waktu hanya sehari, tidak perlu berhari-hari. Dijalankan dengan hati senang, biaya murah dengan penuh makna. Ini terbukti, semakin hari semakin berkembang pesat masyarakat hindu Bali di Eropa giat melakukan ibadah yang diacarakan oleh komunitas masyarakat Hindu bali di berbagai kota besar di Eropa.







(Made Agus Wardana, tinggal di belgia)

           



Selasa, 16 Mei 2017

Konser JERUJI yang ‘’teruji’’ di Belgia



            Para komunitas hardcore punk, metal di kota Mons tadi malam terlarut dalam hentakan keras konser perdana JERUJI band asal Bandung di JOC Mons Belgia Senin, 10 April 2017. Teknis permainan para pemusik band ini tidak diragukan lagi. Skill tinggi dan kompak ditambah dengan gaya vokal shouting yang mampu menghipnotis komunitas tersebut. ‘’Saya sangat kagum dengan penampilan kalian (JERUJI), ‘’ very very good ! ujar Johan Detilleux pihak penyelengara dari Alive Records, Mons.

            JERUJI menampilkan 10 lagu original karya mereka sekaligus mempromosikan album kelima terbaru yaitu Stay True.   Gedung JOC tersesak padat oleh para komunitas tersebut sehingga meluber keluar gedung pertunjukan. Antusias penonton sangat positif dan apresiatif. Komunitas tersebut tergoyang ketika moshing/slamdancing  bergerak kesana kemari tanpa menimbulkan aksi kekerasan diantara mereka. Bahkan diakhir pertunjukan suasana kekeluargaan antar komunitas itu berlangsung dengan penuh toleransi.




            Grup Band JERUJI dibentuk pada tahun 1996 dengan beranggotakan Sani (drummer), Ginan (vokalis), Andrie (gitaris) dan bassist Hendy alias Pengex. Konser tahun ini bertajuk  JERUJI 20th Anniversary of European Tour dari tanggal 7 April – 29 April 2017. Tur Eropa ini akan menggelar konser di Belgia, Perancis, Hongaria, Polandia, Ceko, Jerman dan Austria sebanyak 20 konser yang diundang oleh Enemy Booking, Penyelenggara konser musik metal dari Eropa Timur.

            Dalam kesempatan tersebut, KBRI Brussel menyambut gembira penampilan Konser JERUJI di Belgia sebagai momentum sejarah khususnya membuktikan perkembangan para pemusik muda Indonesia.  Indonesia tidak saja memiliki khasanah budaya folklorlistik, tetapi memiliki budaya modern yang pantas diakui dunia. JERUJI salah satunya telah membuktikan diri bahwa  aliran hardcore punk, metal yang dimainkan mendapat tempat dihati warga Belgia.



             Hadir dalam konser tersebut, Ignatius Priambodo Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Brussel dan beberapa masyarakat Indonesia yang berdomisili di kota Mons. "KBRI Brussel sangat mendukung kegiatan  JERUJI 20th Anniversary of European Tour khususnya di Belgia. Penampilan Jeruji sangat luar biasa malam ini dan mudah-mudahan konser mereka di Yper akan lebih dashyat lagi," ujar Ignatius. Jeruji akan melanjutkan tur mereka ke Nantes, Prancis dan kembali tampil di Yper, Belgia tanggal 29 April 2017.


(made agus wardana )

Rabu, 10 Mei 2017

Menyambut matahari terbit di Hotel Inna Sindhu Sanur.





Pegok Sesetan tetap membuat hati saya senang.

            Kesal ! berkali-kali mencoba menyeberang jalan, tidak satupun  kendaraan yang mau berhenti. Setiap detik mobil dan motor berlalu-lalang menyemprot asap yang menusuk hidung. Suara klakson Tiiit ! berbunyi memekakkan telinga. Bau knalpot sepeda motor beradu dengan parfum para pengendaranya. Saya berhenti sejenak,  mencari tempat penyeberangan lain agar bisa lewat, sambil melirik rambu lalu lintas. ‘’Kene Gumin Cange Jani ! (Begini daerahku sekarang).  Pegok Sesetan  sebagai tanah kelahiran,  yang terletak di Denpasar Selatan ini sungguh sangat amat berbeda ketika dibandingkan tahun 1980.  Namun demikian sekesal-kesalnya saya, Pegok Sesetan tetap saja membuat hati senang.

            Pada awal Juli 2016 di Denpasar Bali, suhu udara  menyengat, mengucurkan keringat pembawa resah dan gelisah. Ketiga anak sayapun protes berat dengan suhu tersebut. Saya selalu berusaha meyakinkan mereka bahwa Bali itu lebih baik dari negeri Belgia. Maksud hati tiada lain agar lebih mencintai Bali Indonesia. Maklumlah mereka semua terlahir di Belgia, negeri yang memberikan pertumbuhan fisik, pendidikan dan  fasilitasi publik.  Berbagai cara saya lakukan untuk mempengaruhi dan menyenangkan hatinya agar mencintai Bali yang katanya dahulu kala  sering disebut Paradise

            Mungkin itulah fakta sekilas tentang apa yang saya alami di Pegok Sesetan dimana saya dilahirkan. Penduduk pendatang benar-benar membanjiri segala lini kehidupan bahkan jumlahnya telah melebihi penduduk asli. Kita sudah tidak mengenal satu sama lain.  Budaya menyapa dengan ucapan santun,  mulai terabaikan. Sedikit demi sedikit budaya Bali mulai tersaingi. Sayang beribu sayang jika budaya Hindu Bali yang penuh santun dan damai itu akan digerus pemikiran yang berorientasi serba uang dan uang.  Namun demikian, apapun gambaran fakta  tersebut, Pegok Sesetan akan tetap membuat hati saya senang.






Romantisme matahari terbit

            Pagi itu tepat pukul 06.00 pagi, saya terbangun dari tempat tidur kamar hotel Inna Sindhu Sanur beach. Kicau burung bersautan satu sama lain menjalin improvisasi melodi. Nuansa pagi yang sejuk dan asri terasa kuat. Burung-burung sepertinya  mengingatkan saya untuk segera menuju pesisir pantai sindhu. Lihatlah suasana pagi yang diidamkan banyak orang ! Bali masih cantik dan tanpa polusi.  Semakin saya mendekat semakin keras suara ombak beriak menerjang gundukan pasir.  Angin sepoi-sepoi menghanyutkan jukung atau perahu kayu milik para nelayan yang tertambat di bibir pantai. Sriaaattt ! Sriuuuttt ! bergoyang mengikuti aliran ombak yang semakin membesar.

            Disamping saya, duduk mesra sepasang sejoli warga Eropa.  Mereka menunggu detik-detik terbitnya matahari pagi, bersiap menangkap momen munculnya sang surya.  Dari kejauhan wajah Gunung Agung sebagai gunung tertinggi di Bali tampak terbayang menjulang.  Pelan-pelan namun pasti,  Jreeng !  Berangsur-angsur matahari menyeruak jingga, menyinari awan di ufuk timur jauh. Waoo, sungguh indah !
            Kecupan demi kecupan terdengar. Aduh ! Kemesraan kedua sejoli menikmati dunia cinta mereka, seakan lupa ada saya disampingnya. Pura pura tidak melihat ! Sayapun beranjak dengan kepura-puraan, malu-malu, sambil melirik ngintip, tidak mau mengganggu percintaan mereka. Momen cinta yang sangat indah, Cuiiittt ! Cuiiitttt ! Sambil menyolek pinggang istri saya, yang duduk disamping kanan, sembari melantunkan lagu pop Bali era tahun 70,-an ‘’ Nguda liman bli ne gudip sikun bli ne singgak-singguk ? (terjemahannya : Kenapa tangan kakak nakal, siku tanganmu mencolek pinggangku ? )  Sangat romantis bukan ?





Hotel Inna Sindhu Sanur

            Seandainya waktu masih mengijinkan dan uang euro saya masih tersisa, saya akan tinggal lebih lama di hotel ini. Suasana hotel yang asri, nyaman membuat rasa betah berlimpah. Pelayanan para staf hotel yang senyumnya menempel 24 jam  dan sangat professional, membujuk niat untuk kembali menginap disini. Lokasi hotel yang berada di bibir pantai, menghanyutkan bathin seakan berada ditengah kedamaian yang jauh dari hiruk pikuk suara motor dan mobil.

            Kamar hotel yang bersih, dengan fasilitas standar international lengkap dengan bar, tv kabel, wifi serta kolam renang outdoor yang dikelilingi lanskap tanaman hijau. Disinilah, anak saya mulai menyatakan  bahwa Bali itu ternyata lebih enak dari Belgia. Kita bisa bermanja di hotel, berenang sesuka hati, makan sepuasnya di warung pinggir pantai, menikmati jagung bakar, pokoknya serba ada dan murah.

            Selama tiga hari tiga malam saya memanjakan diri disini dengan harga khusus Rp 3 juta. Sarapan pagi yang dimulai pukul 07.00-10.00 menawarkan berbagai hidangan eropa dan Indonesia.  Sedangkan pada sore hari saya lebih suka menikmati aneka minuman seperti kelapa muda segar, jus dan sebagainya.  Lagi-lagi pelayanan ramah senyuman petugas Bar yang begitu membujuk niat untuk kesini. Ramah banget !

            Secara kebetulan saya bertemu dengan Ibu Ayu Ariani, manager hotel Inna Sindhu Sanur. Ibu yang ramah dan penuh semangat menyampaikan sekilas info tentang sejarah hotel ini. Hotel yang sudah berdiri sejak jaman penjajahan Belanda sampai menjadi hotel milik pemerintah Indonesia (BUMN) yang tergabung kedalam group hotel Inna. Pantesan juga para tamunya kebanyakan Eropa, yang terdengar dalam percakapan bahasa Belanda termasuk warga vlaams Belgia yang sedang menginap di hotel tersebut.







 Mari peduli sampah plastik !

            Bali sebagai pusat pariwisata di Indonesia memiliki jumlah hotel, vila berlimpah ruah seperti kacang goreng berserakan.  Entahlah, bagaimana kondisi itu bisa terjadi antara perang tarif, beradu keramahan, promosi murah meriah hingga mahal tak terjangkau. Sudah barang tentu wisatawannya bervariasi dari wisatawan yang suka ngutil membawa pulang handuk hotel, wisatawan bersahaja dan wisatawan sok jadi raja.            Mau tidak mau, suka tidak suka Bali harus menanggung beban deritanya karena pariwisata telah  merubah segalanya.

            Ketika saya berlari pagi menyusuri pantai Sanur dari ujung utara hingga selatan, saya tersentak dengan beberapa bule yang memungut sampah plastik. Dengan membawa tas ransel mereka rela memungut sampah plastik tersebut. Terlepas dari apa tujuannya, tapi itu sebuah bentuk kepedulian mereka. Bagi mereka gelas plastik yang terhempas di pesisir pantai      harus dibersihkan, daripada dimakan penyu atau ikan sekitarnya.  

            Kalau kita juga bersikap dan bertindak seperti mereka, apa kata dunia ? Bali pasti tidak akan dibuli habis-habisan.  Di satu sisi, saya juga melihat ibu-ibu lokal Bali dari dinas kebersihan pantai yang sedang aktif membersihkan plastik tersebut. Kalau kita tidak bisa melakukan tindakan seperti mereka diatas, tidak apa-apa.  Ada cara lain yang bersifat jangka panjang, yaitu pendidikan penanganan sampah kepada anak-anak kita sejak usia dini. Soalnya pendidikan untuk dewasa biasanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri, alias berlalu saja.  Kita menggantungkan harapan kepada anak-anak muda, sembari menyampaikan betapa berbahayanya plastik untuk kelangsungan kehidupan kita.

            Abad ini adalah abad ke-21. Peradaban manusia sudah berkembang sangat jauh. Kita masih jauh ketinggalan ngurusin sampah. Bingung tidak ada jalan keluar. Warga asing sudah mempersiapkan diri tinggal di Planet Mars. Pengaturan sampah sudah sangat professional di negeri mereka. Truk sampah di Eropa memungut sampah setiap 2 kali seminggu di depan rumah. Plastik sampah dibedakan, seperti di kota Brussel Belgia misalnya ; tas putih untuk sampah bio dapur, tas kuning untuk sampah kertas, tas biru untuk plastik minuman, tas hijau untuk tumbuh-tumbuhan.  Semuanya berjalan tanpa hambatan, tinggal bayar pajak tahunan rumah tangga sebesar 89 euro semua beres.


Menikmati hidup dan tetap mengkritisi  

             Pegok Sesetan membuat hati saya senang karena disana saya dilahirkan. Romantisme matahari terbit yang membawa kedamaian disitu saya rasakan. Berlibur di hotel Inna Sindhu Sanur sebagai pilihan keluarga tercinta serta perduli dengan sampah plastik merupakan  empat pengalaman nyata yang saya lihat dan alami sendiri.   Pikiran yang penat dan lelahnya jasmani mengharuskan kita meluang waktu untuk berlibur.  Berlibur tidak perlu jauh yang penting terjangkau dengan isi dompet kita.  Hiduplah yang wajar, semampunya dan dapat dinikmati. Apa yang kita lihat dan rasakan selama berlibur akan terkenang selamanya.  Begitu pula dengan turis asing jika melihat plastik berserakan mereka akan bercerita dan berbekas dihatinya. Nah, disinilah kita perlu mengkritisi apa saja yang mengganggu kenyamanan lingkungan kita, agar menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan dimasa-masa yang akan datang.  Yuk Berlibur sambil perduli lingkungan ! (made agus wardana, tinggal di belgia)