Kamis, 03 Agustus 2023

Ciaaattt...Man Kenyung menari di Amsterdam -Gamut Europe Tour 2023

 Man Kenyung girang sepanjang hari di Amsterdam


Panasnya kota Amsterdam dan cuaca yang membiru dilangit membuat wajah Karakter Topeng Nyoman Kenyung yang sering di sebut MANNYUNG gundah cerah membahana dunia. Ekpresi girang, bahwa topeng ini membawanya kembali ke negeri eropa. Tidak berlebihan bukan, modalnya hanya Suara Mulut, kemudian muncuk 2 karakter Bli Gamut dan Man Kenyung membuat mereka mendarat lagi di eropa. Kesederhaan yang membawa berkah yang mulia. Bayangkan karya seni gamut yang viral saat pandemi, dimana penderitaan seniman sangatlah menyedihkan, dilain sisi karena adanya upaya kreatif meneyababkan penderitaan sirna menjadi kebahagian. Ini artinya, dimana ada kesusahan ternyata ada pula kemuliaan. Syukurlah  !


Saya bertanya kepada seorang turis berbahasa spanyol, sepertinya dari amerika latin, dan menyampaikan tolong donk, bisa bantu saya potret. Wanita itu jawab dengan ramah, oh ya tentu saja. No Propblem. Hati saya membiru ingin meluk, tapi ada pacarnya disebelah. inilah jepretannya...yuhiiiii








Selamat man, sukses #gamuteuropetour2023, semoga ada banyak manfaatnya....Muaaach !


Ciaaattt... Menuju Amsterdam Gamut Europe Tour 2023 bag. 2

Jalan jalan dan kunjungi Amsterdam



Pada tanggal 20 Juli 2023, saya mempersiapkan diri menuju kota Amsterdam pusat kota Belanda yang penuh gemerlap turis bebas mau ngapain saja di kota ini. Dengan bermodal rasa ingin tahu yang tinggi dan rindu kota amsterdam terutama soup bebek di Restoran Man Kee persis dekat keramaian kota.

Berawal dari kota Nieuw Venep dimana saya tinggal 4 hari 4 malam di rumah sahabat family van Haarten yang begitu kuat menyayangi saya dan tentunya menjadi sponsor utama dalam kunjungan Gamut europe tour di eropa. Dari rumahnya saya berjalan menuju kota centil Neuw Vennep dan mengambil uang 100 euro dengan kartu bank BNI, ternyata berhasil. Buat siap siap beli kebutuhan sehari hari selama tinggal ditempat ini. Kota ini cantik, centil dan sederhana, ada barang murah meriah saya beli yaitu Jaket berwarna putih harganya 47 euro, sangat baik dan bagus kwalitasnya. Pokoknya bruuuttlah !




Setiba saya di  station kereta Train nieuwe Vennep saya merogoh uang recehan coin 2 euro untuk beli tiket seharga 14 euro dengan traject PP Amsterdam -Nieuw vennep. Jreeeeng sudah di train yang bersih dan modern, seperti biasa mencari wifi gratis ternyata ada nih yaitu wifi in the train. Pas, cepat, kuat sinyal dan saya pakai Live di IG. Dalam hitungan 20 menit sampailah saya di station Amsterdam Central. Sumringah, senang, kembali ke kawasan glamour yang ternyata sekarang ini ada banyak berubah. Terutama banyaknya kanal kanal Bout untuk para turis disebelah kanan dan kiri kawasan amsterdam central. Top Cer !






 

Bahagia pengen jungkir Balik ! Saya lupa berapa kali saya sudah ke kota ini, walaupun dibilang terlalu banyak prostitusi, ganja, dsbnya kota ini bagi saya adalah kota cantik dan menyenangkan. Lihat kanalnya, lihat restoran China, lihat turis dari berbagai negara, lihat kebebasan yang teratur, semua ada disini. Jangan lupa sepeda bersliweran kesana kemari bunyi kring kring setiap saat, hiruk pikuk, penuh turis. Bisa dibayangkan betapa banyak transaksi keuangan disini, ekonomi meronta tinggi, turis girang, dan awas ada banyak prostitusi. Walaupun demikian negeri punya aturan hebat, yang tidak bisa seenaknya disini. Negeri yang diatur oleh regulasi, peraturan ketat, dan dijaga polisi. Berani melanggar, denda menunggu mu. 


Ah, saya lapar ! saya berjalan menuju Zeedijk, kawasan china town, sekaligus pusat red light yang menggiurkan. Awas bisa merinding lihat gadis gadis yang menjajakan dirinya disini. disini adalah Wisata Birahi. Walaupun berseberangan dengan akuarium dengan ikan segar, saya tertuju kepada rbebek nya Restoran china Man KEE. Akhrinya saya menikmati bebek yang sudah lama tidak saya santap....hmmmnyam nyam






 














Selasa, 18 Juli 2023

Ciaaattt...Tiba di belanda Gamut Europe Tour 2023 bag 1

 Tgl 17 Juli 2023,



Perjalanan dari Denpaar Bali dengan pesawat Emirat menuju Dubai dan kemudian langsung Amsterdam. Lumayan melelahkan tapi mengasyikkan. Saya seperti penumpang pada umumnya karena sudah sering melakukan perjalanan ke eropa, biasanya kita menikmati perjalanan dengan santai tanpa buru buru.Kalau kesusu bisa tidak nyaman dan banyak pikiran. Makanya harus menikmati penerbangan, walau ada delay, turbulance, atau makanan kurang sedap, kurang tidur, atau sakit bangkiang atau pinggang, semua yang negatif hilang sejenak ketika kita berupaya menikmatinya dengan santai dan nyaman tan buru buru.



Wah, asal tahu saja pesawat dari Dubai menuju Amsterdam, pesawatnya gede banget 380. Awalnya saya pikir saya bisa duduk seenaknya dan bebas. eh, ternyata banyak penumpang datang dengan ocehan berapi api, aduh bahasa spanyol rame banget nih emak emak anak satu, sedikit menggoda tapi cerewet. Ternyata dia duduk disebelah tempatku. bikin gemes kan. Sesuatu yang kita concern kan dari awal, aduh ada orang cerewet dengan sendirinya dia berada didekat kita. Coba pikir to, kenken carane menghindar ?  Tidak bisa dihindari. ternyata dia bukan orang spanyol mas, dia orang kolombia cakep tapi ternyata baik hati. Langsungku menghindar menatapnya, karena kurennya atau suaminya disebelahku. 




Setibanya di schippol airport, saya dijemput oleh Van Haarten, sebagai sponsor kegiatanku selama 2.5 bulan melakukan tour gamut gamelan mulut di lima negara yaitu belanda, belgia, jerman dan perancis. Negara lainnya mesti jalan jalan.


Menikmati sarapan pagi selfservice dirumah Van Haarten, sesuatu banget, kangen kaas (chess ) belanda yang lezat dan bergizi. 





Sambil menulis blog, aku berpikir dan menulis apa saja yang ada di otakku....


Kamis, 22 Juni 2023

Kasihan ! Penonton berhimpitan, tidak lihat Pawai Pembukaan Pesta Kesenian Bali 2023

Cerewet ah !  Pesta Kesenian Bali 2023.





Peed Aye atau pawai Pembukaan Pesta Kesenian Bali setiap tahunnya tetap dijejali penonton yang tersesak. Mungkin sudah menjadi suratan takdir penonton selalu berhimpitan satu sama lain, ingin mengapresiasi pawai dari 9  kabupaten dan kota dengan cara seperti itu.   Terlebih lagi para keluarga yang membawa anak kecil selalu " megarang" mencari posisi tempat teduh yang nyaman. Keinginan mereka hanya satu, ingin menyaksikan Pawai Pesta Kesenian Bali langsung dari dekat bukan lewat youtube atau medsos.

Sebetulnya sebagai warga Bali, kita turut bangga melihat perjalanan pawai Pembukaan PKB hingga sekarang masih disesaki penonton. Itu artinya masih mendapat tempat dihati masyarakat dan diminati.  Kreatifitas anak muda kita secara langsung dilihat, diperhatikan, dan menjadi bahan banding perkembangan kreatifitas generasi muda dulu dan sekarang.

Namun, saya terusik dengan seorang ibu dan anak yang berdesakan  di depan panggung ( tribun) sebelah barat. Kebetulan saya di tribun sebagai undangan resmi. Saya duduk manis bersama para undangan " kursi" yang tidak bertuan. Kursi kosong berlimpah. Sayang sekali perhelatan besar PKB yang dibuka oleh Ibu Megawati Soekarno Putri tahun 2023 ini, beberapa undangan tidak hadir. Padahal panitia sudah menyediakan kursi empuk dan snack lezat dan bergizi.



Keadaan itu, ingin saya bandingkan kepada ibu anak yang tadi berhimpitan. Ingin sekali mengajak mereka untuk duduk bebas di tribun panggung sebelah barat ini.  Ah sudahlah ! Mohon maaf ya bu, saya tidak bisa membantu situasi ibu dan anak yang berhimpitan. 

Sementara itu, panas yang menyengat dan peserta pawai (peed aye) dari ISI Denpasar, 8 kabupaten dan 1 kota terlewati satu demi satu. Semua menampilkan garapan seni  musik, kriya, tari dalam sekejap mata alias buru-buru. Suguhan budaya hanya untuk para pejabat duduk manis di panggung utama, sedangkan penonton yang berjejal di sisi barat hanya lewat tanpa bekas sejenakpun. Tidak ada suguhan didepan rakyat yang  sudah berdesakan tanpa  tempat ( tribun). 

Menurut hemat saya, rakyat yang berjejal disebelah barat semestinya disuguhkan "interaktif pertunjukan" yang membuat mereka ( penonton) girang, riang dan bertepuk tangan.  Interaktif ini akan berkesan indah, dampaknya adalah image pawai yang membosankan atau monoton dari tahun ketahun dapat diminimalis dan terkesan  penuh inisiatif. 



Dan jangan lupa, tambahkan satu panggung tempat duduk ( tribun pojok) demi anak anak kita yang sudah berhimpitan ingin hadiri pawai ( peed aye) ini. Paling tidak persoalan berjejal, berhimpitan dapat dikurangi sedikit demi sedikit. 

Masalah anggaran ? Kalau ada komitmen dan skala prioritas serta pro pelayanan rakyat, saya pikir akan bisa diatasi. Harapan saya ini sangatlah konstruktif ingin menyampaikan fakta publik tentang apa yang saya amati  sejak tahun 2019 hingga kini. 

Sebagai pecinta Pesta Kesenian Bali, apresiasi tinggi tetap kita acungi jempol kepada para panitia, kurator dan jajarannya yang telah mempertahankan ajang bergengsi budaya ini selama 45 tahun. Semoga masukan dan saran ini bisa menjadi pertimbangan khusus, agar pawai PKB selalu berinovasi dan lebih atraktif. 

Made Agus Wardana 









Minggu, 12 Maret 2023

Gamut Gamelan Mulut di Paris Bagian 6

 Setelah Workshop Kecak, Olah tubuh, Olah Vokal, Menari, Berlatih karakter topeng Bali, Saya ngapain ?

Pada hari ini, tanggal 5 Oktober 2022,  Saya menuju metro Opera karena mendapat undangan bermain gamelan dalam rangka Resepsi Diplomatik KBRI Paris di Hotel Le Grand Intercontinental. Hotel Mewah tingkat dunia para raja kaya. KBRI Paris mengadakan resepsi HUT RI dengan menampilkan budaya nusantara terutama kuliner dan pertunjukan gamelan Bali.





Sebelum menuju hotel, saya sempatkan diri untuk jalan jalan diseputaran lingkungan hotel persisnya di gedung top cer yang terpampang patung patung para maestro musik klasik dari berbagai aliran.Lihat foto ya.Gedung itu bernama Palais Garnier yaitu Palais Garnier adalah salah satu bangunan di Paris, Prancis yang berfungsi sebagai gedung pertunjukkan opera. Bangunan ini didesain oleh Baron Haussmann pada tahun 1858, dan dibangun oleh Charles Garnier tahun 1861.(sumber  Wikipedia)





''maaf muka saya difoto rada bengor tidak karuan''  karena kalau lakukan selfie biasanya  muka saya mahal senyum dan tidak fokus karena banyak banget turis yang lewat. Pokoknya yang penting berfoto cekrek. Setelah jungkir balik, jalan sana sini nggak karuan saya mulai bosan dan capek berjalan jalan. Saya masuk ke dalam ruangan resepsi di hotel Intercontinental yang mewah itu.
Eh, saya bertemu dengan Pak Pupung eks Korfung KBRI Brussel yang notabene adalah atasan saya di Belgia dulunya. Sekarang di Paris Fungsi Politik dibawah pimpinan  Dubes Paris Pak Moh. Oemar. 



Foto diatas bersama Pak Pupung baju putuh dan pak dubes pakai baju hitam.

Saya diajak bermain gamelan oleh grup Puspa Warna pimpinan Theo yang beberapa tahun lalu saya sering nongkrong dan berlatih gamelan di Paris. Bermain gamelan hanya 6 orang, yah gamelan mini dapat honor diatas 100 Euro. Lumayan kan. Pokoknya asyik menyenangkan, memainkan gamelan panyembrama dan instrument santai santai gen.






Perasaan saya saat itu, senang sekali bertemu dengan teman lama di Paris, bisa bermain gamelan bersama lagi, Teman dari Paris  penabuh dan penari selalu memberi energi positif ketika saya mengunjungi  Eropa. Saya tidak pernah lupa dengan kebaikan mereka, sangat menghargai saya sebagai eks pelatih di Paris dalam rentang waktu 2015 -2017. Pokoknya kalau setiap ke Paris selalu disambut dengan hangat. Saya selalu berpikir positif bahwa  warga perancis selalu menghargai budaya Bali. Budaya tradisional yang dicintai, dikagumi dan disayanng oleh mereka yang baik hati.

Demikian pula teman saya orang Indonesia yang berada dalam grup Sekar Jagat Indonesia atau SJI dan Puspa Warna  selalu mengundang makan di restaurant. Seperti beberapa waktu lalu, kadek dan ari dari SJI dan Theo bersama keluarganya dari Puspa warna. Merci Bcp yang sahabat baik ku. Muaach !


Terimakasih dek,ary dan Ibu...? Lupa namanya.





Jumat, 10 Maret 2023

Gamut Gamelan Mulut di Paris bagian 5

 Pak Tapa Sudana yang baik hati.

Pukul 05.00 saya terbangun mempersiapkan diri untuk workshop hari ke tiga. Saya sudah tidak jet leg, semua badan saya sudah kembali beradaptasi dg suasana Eropa. Rasa makanan, bahasa, dan ada teman lama hadir di tempat saya workshop yaitu Bapak Tapa Sudana.


Beliau ikut breakfast dg membawa ayam panggang puter. Pokoknya enak. Kita banyak ngobrol kemu mai ( kesana kemari) dalam najasa Bali.  Di pagi hari sebelum workshop dimulai Pak Tapa hadir membawa rasa bali eropa.  

Mungkin tidak banyak yang mengetahu bahwa Pak Tapa adalah seorang aktor yang malang melintang di eropa. Dimasa usianya yang senja tampaknya dia super rindi dengan kehangatan Bali yang sering saya lantunkan lewat GAMUT.  Dia juga menggemari GAMUT yang sering share di YouTube. 

Saya juga sangat senang, hampir setiap pagi saya breakfast dengan beliau. Dia banyak membawa oleh oleh, makanan, keju, pokoknya terima kasih Pak Tapa yang baik hati